Penyakit Gumboro / IBD pada Ayam

Penyakit gumboro pada ayam atau yang biasa disebut juga dengan IBD ( Infeksius Bursal Disease) merupakan penyakit virus pada ayam yang menyerang bursa fabricius ayam. Sedangkan bursa fabricius sendiri merupakan suatu organ pertahanan ayam untuk menghasilkan kekebalan pada ayam, sehingga jika bursal ayam tersebut diserang penyakit gumboro maka secara otomatis penyakit lain mudah menginfeksi ayam tersebut. Dan penyakit ini juga merupakan penyebab kegagalan semua jenis vaksinasi pada ayam potong ataupun petelur, baik itu vaksin ND, vaksin IB, vaksin coriza/ snot atau vaksin-vaksin ayam yang lain. 

Gambar Penyakit Gumboro Ayam
Penyebab penyakit gumboro adalah virus avibirna, ada 2 serotipe yaitu klasik dan patogenik (vvIBD). Ada juga tipe gumboro dari galur kalkun, namun penyakit dari galur ini tidak menimbulkan penyakit pada ayam.

Penyakit gumboro ini menyerang pada ayam yang belum dewasa atau dibawah umur 12 minggu. Infeksi akut dengan galur klasik ringan atau variannya dapat menimbulkan kematian sekitar 5 % dari populasi. Variannya lebih bersifat immunosupresif dibandingkan galur klasik. Untuk virus yang vvIBD atau patogenik / ganas dapat membunuh ayam yang peka sampai dengan 50 %, sehingga hampir separuh populasi ayam bisa mati karena penyakit gumboro ini.
Virus gumboro ini bersifat immunosupresif dan memudahkan kawanan ayam diserang oleh virus dan infeksi sekunder oleh bakteri. Bakteri yang sering mengikuti adalah bakteri penyebab penyakit E.coli, pasteurella, snot, CRD dan lain-lain.

Penularan penyakit gumboro ini dapat terjadi secara kontak langsung diantara ayam muda dengan ayam yang terinfeksi pada suatu farm peternakan yang mempunyai ayam berbagai umur (umur ayam bervariasi). Dengan adanya umur ayam yang bervariasi dalam suatu farm /kandang, maka penyakit akan berputar di farm tersebut dari umur ayam yang satu ke umur ayam yang lain, demikian seterusnya sehingga penyakit ayam tersebut tidak akan tuntas ditangani/diberantas.
Infeksi tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan kandang yang terkontaminasi virus gumboro, pekerja, baju, sepatu, dan peralatan yang lain juga bisa menjadi pembawa penularan penyakit gumboro ini.

Tanda-tanda klinis penyakit gumboro
Penyakit gumboro ini memiliki ciri-ciri yang nyata yaitu tingkat kematian meningkat di 3 hari pertama, kemudian akan menurun 2 hari berikutnya. Ciri-ciri yang lain adalah diare putih, bulu ayam kasar berkerut, ayam terlihat demam.
Pada pembukaan atau bedah bangkai ayam yang terinfeksi gumboro adalah :
  • Adanya pembengkakkan bursal, dan jika di buka bursalnya akan terlihat pendarahan ptechie atau bintik-bintik merah.
  • Ginjal ayam akan membengkak dan berwarna putih pucat, akibat tingginya asam urat.
  • Adanya pendarahan subkutan atau dibawah kulit, bisa juga intramuskular. Pendarahan ini biasanya nampak di otot dada dan paha ayam.
  • Daerah gizard terdapat pendarahan, hampir mirip dengan penyakit ND ataupun Kolera Unggas, namun jika dicermati lebih mendalam terdapat perbedaan jenis pendarahannya tersebut.
Pada ayam yang sembuh dari penyakit gumboro ini, bursa fabricius akan mengalami atropi. Disinilah fungsi bursa sebagai pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri menjadi menurun atau bahkan tidak berfungsi lagi. Akibatnya penyakit radang kantong hawa (airsacculitis) dan septikemia E.coli sering dijumpai pasca terjadinya penyakit gumboro. Atau kelompok ayam tersebut akan mudah sakit-sakitan seumur hidupnya, sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak untuk mempertahankan hidupnya tersebut.
Pengobatan Penyakit Gumboro Pada Ayam, tidak ada obat khusus untuk penyakit ini, yang ada hanyalah meningkatkan stamina ayam melalui pemberian sumber energi (seperti air gula), multivitamin dan obat melancarkan ginjal dalam membuang asam urat di dalam ginjal ( seperti renil dsbnya). Pemberian obat antibiotik jenis sulfa akan memperburuk kerja ginjal dan akan meningkatkan kematian pada ayam yang terserang gumboro, sehingga antibiotik jenis tersebut tidak direkomendasikan.
Kemudian untuk pencegahan penyakit gumbor adalah vaksinasi pada umur antara 7-14 hari (tergantung tingkat keganasan virus lapangan) dan di ulang pada umur antara 20 s/d 24 hari. Umur pemberian vaksinasi juga tergantung dari titer antibodi maternal dan resiko terjadinya infeksi. Pada daerah yang patogenik (vvIBD) disarankan mengunakan vaksin yang intermediate-plus diberikan melalui air minum.
Demikian pencegahan penyakit gumboro pada ayam agar ayam kita baik itu ayam broiler/potong ataupun ayam petelur/layer terbebas dari penyakit gumboro, semoga bermanfaat....

Cara Beternak Ayam Petelur / Layer Yang Baik

Cara Beternak dan Memelihara Ayam Petelur | Penyakit Hewan. Pengetahuan cara beternak ayam petelur atau ayam layer yang baik merupakan kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha peternakan ayam petelur. Peluang usaha peternakan ayam petelur sangat menjanjikan, hal ini berkaitan dengan peningkatan jumlah populasi penduduk Indonesia dari tahun ke tahun dan tingkat konsumsi masyarakat terhadap telur ayam ras. Hampir setiap individu masyarakat Indonesia pernah mengkonsumsi telur, sehingga dapat dibayangkan jika penduduk Indonesia tahun 2012 yang berjumlah sekitar 230 juta jiwa mengkonsumsi telur seminggu sekali saja, maka telur yang dibutuhkan sekitar 13,529,412 kg telur /minggu atau sekitar 13,529 ton telur per minggu. Memang hitungan tersebut merupakan hitungan kasar, namun disini kami ingin menunjukkan bahwa peluang beternak ayam petelur di Indonesia sangat terbuka lebar dan menggiurkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masyarakat Indonesia senang dan suka makan telur ?
Ada beberapa alasan orang senang mengkonsumsi telur yaitu harganya murah, memiliki rasa yang khas dan enak, telur memiliki gizi yang lengkap, telur memiliki protein hewani yang tinggi, bahkan sebagian orang Indonesia ada yang mengkonsumsi telur sebagai obat kuat dan lain-lain.
Sudah banyak orang yang sukses dan kaya raya dari hasil beternak petelur, mereka-mereka yang sukses tersebut berawal dari ternak ayam petelur yang sedikit, mulai dari 1000 ekor sampai akhirnya bisa mencapai 100.000 ekor bahkan ada yang mencapai 500.000 ekor ayam petelurnya. Rata-rata keuntungan dari beternak ayam petelur dalam 1000 ekor adalah 1 juta per bulan (hitungan ini hanya berdasarkan hasil telur dikurangi biaya pakan dan operasional), sehingga jika kita mempunyai 10.000 ekor ayam petelur maka dalam satu bulannya kita bisa mendapatkan keuntungan sekitar 10 juta. Namun jangan salah, hasil itu belum dikurangi biaya pullet dan penyusutan kandang lho... Tapi jangan khawatir, jika dikalkulasikan dalam 1 periode beternak ayam petelur atau sekitar 18 s/d 24 bulan maka modal usaha ini akan menjadi 2 kali lipat, artinya dari segi kelayakan usaha dan bunga bank masih bisa menguntungkan.
Untuk mencapai keberhasilan dalam usaha beternak ayam petelur ini, kami berusaha memandu anda melalui artikel ini, sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kami selama ini di lapangan. Mudah-mudahan melalui tulisan ini banyak orang Indonesia menjadi berminat untuk beternak ayam petelur dan menjadi sukses dari ternak ayam petelur tersebut.

Cara Beternak Ayam Petelur Atau Ayam Layer

Hal pertama yang dibutuhkan adalah kandang ayam petelur, ada dua jenis kandang ayam petelur yaitu kandang liter dan kandang bateray. Kandang liter digunakan untuk DOC sampai dengan umur ayam sekitar 14 minggu. Kemudian untuk kandang bateray dipergunakan untuk ayam berumur 14 minggu ke atas. Biasanya ayam petelur mulai belajar bertelur umur 16 minggu, sehingga di umur 14 minggu ayam petelur itu sudah dapat di naikkan atau dipindah ke kandang bateray untuk persiapan dan adaptasi ayam tersebut. Kandang bateray ini berbentuk kandang individu bisa berisi 1 ekor atau 2 ekor dalam satu kotaknya. Untuk satu kandang satu ekor ukuran kandangnya adalah sekitar 40x25x42 cm (p x l x t). Kandang ini juga bisa dibuat tingkat seperti contoh dalam gambar ini.
kandang ayam petelur
Kandang Ayam Petelur

Pemilihan DOC ayam petelur
Sebelum anda melangkah lebih jauh tentang cara berternak ayam petelur maka perlu diperhatikan mengenai DOC atau Day Old Chick (anak ayam umur sehari) yang sehat dan standar yaitu :
  • DOC memiliki gerakan yang lincah dan gesit
  • DOC tidak mengalami omphalitis.
  • DOC memiliki berat yang seragam dengan berat sekitar 35-40 gr
  • DOC tidak cacat
  • DOC memiliki bulu dan pertumbuhan yang bagus
  • DOC memiliki nafsu makan yang baik
  • DOC tidak diare atau adanya kotoran yang melekat pada anusnya.
Disamping itu anda harus hati-hati karena salah dalam memilih ras / strain jenis ayam petelur akan menyebabkan rasa penyesalan dikemudian hari, karena ada jenis ras ayam petelur yang bersifat kanibal (senang mematuk anus ayam lain). Sehingga carilah ayam petelur yang memiliki sifat tidak kanibal. Kanibal pada ayam petelur ini bisa menyebabkan penurunan telur dan penyebab kematian pada ayam petelur.

Ransum Makanan Ayam Petelur
Untuk konsumsi ransum pakan ayam petelur di bedakan menjadi 3 jenis pakan yaitu pakan stater, pakan grower, dan pakan layer. Kadar Protein untuk ayam stater yang paling bagus adalah 21 %, untuk ayam grower kadar proteinnya sekitar 14-15 %, sedangkan untuk kadar protein ayam layer yang paling bagus adalah 17 %. Kadar protein di pakan ayam petelur merupakan hal yang paling terpenting, karena proses produksi telur sebagian besar dari protein pakan tersebut, walaupun ada faktor pendukung lainnya seperti kecukupan sinar atau cahaya dan asam amino esensial bagi ayam petelur, juga jangan lupa keseragaman berat badan ayam grower. Jika hal tersebut diatas terpenuhi maka untuk mencapai produksi telur 90 % di umur 23-35 minggu akan mudah dicapai.
Jumlah konsumsi untuk ayam layer (ayam yang sudah betelur) berkisar antara 110 gr - 120 gr dengan kadar protein 17 % dan kadar energi 2.900 kkal. Pemberian pakan sebaiknya 2- 3 kali dalam sehari dalam jam yang sama dalam setiap harinya, demikian juga dengan pengaturan cahaya. Perlu diketahui bahwa sinar cahaya merupakan stimulus atau perangsang ayam petelur yang berada di retina ayam untuk memberikan signal kepada otak agar segera menghasilkan hormon untuk pertumbuhan sel telur di ovarium ayam peterlur tersebut, sehingga pengaturan cahaya dalam usaha peternakan ayam petelur sangat penting.

Penyakit-Penyakit Pada Ayam Petelur
Penyakit ayam petelur yang paling sering terjadi adalah :
Penyakit ND atau tetelo, penyakit coryza (snot), gumboro (IBD), CRD (Chronic Respiratoric Disease), E.coli, Kolera Unggas atau berak hijau, Infeksius Bronchitis (IB), cacingan, flu burung dan lain-lain. Akan kami bahas satu persatu di lain waktu.
Demikian pula dengan program vaksinasi untuk ayam petelur akan kami bahas dikesempatan lain.
Sedangkan untuk manajemen kesehatan ayam petelur yang harus diperhatikan adalah peningkatan biosekuriti pada area kandang ayam petelur. 
Biosekuriti pada peternakan ayam petelur seperti :
  • Orang yang tidak berkepentingan tidak sembarangan dapat keluar masuk ke kandang / farm ayam petelur.
  • Melakukan desinfeksi dan dekontaminasi terhadap peralatan, kandang, lingkungan area kandang dan sekitarnya secara teratur.
  • Pemberantasan dan pengendalian vektor penyakit seperti tikus dan lalat.
  • Tidak diperkenankan ada ayam liar atau ayam buras/lokal/kampung ataupun burung yang berkeliaran di area kandang.
  • Pengawasan dan desinfeksi terhadap keluar masuknya orang, mobil, peralatan, pakaian pekerja.
  • Pengunaan klorin untuk menjernihkan air dan membunuh bakteri yang sering berada di air minum ayam petelur.
Kemudian untuk pemberian vitamin dan antibiotik pencegahan dapat diberikan setiap satu bulan sekali, untuk pengelontoran atau flusing penyakit bakterial selama 3 hari berturut-turut. Untuk pengobatan cacing bisa mengunakan albendazole setiap 2 bulan sekali. Perlu diketahui bahwa cacing dalam usus ayam petelur akan menganggu penyerapan makanan, sehingga protein yang ada dalam pakan tidak terserap semuanya dalam tubuh ayam. Hal ini akan berdampak tidak optimalnya pembentukan telur ayam. Disamping itu, cacing itu juga dapat menyebabkan terjadinya immunosupresif atau biasa juga disebut penyakit yang bisa menurunkan tingkat kekebalan tubuh. 
Banyak peternak ayam petelur yang tidak menyadari bahwa penyakit cacing ini dapat menyebabkan turunnya tingkat kekebalan tubuh terhadap penyakit, dan cacing ini pulalah yang sering bertanggungjawab terdapat kebocoran program vaksinasi ayam petelur.

Untuk sementara demikian mengenai sekilas info cara beternak ayam petelur atau layer yang baik, semoga dapat bermanfaat.

Cara Melakukan Desinfeksi Kandang Ayam

Setelah kita mengetahui jenis desinfektan, maka kami berusaha meng up load cara melakukan desinfeksi pada kandang ayam. Cara desinfeksi ini bisa digunakan untuk kandang ayam pedaging/broiler/potong ataupaun ayam ras petelur.
Pengosongan seluruh kandang dan dekontaminasi seluruh unit dan sekelilingnya pada akhir dari setiap siklus pemeliharaan ayam pedaging/potong/broiler, ayam petelur, dan pembibit akan bermanfaat dalam meningkatkan daya hidup dan kinerja pada pemeliharaan berikutnya.
Cara Desinfeksi Kandang Ayam
Berikut ini prosedur cara melakukan desinfeksi kandang ayam agar bebas dari penyakit.
  • Permukaan liter dan bagian bawah dinding sisi hendaknya di semprot dengan insektisida karbamat.
  • Litter sebaiknya dikumpulkan ditengah kandang untuk memudahkan pembuangan baik secara manual maupun dengan alat seperti sekop, kemudian dimasukan kedalam kantong-kantong atau diangkut dalam bentuk curah ke tempat tertentu untuk dijadikan kompos atau tempat pembuangan kotoran.
  • Peralatan sebaiknya dilepas bagian-bagiannya dan dikeluarkan dari kandang untuk dibersihkan dan didesinfeksi.
  • Unit-unit listrik, motor, alat pengerak atau pengubah arah dibersihkan dengan semprotan bertekanan tinggi dan diberi gemuk untuk melindungi peralatan terhadap kerusakan akibat air.
  • Lantai kandang ayam harus disapu dan dibersihkan dari sisa-sisa litter.
  • Dekontaminasi kandang dilakukan dengan menyemprotkan deterjen yang mengandung ion pada konsentrasi yang sesuai dengan yang direkomnedasikan oleh pabrik pembuatnya. Penyemrotan kandang ini dimulai dari bagian luar kandang ayam seperti atap kandang, dinding, saluran pembuangan air, dan tempat-tempat pelayanan. Pada bagian dalam kandang dimulai dari langit-langit, dinding dalam dan kemudian lantai.
  • Bangunan bagian dalam dan peralatan yang disemprotkan tadi kemudian dibilas dengan air dan sisa-sisa larutan deterjen dibiarkan ikut terbuang melalui saluran pembuangan air.
  • Bagian dalam kandang kemudian disemprot dengan larutan amonium kuarterner atau desinfektan yang mengandung fenol dengan konsentrasi yang sesuai dengan petunjuk pembuatnya. 
  • Larutan insektisida karbamat 2 % hendaknya disemprotkan pada bagian langit-langit, dinding dan lantai kandang untuk mengendalikan kumbang atau serangga lainnya.
  • Peralatan sebaiknya dilepas bagian-bagiannya dan perwatan tuntas harus dilakukan secara rutin guna mencegah kerusakan. Bahan litter yang bersih dan kering (serutan kayu, kulit kacang, sekam dan serbuk gergaji) sebaiknya disebar setebal 3-10 cm diatas lantai kandang.
  • Untuk kandang pembibitan harus di segel dan difumigasi dengan formalin yang dihasilkan dari pemanasan paraformaldehida atau campuran formaldehida dengan kalium permanganat. Alat pengkabut juga dapat digunakan untuk menyebar formalin dalam bentuk aerosol ke seluruh kandang. perlu diingat bahwa formalin adalah senyawa toksik dan berkemampuan karsinogenik, sehingga dibutuh alat dan pakaian yang mampu melindungi petugas yang melakukan desinfeksi dan fumigasi tersebut. Selain itu harus dibuat ketentuan baku dalam bentuk Standar Opersional Prosedur (SOP) dalam menjalankan dekontaminasi kandang ayam demi keberhasilan desinfeksi dan keamanan petugas.
  • Saluran air dan air minum harus mengalir dengan baik dan bersih. Senyawa amonium kuartener dengan pengenceran 1:2000 dapat digunakan, atau bisa juga memakai larutan klorin dengan dosis 1 liter klorin konsentrasi 6 % dicampur 50 liter air. Ini berguna untuk mengelontor dan membersihkan bakteri dan virus patogen pada air minum dan saluran pembuangan air.
  • Pengendalian redensia ( binatang pengerat seperti tikus) harus selalu dilakukan antara lain dengan menutup lubang tikus dan memberi umpan racun.
Demikian cara melakukan desinfeksi kandang ayam dan lingkungannya agar usaha peternakan ayam kita bisa bebas dari penyakit dan meminimalkan biaya obat pemeliharaan.

Jenis Desinfektan Untuk Ayam

Anda tahu kan apa itu desinfektan....? Jika ada yang belum tahu, akan kami coba jelaskan dulu disini, desinfektan adalah suatu zat yang berguna untuk menghapushamaan / penghancuran terhadap bakteri, virus, jamur, protozoa atau jasad renik organisme patogenik. Proses desinfeksi ini merupakan faktor utama keberhasilan dalam usaha peternakan ayam, baik untuk ayam pedaging ataupun ayam petelur. Tujuan desinfeksi pada kandang ayam adalah menghilangkan atau membersihkan jasad renik yang berbahaya bagi kesehatan ayam peliharaan kita. Perlu diketahui bahwa kandang yang bersih belum tentu steril, artinya bahwa walaupun kandang nampak bersih menurut pandangan mata kita, jika di uji secara laboratorium akan terlihat ternyata banyak sekali organisme pengganggu yang patogenik. Jika kondisi kandang ini dibiarkan seperti itu maka yang terjadi adalah ayam menjadi sering terserang penyakit, butuh biaya pengobatan yang banyak dan menyebabkan kematian pada ayam kita sehingga menimbulkan kerugian yang luar biasa bagi usaha kita. 
Solusi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah menerapkan sistem biosekuriti salah satu caranya adalah desinfeksi kandang dan peralatan ayam.
contoh biosekuriti
Ada beberapa jenis desinfeksi untuk ayam yang dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan, lokasi dan terbilang sangat ampuh untuk saat ini. Desinfektan tersebut adalah :
  1. Kresol, merupakan desinfektan yang dibuat dari destilasi minyak bumi, merupakan biosida yang murah dan efektif bila digunakan untuk bangunan dan tanah. Senyawa ini tidak boleh digunakan apabila terdapat ayam hidup, telur, atau daging yang diproses, karena dapat menyebabkan pencemaran pada produk ayam tersebut.
  2. Fenol organik, sangat cocok digunakan untuk tempat penetasan ( hatchery) untuk mendekontaminasi peralatan.
  3. Senyawa amonium kuartener, sangat dianjurkan untuk mendeokontaminasi kandang ayam, peralatan termasuk tempat makan dan minum ayam, dan didalam tempat penetasan.
  4. Senyawa klorin, zat ini banyak digunakan di Rumah Potong Hewan (RPH) atau di Rumah Potong Ayam (RPA). Selain untuk desinfeksi di RPH, klorin juga sering digunakan untuk menjernihkan air minum di peternakan ayam. Dosis yang digunakan untuk air minum tidak boleh lebih dari 5 ppm.
  5. Formalin, merupakan senyawa kuat yang korosif dan berpotensi karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker. Formalin ini cocok untuk memfumigasi telur yang akan ditetaskan didalam lemari yang dirancang khusus. Perlu ektra hati-hati bagi petugas yang mengunakan formalin agar tidak mengenai dirinya dan mengakibatkan perlukaan.
Dalam memilih desinfektan perlu diperhatikan tentang karakteristik kimiawi, toksisitas dan biaya aplikasinya.
Demikian jenis desinfektan untuk ayam, semoga dapat bermanfaat.

Pengobatan Penyakit Cacar Pada Ayam

Pengobatan Penyakit Cacar Pada Ayam | Penyakit Hewan. Sebelum kita membahas pengobatan dan pencegahan penyakit cacar pada ayam maka terlebih dahulu kita pahami tentang penyakit ini. Penyakit cacar ayam atau yang biasa disebut fowl pox atau fowl diphteria adalah penyakit menular pada unggas (ayam, burung, bebek, entok dsb), ditandai dengan adanya bungkul-bungkul pada kulit atau lesi difteritik pada selaput lendir mulut dan esophagus.
Penyakit cacar ayam ini bisa menyerang semua jenis ayam dan bisa terjadi pada berbagai umur. Ayam yang terserang termasuk ayam lokal / buras, ayam bangkok, ayam petelur, ayam ketawa dan ayam kate.
Penyakit cacar ayam ini disebabkan oleh Avipoxvirus-3 dari famili Poxviridae dengan gejala klinis yang di timbulkannya adalah sebagai berikut :
  • Masa inkubasi penyakit cacar ayam ini sekitar 5-7 hari.
  • Pada kasus ringan, nafsu makan dan minum ayam masih baik. Tetapi pada kasus berat, penderita akan mengalami depresi, nafsu makan dan minum akan menurun.
  • Berdasarkan lokasi lesinya, ada tiga bentuk penyakit cacar ayam ini, yaitu : bentuk kulit (cutaneus), difteria dan bentuk roup. Pada bentuk kulit, ditandai dengan adanya bungkul-bungkul cacar dengan ukuran yang bervariasi pada pangkal paruh, kelopak mata, kulit kepala, jenger, pial, kulit kaki dan jari kaki. Bungkul-bungkul tadi dapat menutupi mata ayam penderita. Bentuk kulit ini biasanya dijumpai pada ayam muda.
  • Pada bentuk difterik, terdapat lesi yang berupa material seperti keju pada mukosa mulut, esofagus, larynx dan trachea. Sedangkan pada bentuk roup, ditandai dengan adanya lesi pada rongga hidung dan trachea sehingga sering menyebabkan gangguan pernafasan unggas seperti pada penyakit snot/coriza.
  • Gejala klinis jika terjadi pada anak ayam, maka pertumbuhan anak ayam menjadi terhambat.
  • Jika penyakit cacar ini menyerang pada ayam petelur,  maka produksi telurnya menurun.
Pada perubahan Patologi Anatomi yang terlihat pada ayam yang terserang penyakit cacar adalah adanya bungkul-bungkul cacar pada mulut/paruh, jenger, pial, kulit kepala. Disamping itu juga terdapat perubahan pada mukosa mulut, yaitu adanya material difterik berwarna putih keabu-abuan sampai kekuningan seperti keju. Lesi tersebut dapat meluas sampai ke esofagus atau trachea.
Penyakit cacar unggas ini dapat menyerang dan menginfeksi berbagai jenis unggas dan burung di semua umur. Umur ayam yang paling peka terhadap cacar unggas ini adalah umur muda, umur dibawah satu bulan dan sering menimbulkan kematian, ini disebabkan karena kesulitan menelan makan.
Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung antara penderita dengan ayam sehat, atau bisa juga ditularkan secara mekanis yaitu melalui serangga.
Untuk mendiagnosa penyakit cacar ini didasarkan pada gejala klinis dan patologi anatomi. Sedangkan di laboratorium dilakukan dengan cara mengisolasi virus cacar dan pemeriksaan histopatologi ( adanya badan inklusi yang bersifat eosinofilik intrasitoplasmi) dan uji serologi.
Penyakit lain yang mirip dengan penyakit cacar ayam dan sering menjadi diagnosa banding adalah pada bentuk difterik cacar ayam, mirip dengan gejala ILT (Infeksius Laringotracheitis). Pada bentuk roup, mirip dengan penyakit gejala snot/coryza.
Pengobatan cacar ayam 
Pada dasarnya tidak ada pengobatan, tetapi bungkul-bungkul cacar bisa diambil selanjutnya ditempat bekas bungkul tersebut diolesi yodium tinktur. Cara ini bisa menolong penderita secara individual. Cara lain adalah mengubah bungkul cacar untuk dijadikan vaksin dan di suntikan ke ayam penderita.
gambar cacar pada ayam
Sedangkan untuk pencegahan yang harus dilakukan adalah :
  1. Ayam penderita harus segera dipisahkan dari ayam yang sehat.
  2. Kandang ayam dan peralatan yang tercemar dibersihkan dan disuci hamakan dengan desinfektan atau disemprot dengan insektisida untuk mengurangi lalat.
  3. Lakukan vaksinasi cacar pada anak ayam.
Meterial Untuk Pemeriksaan Laboratorium
  • Spesimen yang dapat dikirim untuk tujuan isolasi virus di laboratorium adalah potongan kulit yang memperlihatkan bungkul-bungkul cacar. Spesimen ini dimasukkan ke dalam botol yang berisi bahan pengawet atau media transport.
  • Untuk pemeriksaan histopatologi dapat dikirim kulit yang berisi lesi pox dalam formalin 10 %.
Demikian artikel penyakit cacar ayam beserta pengobatan dan pencegahannya ini, semoga bermanfaat.

Penyakit Newcastle Disease (ND) Pada Ayam

Penyakit Newcastle Disease atau ND pada unggas biasa juga disebut penyakit tetelo, sampar ayam. Penyakit ini menyerang berbagai unggas seperti ayam ras petelur, ayam bangkok, ayam broiler/pedaging, ayam buras/kampung, ayam serama, ayam ketawa, bebek, entok, burung dara, burung jalak, atau burung-burung yang lain.Penyakit ini sering terjadi pada saat pergantian musim dari kemarau ke musim hujan, namun tidak menutup kemungkinan terjadi disaat musim-musim hujan. Jika di Indonesia kejadian penyakit ND/Tetelo ini sering terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Maret, untuk itu bagi peternak ayam atau unggas harus berhati-hati.
Gambar ND Pada Ayam
Penyakit ND Pada Ayam
Penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit pernafasan dan sistemik yang sangat menular pada ayam, ditandai oleh adanya gejala tortikolis ( kepala ayam terpelintir pada kasus ND neurotropic), diare putih kehijauan, serta tingginya angka kematian penderita.
Penyakit ND menunjukkan adanya suatu variasi yang sangat besar dalam bentuk dan derajat keparahan penyakit. Pengamatan dilapangan menunjukan bahwa pada setiap kasus ND selalu ditemukan gejala pernafasan walaupun dalam bentuk campuran dengan gejala gangguan saluran pencernaan ataupun gangguan syaraf.
Penyakit ND ini juga merupakan suatu penyakit yang bersifat kompleks oleh karena isolat dan strain virus yang berbeda dapat menimbulkan variasi yang besar dalam derajat keparahan dari penyakit, termasuk pada spesies unggas yang sama, misalnya ayam.
Ayam-ayam yang terserang penyakit ND ini adalah ayam-ayam yang tidak pernah dilakukan vaksinasi ND, titer kekebalan virus ND dalam darah ayam rendah, strain vaksin tidak sesuai dengan virus lapangan, atau adanya penyakit immunosupresif yang mampu menurunkan kekebalan terhadap penyakit ND.
Penyakit tetelo / ND ini disebabkan oleh Paramyxovirus-1 (NDV-1) dari famili Paramyxoviridae. Ada tiga tipe virus ND yaitu tipe velogenik ( terdiri dari subtipe neurotropic, pneumotropic dan viscerotropic), mesogenik dan lentogenik. Dari tiga tipe tersebut, yang mampu menimbulkan wabah dengan kematian yang sangat tinggi pada ayam adalah tipe velogenik.
Gejala Klinik Penyakit ND

Berdasarkan gejala klinik yang timbul pada ayam, maka penyakit ND dapat dibagi atas 5 bentuk, yaitu Doyle, Beach, Beaudette, Hitchner dan enterik asimtomatik.
Bentuk Doyle ditandai adanya infeksi yang bersifat akut dan fatal pada ayam semua umur. Bentuk ini tersifat oleh adanya gangguan pencernaan akibat pendarahan dan nekrosis pada saluran pencernaan sehingga dikenal dengan nama ND velogenik viserotropik (VVND).
Bentuk Beach ditandai oleh adanya infeksi yang bersifat akut dan kerap kali bersifat fatal pada ayam semua umur. Gejala yang nampak adalah adanya gangguan pernapasan dan syaraf, sehingga disebut ND velogenik neurotropik.
Bnetuk Beaudette merupakan suatu bentuk ND velogenik neurotropik yang kurang patogenik dan biasanya kematian hanya ditemukan pada ayam muda. Virus ND penyebab infeksi pada bentuk ini tergolong tipe patologik mesogenik dan dapat dipakai sebagai vaksin aktif untuk vaksinasi ulangan terhadap ND.
Bentuk Hitchner ditandai oleh adanya infeksi pernafasan yang ringan atau tidak tampak, yang ditimbulkan oleh virus dengan tipe patologik lentogenic, yang biasanya digunakan sebagai vaksin aktif.
Bentuk enterik asimtomatik terutama merupakan infeksi pada usus, yang ditimbulkan oleh virus ND tipe lentogenik. Bentuk ini tidak menimbulkan suatu gejala penyakit tertentu. 
Secara Umum penyakit ND sebagai berikut. 
  • Masa inkubasi penyakit ND atau masa mulai masuknya bibit penyakit ND sampai dengan menimbulkan gejala adalah berkisar 2 - 7 hari.
  • Ayam terlihat lesu, nafsu makan berkurang atau menurun atau hilang sama sekali, tetapi nafsu minum tinggi atau meningkat.
  • Jengger atau pial berwarna pucat kebiruan ( sianosis), suaranya ngorok dan sulit bernafas (megap-megap) disertai keluarnya leleran berlendir dari paruh.
  • Pada kasus ND yang bersifat neurotropik biasanya menimbulkan gejala syaraf yang ditandai dengan kelumpuhan, leher terpuntir (tortikolis) dan sayap terkulai lemas.
Patologi Anatomi Penyakit ND
  • Perubahan patologi anatomi pada ayam yang terserang ND/ Tetelo adalah adanya pendarahan pada alat-alat pencernaan, seperti proventrikulus, ventrikulus dan usus halus. Bentuk perdarahan dapat berupa perdarahan ptecie atau ekimose. Gejala Patognomonis ditunjukan pada perdarahan di seka tonsil dekat sekum ayam/unggas. 
  • Limpa membesar, kongesti dan kadang-kadang atropi, ini dapat diamati pada akhir perjalanan penyakit ND.
  • Hati membesar dan kongesti.
  • Paru-paru meradang, kantong udara (air sac) menebal dan suram.
  • Nekrosis dan ulser atau biasa disebut keropeng pada alat saluran pencernaan seperti usus.
Epidemiologi Penyakit ND
  • Penyakit ND ini memiliki tingkat morbiditas ( angka kesakitan) sangat tinggi yaitu sekitar 90-100% dengan angka kematian ayam hampir 100 %.
  • Biasanya wabah penyakit ND terjadi pada masa musim peralihan, dari musim panas ke musim hujan atau sebaliknya, yaitu pada saat ayam mengalami stress.
  • Hampir semua jenis unggas ( ayam, itik, angsa, termasuk juga bangsa burung seperti kakatua, beo, merpati, nuri dan lain-lain) peka terhadap penyakit ND ini.
  • Penyakit ND dapat ditularkan melalui kontak langsung antara unggas yang sakit dengan yang sehat. Disamping itu penularan juga terjadi secara kontak tidak langsung seperti, antara unggas sehat dengan orang, bahan-bahan/alat-alat, debu, udara yang tercemar virus ND.
Diagnosa Penyakit ND
  • Diagnosa penyakit ND didasarkan pada gambaran epidemiologi, gejala klinis dan perubahan patologi anatomi.
  • Diagnosa definitif dilakukan dilaboratorium dengan mengisolasi virus ND, melakukan uji serologis dan pemeriksaan histopatologi.
Diagnosa Banding
Kecuali angka morbiditas dan angka kematian ayam penderita yang tinggi penyakit ND sering sulit dibedakan dengan penyakit unggas lainnya yaitu Infeksisus Bronchitis (IB), Infeksius Laryngotracheitis (ILT), Cronic Respiratory Disease (CRD), Coryza /Snot, Avian Encephalomyelitis, kolera unggas dan penyakit gumboro.

Pengobatan Penyakit ND/Tetelo
Tidak ada pengobatan penyakit ND, namun berdasarkan hasil pengalaman lapangan bahwa untuk menyelamatkan sebagian unggas adalah dilakukan Revaksinasi ND. Kemungkinan antara ayam yang hidup dan mati adalah 50 : 50. kematian bisa lebih bisa kurang dari perbandingan tersebut tergantung dari tingkat keparahan dalam kandang satu flok.

Program Pencegahan Penyakit ND
Untuk mencegah terjadinya penyakit ND adalah dengan program vaksinasi ND dimulai umur 4 hari (vaksin live + kill), 18 hari (live), 4 minggu (live) dan 4 bulan (live+kill). Untuk program selanjutnya agar titer kekebalan ND tetap tinggi dan stabil didalam darah ayam makan setiap 2 bulan sekali dilakukan booster vaksinasi ND.
 

PENYAKIT FOWL CHOLERA ( Kolera )PADA AYAM

gambar kolera unggas/ayam
Fowl cholera (avian cholera, avian pasteurellosis, avian hemorrhargic septicemia) merupakan suatu penyakit bakterial yang mudah menular dan menyerang berbagai jenis unggas, termasuk ayam. Penyakit ini biasanya bersifat septisemik akut, yang ditandai oleh adanya morbiditas dan mortalitas yang tinggi, yang disertai oleh perdarahan yang ekstensif dan perubahan septisemik lainnya, walaupun bentuk kronis kerap kali juga muncul. 
Di lndonesia, penyakit ini dikenal dengan nama kolera unggas, avian pasteurellosis  merupakan kelompok penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh kuman Pasteurellae dan bakteri lain yang mirip Pasteurellae. Bakteri penyebab pasteurellosis meliputi pasteurellosis multocida, Yersenia pseudotuberculosis dan Pasteurella (Moraxella)anatipestifer. Pasteurella hemolytica dan Pasteurella gallinarum jarang yang bersifat patogenik pada unggas. 

Kejadian Penyakit 
Kolera Unggas biasanya ditemukan secara sporadik atau enzootik pada berbagai negara di dunia yang memelihara unggas. Di Indonesia. penyakit ini ditemukan secara sporadik di berbagai daerah pada peternakan ayam pedaging, petelur maupun pembibitan. Penyakit ini cenderung muncul pada lokasi/kandang yang sama. 
Kalkun adalah jenis unggas yang paling peka terhadap kolera unggas. Itik dan angsa juga sangat peka terhadap penyakit ini. Ayam dewasa atau ayam dara pada fase terakhir perlumbuhan (pullet) lebih sering terserang kolera dibandingkan dengan ayam yang lebih muda, walaupun ayam muda juga peka terhadap penyakit ini. Kolera unggas biasanya menyerang ayam yang berumur lebih dari 6 minggu. meskipun penyakit ini sering juga ditemukan pada ayam yang lebih muda, misalnya ayam pedaging. 
Kejadian penyakit ini sangat erat hubungannya dengan berbagai faktor stres, misalnya pergantian cuaca yang mendadak, fluktuasi temperatur dan kelembapan, pindah kandang, potong paruh, perlakuan vaksinasi yang berlebihan, pergantian pakan yang mendadak dan terserang penyakit imunosupresif ataupun penyakit parasiter. Pada berbagai daerah padal ternak ayam diindonesia, misalnya di Jawa dan Sumatra Utara, penyakit ini paling sering ditemukan pada periode musim kemarau panjang atau pada awal pergantian musim kemarau ke musim hujan. 

Kolera unggas disebabkan oleh Posteurella multocida, yang merupakan bakteri gram-negatif, non-motil, tidak membentuk spora dan berbentuk batang tunggal, berpasangan atau kadang sebagai cincin atau filamen. Organisme ini tercat bipolar dan dapat tumbuh secara aerobe maupun anaerobe. Berdasarkan atas bentuk koloni dari Pasteurella multocida, dikenal 3 galur, yaitu koloni yang halus dan terkapsulasi (sangat virulen), koloni mukoid (moderat virulen), dan koloni yang kasar dan terkapsulasi (kurang virulen), yang menyebabkan infeksikronis/pasteurellosis lokal. Disamping itu terdapat juga galur tidak virulen yang bersifat tidak patogenik.
Kemampuan Pateurella multocida untuk menginvasi dan bermultiplikasi di dalam hospes tergantung pada kapsul yg mengelilingi organisme tersebut. Jika kapsul itu hilang , maka virulensinya juga akan hilang. Walaupun demikian, bagian yang berperanan didalam kapsul tsb hanya beberapa subtansi kimia saja.
Pasteurella multocida ini tahan hidup didalam tanah, litter (alas kandang) atau bahan-bahan yang membusuk selama beberapa bulan. Walaupun demikian, bakteri ini dapat dibunuh dengan mengunakan desinfektan, kekeringan dan sinar matahari secara langsung. Kuman ini dapat dibunuh pada temperatur 56oC selama 15 menit dan pada temperatur 60oC selama 10 menit. Larutan 1 % formalin, fenol, NaOH, beta-ptopiolakton atau glutaraldehida dan larutan 0.1 % benzalkonium klorida dapat membunuh sekitar 440 juta kuman Pasteurella multocida dala waktu 5 menit pada temperatur 24o C.

Cara Penularan Kolera Unggas
Kolera pada unggas dapat menimbulkan penyakit pada ayam, kalkuk, itik, angsa, burung liar, burung peliharaan dan unggas air. Di antara berbagai jenis unggas yang dapat terinfeksi Pasteurella multocida, hewan kalkun merupakan jenis unggas yang paling sensitif.
Cara penularan kuman ini dalam suatu flok sulit ditentukan. Ayam yang menderita kolera unggas secara kronis merupakan sumber penularan penyakit paling penting. Penularan penyakit dapat terjadi melalui leleran hidung, mulut, atau kotoran ayam sakit. Penularan melalui udara tidaklah begitu penting, yang paling dominan penularan melalui air minum atau tempat air minum. Ayam yang bertindak carrier akan membawa kuman kolera didalam cavum nasi dan bagian lain saluran pernafasan bagian atas, sehingga pada waktu minum, kuman tersebut akan mencemari air minum atau tempat air minum.
Selain melalui air minum, penularan kolera pada ayam bisa terjadi melalui pakan, tempat pakan, alat pengangkut dan pekerja baik secara kontak langsung maupun tidak langsung. Penularan juga bisa melalui memakan bangkai ayam mati karena penyakit kolera.
Manusia bisa terinfeksi oleh kolera unggas / ayam ataupun merupakan sumber infeksi bagi unggas melalui leleran hidung maupun mulut.

Gejala Klinik Kolera Unggas

Kolera unggas merupakan salah satu penyakit yang mempunyai variasi paling besar dalam gejala klinik dan lesi yang ditimbulkannya. Manisfestasi penyakit ini dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, yaitu perakut, akut, kronis dan lokal. Walaupun demikian, gejala yang dapat diamati secara jelas adalah bentuk akut dan kronis. Masa inkubasi dari penyakit hewan ini adalah berkisar 3-9 hari.

PENYAKIT INFECTIOUS CORYZA PADA AYAM

Infectious coryza (snot) merupakan suatu penyakit pernapasan pada ayam, yang disebabkan oleh bakteri dan dapat berlangsung akut sampai kronis. Secara umum snot dikenal sebagai penyakit yang menyebabkan kematian rendah tetapi morbiditasnya tinggi. Penyakit ini bersifat sangat infeksius dan terutama menyerang saluran pernapasan bagian atas. Penyakit ini merusak saluran pemapasan bagian atas, terutama rongga hidung. Snot mempunyai arti ekonomis yang penting dalam industri perunggasan sehubungan dengan peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan berat badan, penurunan produksi telur (10% - 40%), dan peningkatan biaya pengobatan.

A. Kejadian Penyakit

Infectious coryza merupakan penyakit yang mempunyai dampak ekonomik yang merugikan pada industri perunggasan di berbagai negara di dunia, meliputi Amerika, Eropa, Australia, Afrika dan Asia. Di Indonesia, penyakit ini dapat ditemukan di berbagai daerah, hampir pada setiap periode pemeliharaan ayam (pedaging maupun petelur). Kasus snot terutama ditemukan pada saat pergantian musim (kemarau ke hujan atau sebaliknya) atau selama periode curah hujan yang tinggi. Penyakit ini sulit diberantas oleh karena faktor-faktor pendukungnya sulit dihilangkan, sehubungan dengan kondisi manajemen peternakan dan cuaca di Indonesia, misalnya sistem perkandangan (ventilasi kurang memadai, jarak kandang sempit, kepadatan kandang dan kadar amoniak yang tinggi), umur ayam yang bervariasi dalam satu lokasi dan fluktuasi temperatur dan kelembapan yang cenderung tinggi.

B. Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh Haemophilus paragallinarum, yang merupakan bakteri gram-negatif, berbentuk batang pendek atau coccobacilli, tercat polar, non-motil, tidak membentuk spora, fakultatif anaerobe dan membutuhkan faktor - V. 
Haemophilus paragallinarum merupakan organisme yang mudah mati atau mengalami inaktivasi secara cepat di luar tubuh hospes. Eksudat infeksius yang dicampur dengan air ledeng akan mengalami inaktivasi dalam waktu 4 jam pada temperatur yang berfluktuatif. Eksudat atau jaringan yang mengandung kuman ini akan tetap infeksius selama 24 jam pada temperatur 37o C, bahkan kadang-kadang dapat bertahan sampai 48 jam. Pada temperatur 4 oC eksudat infeksius dapat bertahan selama beberapa hari. pada temperatur 45- 55o C, kultur Haemophilus paragallinarum dapat di inaktivasi dalam waktu 2-10 menit. cairan embrio yang infeksius yang diberi larutan 0,25 % formalin akan mengalami inaktivasi dalam waktu 24jam pada temperatur 6 oC. 
Haemophilus paragallinarum terdiri atas sejumlah strain dengan antigenitas yang berbeda dan paling sedikit 3 serotipe, yaitu A, B dan C telah dikarakterisasi secara terperinci. Walaupun serotipe A dan C dikenal sebagai serotipe yang paling virulen, hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa serotipe B juga mempunyai peranan pada kejadian infectious coryza

C. Cara Penularan 

Di samping ayam, penyakit ini juga telah ditularkan pada burung merak, ayam mutiara, dan burung puyuh. penularan hanya terjadi secara horizontal: ayam yang menderita infbksi kronis atau carrier merupakan sumber utama penularan penyakit. Infectious Coryza terutama ditemukan pada saat pergantian musim atau berhubungan dengan adanya berbagai jenis stres, misalnya akibat cuaca, lingkungan kandang, nutrisi, perlakuan vaksinasi dan penyakit imunosupresif.
Penyakit ini dapat menular secara cepat dari ayam satu ke ayam lainnya dalam satu flok atau dari flok satu ke flok lainnya. Penularan secara langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam sakit atau carrier dengan ayam lain yang peka. Penularan dapat juga terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan pakan atau berbagai bahan lain, alat/perlengkapan peternakan ataupun pekerja yang tercemar bakteri penyebab Infectious Coryza (misalnya ,eleran tubuh/ayarn sakit). Penularan melalui udara dapat juga terjadi, jika kandang ayam letaknya berdekatan sehingga udara yang tercemar debu/ kotoran yang mengandung kuman Haemophilus paragallinarum dihirup oleh ayam yang peka. Penularan kuman ini melalui burung liar telah dilaporkan oleh beberapa ahli.

D. Gejala Klinik

Infectious Coryza dapat ditemukan pada ayam semua umur, sejak umur 3 minggu sampai masa produksi. Ayam dewasa cenderung bereaksi lebih parah dibandingkan dengan ayam muda. Penyakit ini tersifat oleh masa inkubasi yang pendek, antara 21 - 16 jam, kadang-kadang sampai 72 jam, dengan proses penyakit yang dapat berlangsung 6 -14 hari, tetapi dapat juga berlangsung beberapa bulan (2 - 3 bulan). Pada ayam dewasa, masa inkubasi biasanya lebih pendek, tetapi proses penyakitnya cenderung lebih lama. Pada kondisi lapangan, snot kerapkali ditemukan secara bersama-sama dengan penyakit lainnya, misalnya chronic repiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), infectious laryngotracheitis (ILT), kolibasilosis dan.fowl pox. Pada keadaan tersebut biasanya mortalitas akan lebih tinggi dan prosesnya juga akan lebih lama. 
penyakit snot pada ayam
Infectious Coryza (snot)
Gejala yang paling awal adalah ayam bersin, yang diikuti oleh adanya eksudat sereus sampai mukoid dari rongga hidung ataupun mata. Jika proses penyakit berlanjut, maka eksudal yang bening dan encer tersebut akan menjadi kental (mukopurulen sampai purulen) dan berbau busuk / tidak sedap dan bercampur dengan kotoran/sisa pakan. Kumpulan eksudat tersebut akan menyebabkan pembengkakan di daerah fasial dan sekitar mata. 
Jika daerah yang membengkak ditekan dengan jari, maka akan terasa empuk. pada sejumlah kasus, dapat dijumpai adanya pembengkakan pada pial, terutama pada ayam bibit jantan (parent stock). Kelopak mata biasanya terlihat kemerahan, yang kerapkali menyebabkan mata menjadi tertutup. Jika saluran pemapasan bagian bawah terkena, maka akan terdengar suara ngorok yang "halus", yang biasanya hanya terdengar pada malam hari. Ayam yang terserang snot akan mengalami gangguan nafsu makan dan minum yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan, peningkatan jumlah ayam yang diafkir ataupun penurunan produksi telur. Ayam yang terserang penyakit ini kerapkali akan mengalami diare. Jika proses penyakit berlangsung kronis, maka dapat terjadi komplikasi dengan bakteri lain ataupun virus.
Infectious coryza biasanya rnenyebabkan morbiditas tinggi, tetapi mortalitas rendah. walaupun demikian, beberapa strain Haemophilus paragallinarum yang sangat virulen telah dilaporkan menyebabkan mortalitas yang tinggi. Berbagai faktor tertentu, misalnya sistem perkandangan yang kurang memadai, infestasi parasit dan keadaan nutrisi yang kurang baik akan meningkatkan derajat keparahan dan lamanya proses penyakit. Ayam yang sembuh dari infeksi akan mempunyai suatu derajat kekebalan tertentu terhadap infeksi ulangan dengan Haemophilus paragallinarum. Pullet (ayam dara) yang telah terinfeksi dengan kuman tersebut selama periode grower biasanya akan mempunyai antibodi terhadap Haemophilus paragallinarum yang dapat melindungi terhadap penurunan produksi. Kekebalan terhadap infeksi ulangan dapat terjadi sejak 2 minggu setelah infeksi awal secara buatan melalui sinus. Kekebalan pasif terhadap Haemophilus paragallinarum belum diketahui secara pasti.

E. Perubahan Patologik

l. Perubahan makroskopik

Biasanya terbatas pada saluran pernapasan bagian atas. Penyakit ini akan menyebabkan peradangan kataralis akut pada membrana mukosa kavum nasi dan sinus. Kerapkali akan ditemukan adanya konjungtivitis kataralis dan edema subkutan pada daerah fasialis dan pial. Pada penyakit ini, jarang ditemukan adanya peradangan pada paru dan kantong udara.

2. Perubahan mikroskopik

Perubahan histopatologik pada kavum nasi, sinus infraorbitalis dan trakea meliputi deskuamasi, desintegrasi dan hiperplasia lapisan mukosa dan glandularis; edema, hipermia, infiltrasi heterofil, mast cell dan makrofag di daerah tunika propria. Jika infeksi meluas ke saluran pernapasan bagian bawah, maka akan ditemukan adanya bronkopneumonia akut, yang ditandai oleh adanya infiltrasi heterofil di antara dinding parabronki.

F. Diagnosis

Diagnosis sangkaan dapat didasarkan atas gejala klinik dan perubahan patologik yang ditimbulkan oleh snot. Diagnosis pasti dapat dilakukan dengan isolasi dan identifikasi kuman dari kasus snot pada stadium akut (l - 7 hari pasca-infeksi). Diagnosis snot dapat juga dilakukan secara in vivo dengan cara inokulasi pada ayam yang sensitif menggunakan eksudat dari sinus ayam sakit atau suspensi kultur kuman Haemophilus paragallinarum. Metode lain untuk mendiagnosis penyakit ini adalah secara serologik dengan uji agar gel presipitation (AGP), uji hemaglutinasi inhibisi (HI), uji hemaglutinasi (HA) tidak langsung dan uji fluorescent antibody (FA) langsung. Penyakit yang mirip dengan snot, adalah SHS, CRD, IB, ILT dan fowl pox. Sehubungan dengan kemungkinan adanya infeksi campuran antara snot dengan bakteri lain atau virus maka jika terjadi mortalitas yang tinggi dan proses penyakit yang lama, maka kemungkinan tersebut perlu dipertimbangkan

G.  Penanggulangan

I. Pengobatan

Berbagai jenis antibiotik dan antibakteri telah dipakai untuk mengobati snot, namun banyak di antara obat tersebut yang hanya mengurangi derajat keparahan dan lamanya proses penyakit tanpa mengatasi penyakit ini secara tuntas. Hal ini kerapkali mengakibatkan adanya sejumlah ayam yang menjadi carrier. Penyakit ini cenderung kambuh lagi, jika pengobatan dihentikan; jika pengobatan dilakukan secara berulang, maka kemungkinan akan timbul resistensi terhadap obat tertentu. Penggunaan obat dalam bentuk kombinasi yang bersifat sinergestik atau obat golongan flumekuin maupun kuinolon lebih menjanjikan. Di samping pemberian obat, maka diperlukan juga rehabilitasi pada jaringan yang rusak dengan pemberian multivitamin ataupun peningkatan nilai nutrien dari pakan; menghilangkan faktor pendukung terjadinya snot dan tindakan sanitasi/desinfeksi untuk menghilangkan sumber infeksi.

2. Pengendalian dan pencegahan

Sehubungan dengan kenyataan bahwa ayam carrier merupakan sumber infeksi, maka perlu dihindari untuk membawa pullet atau ayam lain yang mungkin terinfeksi/membawa kuman Haemophilus paragallinqrum ke dalam lokasi peternakan yang tidak terinfeksi. Jumlah kelompok umur dalam suatu lokasi peternakan sebaiknya dikurangi untuk menghindari penularan penyakit dari ayam tua ke ayam muda (memutuskan siklus penularan kuman penyebab snot). Praktek pengamanan biologis yang ketat perlu dipertahankan, misalnya sanitasi/desinfeksi yang ketat, sistem perkandangan yang memadai dan istirahat kandang yang cukup (sekitar 2 minggu). Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin inaktif sekitar umur 8 - 1l minggu dan 3 - 4 minggu sebelum produksi (sekitar umur 17 minggu). Pemberian vaksin inaktif sebelum perkiraan timbulnya kasus dan sebelum produksi telur, yang didukung oleh praktek manajemen yang ketat kerapkali memberikan hasil yang menjanjikan. Pada keadaan ini, walaupun kejadian snot tidak dapat diatasi secara tuntas, namun derajat keparahan kasus yang timbul biasanya lebih rendah. Kasus yang demikian pada umumny'a akan bereaksi baik terhadap pengobatan. Sehubungan dengan kenyataan bahwa vaksin snot hanya memberikan kekebalan silang yang minimal di antara/antara berbagai serotipe Haemophilus paragallinarum, maka vaksin yang terbaik seharusnya yang bersifat otogenus atau homolog dengan kuman penyebab snot yang terdapat di lapangan. Namun, pada kondisi lapangan, hal ini sulit dikerjakan dan membutuhkan biaya yang tinggi.

Demikian semoga bermanfaat.



Support : DMCA Protection | Penyakit Hewan
Copyright © 2013. PENYAKIT HEWAN - All Rights Reserved
Kontak Kami
Template Modify by PENYAKIT HEWAN
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger