Obat Tradisional Diare Pada Kambing

Dewasa ini obat tradisional atau yang sering disebut juga dengan obat herbal banyak digunakan untuk mengobati penyakit pada manusia, di hewanpun demikian, bahkan sudah lama obat tradisional ini digunakan oleh nenek moyang kita dalam rangka mengobati penyakit-penyakit pada ternaknya. 
Berikut ini adalah bagaimana mengobati diare atau mencret pada kambing dengan obat tradisional atau herbal. Namun sebelum itu kita bahas dahulu mengenai pengertian dan penyebab diare atau mencret pada kambing.

Diare pada kambing merupakan suatu keadaan dimana kambing yang mengalami sakit mencret. Diare pada ternak khususnya kambing merupakan sebuah tanda atau gejala klinis dari sebuah penyakit  yang bisa disebabkan oleh berbagai penyebab.

Pada dasarnya diare atau mencret pada kambing adalah sebuah gejala klinis yang menunjukkan adanya perubahan fisiologis dan patologis di saluran pencernaan kambing mulai dari lambung/rumen sampai ke usus. Gejala yang bisa kita perhatikan dari mencret meliputi perubahan bentuk material kotoran kambing termasuk keras lembeknya feses, warna dan bau feses, serta ada tidaknya bahan yang ikut terbawa di dalam feses pada waktu kotoran kambing tersebut keluar. Untuk itu harus dibedakan gejala yang terjadi karena pengobatannya pun akan berbeda. 

Penyebab Diare atau Mencret Pada Kambing
Penyebab timbulnya diare pada ternak kambing dapat dibedakan menjadi 2 yakni :

1. Karena Adanya Perubahan Fisiologis  Usus Kambing
Gejala mencret atau diare pada kambing yang terjadi akibat perubahan fisiologis merupakan diare yang disebabkan karena perubahan lingkungan ternak seperti adanya perubahan pakan kambing, perpindahan ternak kambing dari lokasi satu ke lokasi yang lain, adanya perubahan cuaca, dan adanya pergantian pemeliharaan kambing.
Ciri-ciri kambing yang mengalami mencret karena terjadi perubahan fisiologis adalah :
  • Tubuh kambing masih terlihat sehat (tidak pucat dan tidak lesu)
  • Kambing masih mau makan
  • Feses atau kotoran kambing lembek sampai berbentuk cair tanpa disertai perubahan lainnya dalam arti feses tersebut tidak berbau, tidak berlendir atau disertai bercak darah dan tidak ada segmen-segmen cacing.
 
Untuk mengobati diare/mencret pada kambing dengan kondisi seperti itu adalah dengan tidak melakukan perubahan yang mendadak dalam hal pakan, perpindahan lokasi kandang dan sebagainya agar ternak tidak stres. Kemudian perlu juga adanya penambahan cairan tubuh yang hilang akibat mencret pada kambing tersebut maka disarankan untuk diberikan cairan elektrolit terutama air, bikarbonat, sodium dan potassium atau larutan garam agar tidak terjadi dehidrasi yang lebih lanjut. Untuk mengatasi stress pada kambing perlu diberikan vitamin B-Komplek agar nafsu makan dan fungsi metabolisme kambing bekerja dengan baik.
Berikut disajikan resep cairan elektrolit yang dapat digunakan sebagai pertolongan pertama untuk mengatasi mencret pada kambing :

• 1 sachet agar agar bubuk
• 2 sendok garam
• 2 sendok soda kue/baking soda/sodium bicarbonate/NaHCO3
Yang paling dikhawatirkan untuk diare ini adalah adanya infeksi sekunder, untuk itu pengunaan obat antibiotik yang efektif bekerja di saluran pencernaan dapat digunakan.

2. Mencret Pada Kambing Karena Penyakit/Agen Infeksi

Diare dapat juga disebabkan oleh agen mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus ataupun parasit. Gejala klinisnya yang ditimbulkan dari agen penyakit atau mikroorganisme patogen didalam usus kambing adalah :
  • Kambing mengalami diare profus, merupakan diare yang terjadi secara terus-menerus
  • Feses kambing lembek sampai cair, berwarna gelap/kehitaman, berbau busuk, kadang disertai lendir, bercak darah/segmen cacing yang keluar dari lubang anus
  • Tubuh kambing nampak kurus, pucat, lemah dan lesu
  • Dari mata dan hidung kambing keluar kotoran mata/eksudat / lendir
  • Bulu kambing nampak kasar, kaku dan rontok
  • Nafsu makan kambing menurun drastis
  • Kambing akan sering merejan atau merintih kesakitan akibat sakit mencret tsb.
  • Punggung kambing akan terlihat melengkung
  • Jika kambing berjalan akan sempoyongan atau bahkan sampai ambruk
Pengobatan untuk ternak kambing yang terkena diare/mencret dengan gejala klinis seperti di atas adalah dengan cara :
  1. Mengganti cairan tubuh yang hilang dengan cairan elektrolit sebagai pertolongan pertama
  2. Pemberian obat mencret untuk menghentikan gejala diare atau mengatasi penyebab diare. 
Berikut ada beberapa obat tradisional atau herbal yang dipercaya masyarakat dapat digunakan untuk mengobati diare pada kambing, baik anak kambing maupun kambing dewasa dengan gejala diare yang masih dalam tahap stadium awal, obat herbal itu adalah :

a. Bahan : arang tempurung kelapa
Cara membuat :
- Tumbuk halus arang tempurung kelapa.
- Ayak, lalu tampung dalam wadah yang mudah disimpan.

Cara Pengobatan
Untuk mengobati kambing berikan sebanyak 5-7 gram per oral 3 kali sehari selama 5 hari berturut-turut.

b. Bahan : Minyak kelapa
Cara Pengobatan :
Minumkan 50-70 ml minyak kelapa untuk pengobatan seekor kambing

c. Bahan : daun jambu biji 
Cara pengobatan : diberikan secara langsung maupun bisa ditumbuk sebanyak 50-70 gr x 3 kali sehari selama 5 hari berturut, ditambahkan sedikit air lalu diminumkan ke ternak. 

d. Daun nangka maupun buah nangka yang masih muda dan baru tumbuh diberikan secara langsung maupun ditumbuk dan dicampur sedikit air lalu diminumkan ke ternak

e. Jamu diare pada kambing yang lain adalah campuran dari  temu ireng, kunir,
kencur, lempuyang dan tempe busuk masing-masing 50 gram yang telah dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam plastik kemudiann didiamkan selama 1 malam lalu diperas. Hasil perasan jamu tersebut diminumkan 3 kali sehari..

f. Obat tradisional untuk diare atau mencret pada kambing yang lain adalah campuran dari lempuyang 1 biji, gula pasir 100 gram lalu tambahkan 1 liter air masak dan diminumkan ke ternak dengan dosis 100 ml/ekor 3 kali sehari.

Agar diare tidak menularkan kepada kambing lain maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
  • Memisahkan kambing dara dan kambing yang lebih dewasa, karena tingkat imunitas dari anak kambing yang dilahirkan kambing dara secara umum lebih rendah daripada anak kambing yang dilahirkan oleh kambing dewasa.
  • Hindari tempat melahirkan yang basah dan lembab, proses kelahiran dapat dilakukan di padang penggembalaan apabila cuaca dan tempat memungkinkan. 
  • Lingkungan ideal untuk melahirkan adalah padang/lapangan rumput yang tidak terlalu curam, tersedia penahan angin (windbreak), cuaca hangat dan kering. Ingatlah bahwa penyebab diare adalah udara lembab, dingin, basah dan lingkungan yang kotor.
  • Apabila melahirkan di tempat yang sempit, apabila kondisi memungkinkan, pindahkan induk dan anak ke lapangan rumput yang bersih segera setelah melahirkan. Lindungi anak kambing (dengan kandang portable) dari udara dingin, hujan atau serangan binatang buas
  • Isolasi anak kambing yang diare/mencret secepat mungkin. Bersihkan dan desinfeksi lingkungan kandang. Isolasi sedini mungkin sangat kritis untuk menghindari penyebaran diare pada anak kambing lain.
  • Pastikan induk dan anak dalam kondisi yang baik, terapkan program pakan dan nutrisi untuk memastikan ternak tumbuh sehat dan kuat.
  • Berikan larutan iodine (betadine, atau minimal obat merah) pada ari ari anak kambing, sedini mungkin setelah anak kambing dilahirkan.
  • Mintalah saran kepada dokter hewan mengenai perawatan kesehatan yang dapat diberikan untuk kambing anda.
  • Jika dengan obat tradisional tersebut diatas tidak menujukan tanda-tanda kesembuhan, maka segeralah hubungi dokter hewan terdekat.
Demikian mengenai macam-macam jenis obat tradisional untuk mengobati diare atau mencret pada kambing. Semoga dapat bermanfaat.

Konsultasi Penyakit Hewan Online


Selamat datang di Konsultasi Penyakit Hewan Online, Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang penyakit hewan anda di sini. Untuk itu kami berharap agar Anda mengisi form isian dibawah dengan benar, lalu klik submit.
Konsultasi ini bersifat gratis, artinya tidak dipungut biaya apapun dan kami tidak mengambil keuntungan apapun dari konsultasi penyakit hewan ini.
Jawaban yang akan kami kirim ke E-Mail Anda berupa Diagnosa, Analisa Penyakit, Solusi dan Saran Pengobatan. Sehingga jika alamat e-mail anda tidak benar (salah ketik, kurang hurup, email tidak terdaftar dsb) maka jawaban tidak terkirim (failure notice), maka pastikan alamat email anda di ketik dengan benar.

Syarat dan Ketentuan :
  • Ketepatan diagnosa kami tidak 100 % benar, karena kami tidak memeriksa sendiri kondisi fisik hewan dan gejala kliniknya, serta tidak ada hasil uji laboratorium baik itu uji feses/tinja maupun uji darah, sehingga tingkat ketepatan diagnosa dibawah 100 %. 
  • Diagnosa yang kami berikan berdasarkan pendekatan gejala klinik yang terjadi pada hewan anda sesuai informasi yang Anda berikan kepada kami. Sehingga jika anda memberikan informasi yang salah maka diagnosa-nya-pun akan salah juga dan menyebabkan obatnya juga akan salah.
  • Diagnosa yang kami berikan bukan untuk di adu dengan diagnosa dokter hewan lain. 
  • Diagnosa dan Saran Pengobatan ini bersifat GRATIS, maka tidak ada kewajiban dari kami untuk langsung menjawab pertanyaan Anda. Mungkin bisa 1 atau beberapa hari kemudian jawaban kami kirim ke Anda, tergantung dari kesibukan kami di dunia nyata (mohon maaf dan harap maklum)
  • Saran pengobatan yang kami berikan tidaklah mengikat artinya boleh dilakukan, boleh juga tidak dilakukan. 
  • Kesalahan pemberian obat baik cara, aplikasi, jenis obat sehingga menyebabkan hewan mengalami cidera, luka atau bahkan bisa meninggal baik karena penyakit itu sendiri atau karena obat, bukan menjadi tanggungjawab kami. Semua itu menjadi tanggungjawab Anda sendiri. Jika anda setuju silahkan isi form dibawah, namun jika Anda tidak setuju harap jangan isi form di tersebut. 
  • Dengan mengisi form dibawah berarti anda telah menyetujui syarat dan ketentuan dari konsultasi penyakit hewan online.
Catatan Penting : 
Diagnosa dan Pengobatan akan lebih tepat jika Hewan Anda langsung diperiksa oleh Dokter Hewan di Klinik Hewan atau di tempat praktek yang mempunyai peralatan medis yang lengkap beserta hasil uji lab.


Cara Mengobati Sapi Keracunan Urea

Keracunan urea pada hewan ternak sapi merupakan kejadian yang sering terjadi di petani. Ini dapat dimaklumi karena sapi sangat menyukai urea, sehingga kesalahan sedikit saja dalam pemberian urea yang berlebih pada sapi akan menimbulkan dampak penyakit yang luar biasa dan bisa menyebabkan kematian pada sapi tersebut.
sapi keracunan ureaUrea sangat dibutuhkan oleh sapi untuk meningkatkan metabolisme pencernaan, terutama pada pakan yang mengandung protien rendah atau pakan yang sulit dicerna oleh sapi contohnya jerami, biji kapas, ataupun sekam padi. Dengan pemberian urea pada pakan tersebut maka daya cerna didalam rumen sapi akan semakin meningkat. Namun jika pemberian terlalu banyak maka akan menimbulkan keracunan urea. Pemberian urea untuk ternak sapi tidak boleh melebihi 25 g / hari untuk bobot sapi 300 kg.

Bagaimana Gejala klinis sapi atau kambing yang keracunan urea ?
Gejala klinis atau tanda-tanda keracunan urea pada sapi / kambing adalah keluarnya air liur berlebih sampai keluarnya busa dari mulut sapi / kambing, perut sapi membesar, kembung akibat terbentuknya gas didalam rumen,  sapi gemetar, sapi atau kambing terengah-engah akibat adanya edema paru-paru, lama-kelamaan sapi akan rubuh dan dapat menimbulkan kematian. 
Kemudian jarak munculnya gejala klinis keracunan setelah mengkonsumsi urea yang berlebih pada sapi adalah 20 sampai 90 menit. Namun gejala tersebut bisa lebih cepat, dan harus segera untuk ditangani dengan baik agar tidak menimbulkan kerusakan organ lainnya. Kerusakan organ tubuh akibat keracunan urea adalah rusaknya rumen, edema paru-paru, dan kerusakan susunan saraf pusat. Kematian dapat terjadi 2 jam setelah sapi tersebut mengkonsumsi atau memakan urea berlebih.

Bagaimana Pengobatan Keracunan Urea Yang Efektif ?
Cara mengobati keracunan urea pada sapi atau domba adalah dengan cara memberikan larutan asam asetat 5 % yang dimasukan kedalam lambung. Contoh larutan asetat adalah asam cuka. Untuk sapi diberikan 2 sampai 8 liter asam cuka, sedangkan untuk domba 0,5 - 2 liter asam cuka. Tujuan pemberian asam asetat atau cuka adalah menonaktifkan pembentukan NH3 yaitu dengan cara membentuk amonium asetat yang sangat dibutuhkan oleh rumen sapi atau kambing. Setelah pemberian asam cuka, kemudian masukan air es dengan suhu kira-kira 0-4o C kedalam rumen. Tujuan pemberian air es ini adalah untuk memperlambat aktivitas urease dan mencairkan media peraksi serta mendinginkan rumen sapi atau kambing. Kuraslah isi lambung dengan mengunakan selang.
Kemudian jika terjadi kembung maka jalan yang harus ditempuh adalah dilakukannya trocart kedalam lambung tersebut.
Setelah kondisi sapi berangsur-angsur membaik maka hal terakhir yang harus dilakukan adalah menganti cairan isi rumen yang dikuras tadi dengan isi rumen sapi lain yang sehat sebagai inokulum bakteri yang menguntungkan, disamping adanya penambahan bubur jerami atau dedak / bekatul.
Keberhasilan pengobatan keracunan urea ini tergantung dari kecepatan pertolongan pada sapi tersebut. Semakin cepat, akan memberikan hasil yang positif.
Demikian cara mengobati, menangani sapi atau kambing yang keracunan urea. Semoga bermanfaat. 

Jenis Penyakit Pada Hewan Yang Berbahaya Bagi Manusia

Penyakit pada hewan banyak ragamnya, mulai dari yang menular dan berbahaya sampai yang tidak berbahaya bagi manusia. Hewan diciptakan untuk berdampingan dengan manusia dan dapat digunakan untuk kesejahteraan umat manusia, namun perlu juga diketahui bahwa ada suatu penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
Penularan penyakit pada hewan yang secara langsung kepada manusia biasanya adanya interaksi/ kontak secara langsung, baik itu melalui luka ataupun hanya sentuhan kecil saja dapat menyebabkan penularan penyakit kepada manusia. Contoh yang sering terjadi adalah pada kasus rabies, dimana kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing, kucing ataupun kera yang sedang menderita positif rabies.
Sedangkan penularan penyakit hewan kepada manusia secara tidak langsung adalah biasanya melalui makanan atau peralatan yang terkontaminasi penyakit tersebut. Contohnya adalah penyakit antrax, penyakit ini menular kepada manusia melalui makanan daging yang terinfeksi antrax ataupun adanya luka pada tubuh manusia yang tertempel pada bakteri/ spora antrax.
Penyakit hewan yang dapat menular kemanusia disebut penyakit zoonosis atau dapat juga diartikan penyakit menular yang ditularkan secara alamiah dari hewan domestik atau hewan liar ke manusia. Secara garis besar penyakit zoonosis dibagi menjadi 2 yaitu Emerging zoonosis dan Re emerging zoonosis.
Emerging zoonosis adalah penyakit hewan yang baru muncul, dapat terjadi dimana saja di dunia ini dan dampaknya dapat berpotensi begitu parah, contohnya adalah : Ebola virus dan Bovine Spongiform Enchepalopathy (BSE)/sapi gila.
Sedangkan Re emerging zoonosis adalah penyakit yang sudah pernah muncul di masa lalu, tapi kemudian menunjukkan tanda meningkat kembali di masa ini, contohnya adalah : Avian Influenza (AI), Rabies.
Jumlah penyakit zoonosis di dunia saat ini adalah 1.415 spesies organisme penyakit yang patogen bagi manusia (217 virus dan prion, 538 bakteri dan rickettsia, 307 fungi, 66 protozoa dan 287 parasit cacing). Dari jumlah tersebut 872 (61,6% bersumber dari hewan) yang terdiri dari 616 (70,6%) dari ternak, 476 (77,3%) menyerang multi spesies dan 132 (75%) bersifat zoonosis.
Untuk pemicu terjadinya Re emerging zoonosis adalah iklim yang cocok, habitat, kepadatan populasi sering menyebabkan peningkatan alamiah penyakit di suatu wilayah geografis tertentu selama beberapa waktu.
Sedangkan pada Emerging zoonosis tidak dapat diprediksi kapan hal tersebut terjadi dan setiap penyakit baru muncul dari sumber yang tidak disangka sebelumnya. Pemicu terjadinya Emerging zoonosis adalah dipengaruhi faktor lalu lintas hewan, ekologi, deforestsasi, pertumbuhan populasi manusia, perdagangan bebas, perusakan habitat hewan serta perubahan peternakan dan teknologi produksi. Berikut adalah jenis-jenis penyakit pada hewan berbahaya yang dapat menular ke manusia di Indonesia :
  1. Penyakit Rabies
  2. Penyakit Flu Burung
  3. Penyakit Antrax
  4. Penyakit Scabies
  5. Penyakit Brucellosis
  6. Penyakit Salmonellosis 
  7. Penyakit Cysticercosis/Taeniasis
  8. Penyakit TBC
  9. Penyakit Leptospirosis
  10. Penyakit Toxoplasmosis
  11. Penyakit Clostridium tetani (Tetanus) 
Penyakit-penyakit pada hewan tersebut diatas merupakan penyakit yang sering terjadi di Indonesia, sehingga kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis perlu di tingkatkan. Peran dokter hewan dalam menangulangi penyakit zoonosis sangatlah penting, namun saat ini profesi dokter hewan masih dianggap sepele oleh kalangan tertentu. Perlu diketahui bahwa dokter hewan berperan sebagai pertahanan pertama dalam menjamin keamanan kesehatan manusia dari penularan penyakit dari hewan baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu juga dalam hal keamanan pangan asal hewan seperti daging, telur, dan susu beserta olahannya. Dokter hewan bertanggungjawab agar produk asal hewan tersebut aman untuk dikonsumsi oleh manusia, mulai dari pemeliharaan hewan tersebut, proses pemotongan, proses pengolahan bahan asal hewan bahkan sampai dengan transportasi hewan harus dibawah pengawasan dokter hewan. Hal ini dilakukan agar penularan tidak sampai meluas ke daerah-daerah lain.
Kita semua tahu bahwa, daging, susu dan telur bukanlah barang mewah lagi bagi bangsa Indonesia, namun siapa sangka jika didalam produk yang mengandung nilai gizi dan protein tinggi tersebut bisa mengandung bahaya mengancam yaitu penyakit foodborne disease yang disebabkan penyakit zoonosis dari hewan.
Demikian jenis penyakit pada hewan yang berbahaya bagi manusia dan sering terjadi di Indonesia. Semoga dapat bermanfaat.

Pengobatan Cacing Pada Sapi, Kelinci dan Kambing

Siklus Hidup Cacing Hati
Berbagai jenis dan merk obat cacing untuk ternak sapi dan kambing yang di jual di pasaran, sehingga kita terkadang bingung harus memilih obat cacing yang mana. Perlu diketahui bahwa jenis obat cacing untuk semua hewan termasuk sapi, kambing, domba ataupun kelinci mempunyai karakteristik dan tingkat ke efektifitasan sendiri. Contohnya untuk kandungan obat nitroxinil efektif untuk pengobatan cacing hati tetapi tidak efektif untuk cacing tambang. Atau piperazine sangat efektif untuk membunuh dan membasmi cacing gelang yang ada di usus kambing, sapi, kelinci maupun domba, namun tidak ampuh untuk membunuh cacing hati dan cacing pita.
Bagi para peternak sapi, kambing, domba ataupun kelinci tentunya akan sulit untuk menentukan jenis cacing yang menyerang ternaknya tersebut, karena untuk mendeteksi jenis cacing hanya dapat dilakukan di bawah mikroskop dengan cara memeriksa sample tinja kambing, sapi, domba ataupun kelinci untuk melihat jenis telur cacing yang menyerang ternak tersebut. Sehingganya para peternak akan kesulitan untuk menentukan jenis obatnya untuk mengobati cacing tersebut jika mereka jauh dari tenaga medik veteriner ataupun para mantri hewan.
Penyakit cacing pada sapi/kambing/domba ataupun kelinci merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh parasit yang secara ekonomis sangat merugikan peternak. Dikatakan demikian karena, walaupun dengan pemberian pakan berlebih dan berkwalitas pun ternak sapi, kambing/domba ataupun kelinci akan tetap kurus dan mengalami hambatan dalam pertumbuhan, bahkan beberapa jenis cacing dapat merusak organ tubuh hewan penderita. Kerugian lain yang dialami adalah menurunnya nafsu makan pada sapi, kambing, kelinci, domba penderita cacingan.
Secara umum jenis cacing yang menyerang hewan ternak sapi, kambing dan domba di Indonesia adalah cacing hati atau yang biasa disebut faciola, cacing gelang dan cacing lambung.

Cacing Hati Pada Sapi dan Kambing


Tingkat prevalensi penyakit cacing hati pada sapi dan kambing di Indonesia sangat tinggi, ini ditunjukkan pada saat pemeriksaan hewan qurban Hari Raya Idul Adha. Pada pemeriksaan hewan qurban yang dilakukan oleh petugas Dinas Peternakan di seluruh Indonesia banyak menemukan kasus cacing hati terutama pada sapi dan beberapa pada kambing/domba. Kondisi iklim dan geografis Indonesia memang sangat mendukung berkembangnya penyakit cacing hati pada ternak ini, banyaknya rawa-rawa dan genangan air di areal rerumputan memungkinkan suburnya perkembangbiakan siput sebagai inang (host) cacing hati pada ternak. Rumput yang terkontaminasi metaserkaria (telur cacing hati) yang tertelan oleh sapi, kambing dan domba akan menyebabkan ternak tersebut terinfeksi oleh cacing hati. Dan akhirnya merusak organ hati ternak penderita. Pencegahan yang paling efektif untuk mengindari cacing hati adalah dengan cara menggembalakan sapi/kambing sebaiknya diatas jam 10, dimana saat itu embun sudah turun serta metaserkaria ikut turun bersama embun pagi, bisa juga dengan melayukan rumput terlebih dahulu sebelum diberikan kepada sapi atau kambing, atau mengolah rumput dengan melakukan silase pada rumput tersebut sehingga metaserkarianya mati terbunuh. Disamping pencegahan tersebut, pengobatan cacing secara rutin 2 -3 bulan sekali pada sapi/kambing sangat membantu menghindari infeksi cacing hati pada ternak.
Pengobatan pada ternak sapi/kambing/domba yang terinfeksi cacing hati bisa mengunakan obat yang mempunyai kandungan nitroxinil atau nama dagangnya Dovenik via injeksi/suntik, bisa juga mengunakan obat cacing albendazole dengan merk dagang pyronil via mulut/oral. Pyronil merupakan obat cacing dengan spektrum luas yang mampu membunuh dan membasmi cacing hati, cacing gelang, cacing pita, dan cacing lambung pada sapi, kerbau, kambing, domba, kelinci, anjing, kucing dan ayam. Obat cacing yang satu ini tergolong sangat aman untuk hewan ternak dan sangat direkomendasikan untuk pengobatan cacing pada semua hewan.

Cacing Gelang Pada Sapi dan Kambing


Nama latin cacing ini adalah Neoascaris vitulorum, yang menyerang usus halus pada sapi, kelinci maupun kambing yang dapat menyebar ke organ lain, seperti ke otot dan pembuluh darah dengan mengikuti aliran darah. Pada ternak penderita cacing cacing gelang ini biasanya sapi akan nampak kurus, nafsu makan turun, bulu berdiri dan mudah terserang penyakit lain. Pencegahan yang paling efektif adalah pemberian obat cacing setiap 2-3 bulan sekali secara teratur. Jenis obat yang dapat di gunakan adalah piperazine atau bisa juga mengunakanan obat cacing albendazole yang diberikan secara oral.

Cacing Lambung pada Sapi dan Kambing


Jenis parasit cacing ini sering ditemukan di lambung sapi maupun kambing sehingga disebut juga dengan cacing lambung. Penyebabnya adalah cacing Haemonchus contortus, merupakan cacing yang menghisap darah di lambung. Gejala yang nampak adalah ternak lesu, kurang darah, bulu berdiri, tidak nafsu makan dan kurus. Pencegahan yang paling efektif adalah memberikan pakan yang bebas dari embun pagi atau melayukan terlebih dahulu sebelum di berikan pada sapi.
Pengobatan cacing lambung adalah pemberian obat cacing yang mengandung albendazole secara rutin dan berkala setiap 2-3 bulan sekali.

Demikian sekilas tentang jenis cacing pada sapi maupun kambing beserta pengobatan cacing pada ternak tersebut. Semoga bermanfaat.

Penyakit Anthrax Pada Hewan Yang Berbahaya

Anthrax merupakan salah satu penyakit hewan yang berbahaya bagi hewan maupun manusia. Penyakit Anthrax sering disebut juga sebagai Penyakit Radang Limpa. Penyebab penyakit ini adalah kuman Bacillus anthracis, dapat bersifat akut atau subakut. Penyakit ini bersifat zoonosis, dapat menyerang semua jenis hewan kecuali bangsa burung dan hewan berdarah dingin.
Kuman Bacillus anthracis ini berbentuk batang atau balok, yang lebih hebat lagi bahwa bakteri yang satu ini dapat membentuk spora bila berhubungan dengan udara dan dapat tahan hidup bertahun-tahun lamanya.
Penyakit anthrax ditemukan dibeberapa daerah/tempat di Indonesia, sehingga ini merupakan catatan penting bagi para dokter hewan dalam menjaga keamanan pangan asal hewan dari produk asal hewan yang bebas dari penyakit food borne zoonosis seperti anthrax ini. Keamanan pangan asal hewan dari penyakit berbahaya yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui konsumsi pangan haruslah menjadi perhatian serius dari Pemerintah Indonesia dalam menciptakan ketentraman bathin mengkonsumsi produk hewan seperti sapi, kebau, kambing, domba maupun kelinci.
Penularan penyakit anthraks/anthrax ini dapat melalui alat pernafasan, kulit yang terluka, dan yang paling banyak terjadi adalah melalui pakan/minuman yang tercemar spora bacillus anthracis. Penularan juga dapat terjadi secara mekanis yaitu melalui serangga penghisap darah.
Umur hewan yang terserang penyakit ini adalah semua umur sangat rentan, baik tua maupun muda.

Gejala Klinis Penyakit Anthrax
Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit anthrax adalah hewan (anjing, sapi, kerbau, domba, kucing, hewan lain) mengalami demam tinggi sampai 42 o C, hewan penderita mengalami depresi, menggigil, lesu dan malas bergerak, kematian terjadi sangat cepat, 1-2 hari sejak terjadinya infeksi. Pada hewan/ternak yang sudah mati memperlihatkan leleran darah berwarna kehitaman seperti tir dari lubang-lubang kumlah seperti mulut, hidung, anus atau vulva. 
Pada kuda sering terlihat kolik, edema pada daerah tenggorokan, leher, bahu dan skrotum.

Perubahan Patologi Anatomi
Penyakit anthraks ini jika di lihat dari perubahan anatomi, maka akan nampak perubahan seperti dibawah ini.
  • Adanya Edema pada organ parenkim
  • Darah berwarna merah kehitaman seperti tir.
  • Limpa membesar dan rapuh, sebab itu penyakit ini disebut juga penyakit radang limpa.
  • Perlu diingat bahwa hewan yang menderita anthrak/anthrax yang mati dilarang untuk dibedah bangkai/otopsi karena kuman anthrax akan dengan cepat membentuk spora bila berhubungan dengan udara luar dan bertahan hidup lama dialam terbuka serta akan menginfeksi hewan atau manusia di lingkungan tersebut.
Bagaimana Mendiagnosa Penyakit Anthraks/ Anthrax ?
Diagnosa penyakit antraks berdasarkan pada gejala klinis dan data epidemiologi serta dikukuhkan dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan di laboratorium dilakukan dengan mengisolasi bakteri Bacillus anthracis secara uji serologis dan pemeriksaan histopatologi.

Diagnosa Banding/Differnsial Diagnosa Anthrax
Penyakit yang mirip dengan penyakit anthrax adalah penyakit ngorok yang bersifat akut dan keracunan.

Pengobatan Penyakit Anthrax dapat dilakukan dengan cara pemberian serum kebal secara cepat mampu menolong proses kesembuhan.

Tindakan Pencegahan dan Pengendalian
Untuk melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit anthrax maka hal yang pelu dilakukan adalah vaksinasi anthrax secara rutin dan teratur, pengawasan yang ketat terhadap lalulintas ternak pada saat terjadinya kasus/wabah, atau dilakukan penutupan daerah dari lalulintas ternak.

Material Untuk Pemeriksaan Laboratorium
Bahan material untuk uji secara laboratorium penyakit anthrax ini dapat dilakukan dengan cara :
  1. Untuk isolasi kuman atau pengembangbiakan spora dapat dikirim spesimen : darah, bahan-bahan seperti tanah, kulit dan lain-lain yang dicurigai tercemar spora anthrax.
  2. Pengambilan spesimen harus betul-betul hati-hati dan dilakukan oleh aparat/petugas yang berwenang.
  3. Dilarang mengirim spesimen dari hewan yang dicurigai menderita ke BPPV Denpasar atau daerah yang bebas dari penyakit ini seperti Lampung dan sekitarnya.
Demikian sekilas tentang penyakit anthrax berikut cara mendiagnosa, pencegahan, pengendalian, penularan penyakit anthraks, spesimen laboratorium, cara mengirim sample dan pengobatannya. Semoga dapat bermanfaat.

Brucellosis Penyebab Keguguran Pada Hewan

Penyakit Brucellosis merupakan suatu penyakit yang menyebabkan keguguran atau keluron yang menular, disebabkan oleh bakteri Brucella spp., ditandai dengan adanya abortus pada stadium akhir kebuntingan, dapat terjadi pada sapi, kerbau, kambing, domba, anjing dan babi. Pada sapi dan kerbau penyebabnya adalah Brucella abortus, pada ternak kambing disebabkan oleh Brucella melitensis, pada domba disebabkan oleh Brucella ovis, pada babi disebabkan oleh Brucella suis dan pada anjing disebabkan oleh Brucella canis.
gambar anak kambing 
Gejala Klinis
Umumnya gejala klinis pada hewan penderita tidak terlalu nampak, tidak memperlihatkan suatu gejala klinis tertentu dan hal inilah yang paling membahayakan karena kita tidak tahu apakah sapi, kerbau, anjing, domba, kambing, babi terinfeksi Brucella atau tidak, tanpa adanya pemeriksaan secara laboratorium. Pada saat setelah terjadinya keguguran kadang-kadang keluar leleran/mukus dari kelamin betina. Persendian lutut (hygroma) kadang-kadang bengkak. Keguguran pada penderita terjadi pada umur kebuntingan diatas 4 bulan, setelah mengalami keguguran pada kebuntingan yang pertama, kebuntingan selanjutnya dapat berjalan normal, atau penderita (induknya) dapat menjadi infertil. Sedangkan pada pejantan yang terinfeksi Brucella menunjukan orchitis dan kemajiran.

Patologi Anatomi
Perubahan patologi anatomi pada penyakit Brucellosis adalah :
  • Pada hewan betina, perubahan yang mencolok adalah placentitis. Kotiledon mengalami nekrosa, ditutupi eksudat berfibrin dan bernanah.
  • Pada hewan jantan sering mengalami epididimitis dan orchitis nekrotik purulen.
  • Janin mengalami edema dibawah kulit dan jaringan intermuskuler.
  • Anak sapi yang diabortuskan oleh eksudat bernanah dan tali pusarnya tebal karena edema dan radang.
Penyakit ini merupakan penyakit berbahaya karena dapat menular kemanusia (disebut undulant fever) dengan gejala klinis berupa demam yang berselang-seling. Umumnya manusia tertular karena pekerjaannya, misalnya pekerja laboratorium, pekerja pada rumah pemotongan hewan, pemerah susu, dokter hewan, petugas inseminator dan lain-lain.
Penularan terjadi secara kontak melalui bahan yang tercemar oleh kuman Brucella. Pada hewan, penularan penyakit biasanya terjadi secara per oral yaitu melalui makanan yang terkontaminasi oleh kuman Brucella. Sumber kontaminan yang berbahaya adalah placenta serta cairannya atau fetus yang diabortuskan oleh penderita.
Kuman Brucella bisa tahan hidup lama, bisa mencapai 3 bulan ditanah atau rumput yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Diagnosa Penyakit Brucella
Untuk mendiagnosa penyakit Brucelosis ini didasarkan pada gejala klinis dan uji di laboratorium. Diagnosa berdasarkan gejala klinis yaitu adanya abortus dan hygroma pada persendian lutut dan data epidemiologi. Di laboratorium, dengan melakukan uji serologis, yaitu Rose Bengal Plate Test (RBPT, sebagai uji skrining). Sera yang bereaksi positif pada RBPT kemudian dilanjutkan dengan uji Serum Aglutinasi Test (SAT), Complement Fixation Test (CFT) atau Enzyme-linked Immuno Sorbent Assay (ELISA). Pada sapi perah sering mengunakan uji Milk Ring Test yaitu memeriksa air susu. Hewan yang bereaksi positif pada uji-uji serologis diatas disebut reaktor brucellosis. Sedangkan isolasi kuman penyebab dapat diperoleh dari leleran yang keluar dari kelamin betina, fetus yang diabortus, cairan dari persendian yang mengalami peradangan dan limfoglandula.

Diagnosa Banding Penyakit Brucellosis
Penyakit yang hampir mirip dengan penyakit brucellosis adalah penyakit toxoplasmosis, leptospirosis, trichomoniasis.

Pengobatan Penyakit Brucelosis atau Keguguran/Keluron 
Penyakit ini sangat sulit diobati, tetapi dapat diberikan antibiotik atau preparat sulfa yang sesuai dibawah pengawasan dokter hewan.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Brucellosis
Untuk mengendalikan brucellosis pada sapi, kerbau, domba, kambing dan babi yang paling penting adalah mengawasi lalulintas ternak keluar dari daerah tercemar. Cegah pemasukan ternak kerier ke suatu peternakan yang bebas dari brucellosis. Didaerah endemis dengan prevalensi reaktor diatas 2 % dapat dilakukan vaksinasi, misalnya dengan vaksin hidup strain 19 (S19). Sedangkan untuk daerah dengan prevalensi reaktor di bawah 2 % dapat digunakan metode "test and slaughter" yaitu dengan melakukan uji serologis, dan setiap hewan yang bereaksi positif (reaktor) dipotong paksa.
Demikian sekilas tentang penyakit keguguran pada anjing, sapi, kerbau, kambing dan domba serta babi yang disebabkan oleh brucella spp., semoga bermanfaat.

Penyakit Coccidiosis Penyebab Berak Darah Pada Hewan

Penyakit Coccidiosis atau mempunyai sinonimnya adalah berak darah dapat terjadi pada ayam, sapi, kambing, anjing, kucing dan hewan lainnya yang disebabkan oleh protozoa Eimeria sp, biasanya ditandai adanya kotoran /diare/ berak berdarah. Pada sapi penyakit coccidiosis disebabkan oleh E.bovis, E.Zurni, E. ellipsoidalis dan E. auburnensis.
gambar anak kucing persia
Siklus hidup parasit coccidia (Eimeria) ini berawal dari keluarnya ookiste bersama tinja, kemudian terjadi sporulasi dalam waktu 1-2 hari (tergantung spesies) dan suhu sekitar. Oosit yang telah mengalami sporulasi kemudian termakan oleh hewan, selanjutnya ookiste akan pecah dan terbentuklah sporozoit yang menyerang mukosa dan epitel usus. Sporozoit akan berkembang menjadi schizont, makrogametosit dan mikrogametosit, makrogamet dan mikrogamet kawin akhirnya terbentuklah zygote/ ookiste. Penularan dapat terjadi pada hewan karena tercemarnya makanan, minuman hewan/ternak oleh ookiste. Pada hewan besar bertindak sebagai hewan karier, sedangkan hewan muda, umur dibawah 6 bulan sangat peka terhadap penyakit ini.
Gejala klinis penyakit berak darah coccidiosis bervariasi, tergantung pada umur yang terserang dan spesies Eimeria sp., pada infeksi ringan ditandai oleh adanya diare ringan yang berlangsung sekitar 5-7 hari, pada infeksi berat tinja sering terlihat bercampur darah dan lendir, hewan penderita akan mengalami depresi, nafsu makan menurun sampai hilang, berat badan menurun, dehidarasi, daerah sekitar anus menjadi kotor oleh adanya tinja, dan kematian dapat terjadi selama periode akut atau kerena infeksi sekunder (pneumonia).
Perubahan patologi anatomi yang terjadi adalah adanya kongesti pada saluran pencernaan yang diikuti enteritis hemoragika dan nekrosis, adanya penebalan mukosa sekum, kolon, rektum dan ileum, pada kasus berat dan hebat dapat terjadi ulserasi/ keropeng dan pengelupasan mukosa, darah segar atau tinja bercampur darah sering ditemukan pada lumen usus besar, karkas tampak anemik.
Ada beberapa penyakit yang mampu menimbulkan diare berdarah seperti salmonelosis, Johne's disease, defisiensi Cu, osteortagiosis dan keracunan arsen. Penyakit-penyakit tersebut merupakan diagnosa banding. Dan untuk peneguhan diagnosa maka diperlukan identifikasi secara mikroskopis dengan melihat adanya ookiste dari mukosa usus melalui tinja yang dikeluarkan oleh hewan penderita berak darah tersebut.
Pengobatan penyakit berak/ diare darah berdarah karena coccidiosis dapat diobati dengan preparat furazolidone, pyrimethamin, sulfonamide (sulfa grup). Sedangkan untuk pencegahan yang harus dilakukan oleh peternak adalah menjaga sanitasi kandang dan lingkungan, penderita coccidiosis harus diisolasi dan segera diobati agar tidak menyebarkan penyakit ke hewan lain, dan hindari mengkandangkan/mengembalakan hewan secara bersama-sama antara hewan muda dengan hewan dewasa.
Untuk membawa material sebagai bahan uji laboratorium, yang harus dibawa untuk pemeriksaan ookiste adalah tinja yang diawetkan dalam formalin 10 %. Sedangkan untuk kepentingan identifikasi parasit, tinja yang dikirim harus dalam keadaan segar atau ditaruh dalam potasium bikromat 3 % (dalam waktu sekitar 2-3 hari sejak diambil harus sudah diterima di laboratorium). Bagi hewan yang telah mati, dapat dikirim pula potongan usus yang mengalami perubahan dalam formalin 10 % untuk pemeriksaan histopatologi.
Demikian penyakit berak darah yang disebabkan oleh coccidiosis pada sapi, kambing, kucing, anjing, kelinci, ayam, babi dan hewan lainnya, semoga bermanfaat.

Penyakit Lidah Biru Pada Domba dan Kambing

gambar penyakit lidah biru
Penyakit Blue Tongue
Penyakit Blue Tongue adalah penyakit infeksius pada domba yang ditandai dengan warna lidah yang menjadi kebiru-biruan. Penyakit ini juga biasa disebut ovine catarrhal fever, sore muzzle, sore mouth yang disebabkan oleh virus yang bernama Orbivirus dari famili Reoviridae  dan ada sekitar 21 serotipe virus Blue Tongue.
Di Indonesia penyakit ini sudah dinyatakan bebas dan tidak ada lagi laporan mengenai kejadian penyakit Blue Tongue ini. Namun demikian kita sebagai peternak harus tetap waspada jika suatu saat muncul kembali di Indonesia.
Penyakit Blue Tongue ini memiliki masa inkubasi antara 4-7 hari, dengan gejala klinik sebagai berikut :
Demam tinggi mencapai 41 oC berlangsung 6-8 hari, bibir mengalami hiperemi, edema, membrana mukosa mulut hiperemia, keluar leleran encer dari hidung kemudian menjadi kental dan mukopurulen, lidah dan bibir kelihatan berwarna kebiruan (sianosis), adanya hipersalivasi dan pada domba dapat menyebabkan keguguran.
Pada perubahan Patologi Anatomi yang dapat kita lihat adalah :
Kulit bibir dan hidung hiperemik, lidah berwarna kebiruan dan epitelnya mengalami pengelupasan, saluran pencernaan mengalami kongesti kadang-kadang disertai perdarahan, limpa dan ginjal mengalami kongesti dan edema serta sering disertai petekie, jantung biasanya memperlihatkan perdarahan sub-endocardial pada ventrikel kiri dan pada bagian pangkal arteri pulmonalis.
Tingkat kematian akibat penyakit blue tongue ini bervariasi antara 5 - 80 % tergantung daya tahan tubuh domba tersebut. Domba merupakan hewan yang paling peka terhadap penyakit ini, sedangkan kambing walaupun dapat terserang penyakit blue tongue hanya menunjukan gejala klinis yang ringan. Kemudian sapi dalam penyakit blue tongue ini bertindak sebagai hewan karier ( reservoir). Penyakit Blue Tongue ini dapat menular dari domba ke domba lain melalui lalat Culicoides sp, sehingga faktor penyebaran penyakit blue tongue ini dipengaruhi oleh populasi lalat Colicoides tersebut.
Diagnosa Banding Penyakit Blue Tongue :
Penyakit yang hampir mirip dengan blue tongue adalah penyakit orf, fotosensitisasi, infestasi oestrus ovis, sheeppox dan vesicular stomatitis.
Hal yang paling menakutkan adalah penyakit ini tidak bisa diobati, hanya bisa dicegah dengan cara :
  • Domba penderita blue tongue harus di isolasi, disemprot dengan insektisida untuk menekan populasi vektor lalat.
  • Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan yang mungkin bersarangnya vektor lalat Culicoides tersebut.
Untuk Uji Pemeriksaan Laboratorium terhadap material adalah :
  • Sample darah (saat demam) dalam antikoagulan, kelenjar limfe mesenterika dan limpa dalam medium transpor.
  • Serum untuk pemeriksaan serologi.
  • Organ-organ yang mengalami perubahan dalam formalin 10 % pemeriksaan histopatologi.
Demikian mengenai penyakit lidah biru pada kambing dan domba serta bagaimana pencegahannya, semoga bermanfaat.

Penyakit ORF (Kutil) Pada Kambing dan Domba

gambar penyakit ORF pada kambing
Penyakit ORF Pada Kambing
Penyakit ORF merupakan penyakit menular pada kambing dan domba yang ditandai dengan adanya kutil-kutil atau keropeng pada bibir. Penyakit ORF ini disebut juga penyakit Contagious Ovine Ecthyma, Contagious Pustular Dermatitis, Scabby Mouth atau Infectious Labial Dermatitis.
Walaupun penyakit ini jarang menimbulkan kematian pada kambing atau domba, namun dari segi ekonomis dapat menurunkan harga jual dari kambing atau domba yang menderita. Kerugian lain adalah penyakit ORF ini sangat menular kepada kambing / domba lainnya, serta menurunkan nafsu makan dari kambing/domba sehingga domba atau kambing lambat laun akan menjadi kurus.
Penyakit ORF ini disebabkan oleh virus yaitu Parapoxvirus dari famili Poxviridae.
Gejala Klinis yang sering muncul pada penyakit ORF adalah adanya eritema (bintik-bintik merah) kemudian peradangan pada kulit disekitar mulut kambing/domba. Karena timbul rasa gatal, mulut digosok-gosokan akhirnya timbul lepuh. Lepuh kemudian pecah, keluar cairan selanjutnya membentuk kerak atau keropeng terutama pada kulit mulut kambing/domba. Penularan dapat terjadi secara kontak langsung melalui luka dengan masa inkubasi sekitar 2-5 hari.
Diagnosa Penyakit ORF dapat didasarkan pada gejala klinis, patologi anatomi dan data epidemiologi. Untuk menyakinkan lagi maka pada pemeriksaan di laboratorium bisa di deteksi dengan melakukan uji serologis, isolasi dan identifikasi agen penyebab dan pemeriksaa histopatologi.
Penyakit lain yang hampir mirip dengan penyakit orf adalah sheeppox dan ulcerativa dermatitis. Sehingga dalam mendiagnosa penyakit ORF dibutuhkan kejelian dan pengalaman dalam rangka menentukan obat yang harus diberikan pada kambing/domba yang menderita penyakit tersebut.
Untuk pengobatan penyakit orf pada kambing atau domba maka yang harus dilakukan adalah keropeng harus dibersihkan kemudian diobati dengan yodium tincture, dapat pula diberikan antibiotik spray (semprotan) untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Contoh antibiotik tersebut adalah Limoxyn-25 Spray.
Beberapa pengalaman pengunaan autoimun dari material keropeng dapat juga membantu mempercepat persembuhan penyakit ORF ini. 
Agar ternak kambing atau domba yang lain tidak tertular maka kambing atau domba penderita diharuskan untuk di isolasi, kandang dan peralatan disuci hamakan (dekontaminasi).
Demikian pengobatan penyakit orf atau keropeng/kutil pada kulit mulut kambing dan domba, semoga dapat bermanfaat.

Mengobati Penyakit Scabies/Gudikan Pada Kambing

Cara mengobati penyakit gudik/scabies pada kambing sangat mudah, namun sebelum itu perlu diketahui dahulu jenis penyakit scabies ini.
gambar kudis pada kambing
Penyakit scabies bisa terjadi pada kambing, kucing, anjing, sapi, babi dan hewan lain. Penyakit scabies ini biasa disebut juga dengan penyakit gudikan/kurap atau kudis menular. Penyebab penyakit gudigan/scabies/kudis/kurap ini adalah parasit tungau yang ditandai dengan adanya radang kulit yang bersifat kronis. Parasit tungau penyebab kurap/scabies/kudis/gudigan adalah Sarcoptes scabei, Chorioptes spp, Psoroptes spp, Choriopsporoptes spp, Notoedres spp.

Gejala Klinis Scabies
  • Kambing penderita kurapan/gudikan/scabies tampak gelisah karena rasa gatal, menggaruk-garukan atau menggesek-gesekkan tubuhnya sehingga dapat terjadi luka dan pendarahan. Sering terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses dan bau busuk.
  • Cairan yang keluar dari luka akan membentuk keropeng-keropeng.
  • Kulit menjadi tebal dan bulu rontok.
  • Penderita scabies akan terganggu makannya sehingga ia akan menjadi kurus dan akhirnya mati karena kekurangan gizi (malnutrisi).
  • Pada hewan muda, angka kematian bisa mencapai 50 % atau lebih bila diikuti infeksi sekunder.
Perubahan Patologi Anatomi
Pada penyakit scabies ini tidak ada perubahan patologi anatomi atau lesi yang khas kecuali adanya jejas-jejas pada kulit.

Epidemiologi Penyakit Scabies
  • Penyakit Scabies menular melalui kontak langsung dengan hewan / kambing penderita atau peralatan yang tercemar tungau.
  • Kambing muda lebih peka dari pada kambing dewasa.
  • Umumnya kasus/ wabah scabies terjadi saat musim hujan.
Diagnosa Penyakit Scabies
Penyakit scabies atau gudikan ini didiagnosa berdasakan gejala klinis. Sedangkan untuk mengidentifikasi jenis tungau penyebabnya maka diperlukan konfirmasi laboratorium.
Diagnosa Banding pada penyakit sabies adalah dermatitis yang disebabkan oleh jamur atau penyakit ini juga sering dikelirukan dengan penyakit demodecosis.

Pengobatan Penyakit Scabies
Pengobatan Penyakit Scabies/gudikan/kudis menular pada kambing bisa dilakukan dengan cara :
  • Pengobatan dengan melakukan spraying/ penyemprotan dengan larutan Coumaphos dengan kadar 0,1 %. Spraying dapat dilakukan berulang-ulang dengan interval 1-2 minggu sampai semua kambing bebas dari penyakit ini.
  • Obat lain yang cukup ampuh dalam mengobati penyakit gudik/ scabies pada kambing adalah Ivermectine diberikan secara subkutan dengan dosis 200 gr per berat badan. Merek dagang yang sering di gunakan adalah Intermectine yang diproduksi oleh interchemie.
Tindakan Pencegahan/ Pengendalian Penyakit Scabies
Tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan agar kambing tidak terserang penyakit gudik adalah 
  • Menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya.
  • Mengawasi dengan cermat ternak kambing yang keluar masuk ke dalam area peternakan kambing.
  • Populasi kambing agar disesuaikan dengan luas lahan atau kandang yang tersedia.
Material Untuk Pemeriksaan Laboratorium
Organ tubuh yang perlu di uji di laboratorium adalah kerokan kulit tanpa bahan pengawet, bila langsung diperiksa dialboratorium. Namun jika jauh dari laboratorium maka dapat di berikan pengawet alkohol 70 % atau formaslin 5 % agar tidak busuk.
Demikian cara mengenali dan mengobati penyakit scabies atau gudik pada kambing, semoga dapat bermanfaat.

Jenis Penyakit Telinga Pada Hewan Ternak

Penyakit telinga pada hewan ternak sering kurang mendapat perhatian terutama pada anjing, kucing, domba, kambing, sapi atau monyet. Yang termasuk sering adalah adanya gangguan pendengaran, otitis ekterna, dan otitis media.
gambar penyakit tumor telinga anjing

Berikut ini adalah macam-macam jenis Penyakit Telinga pada hewan :
  1. Nekrosis Ujung Telinga
  2. Terjadinya nekrosis ujung telinga bisa disebabkan oleh suhu yang dingin, keracunan makanan ergot, thrombosis, trauma atau kanibalisme.
  3. Hematoma Aurikuler
  4. Hematoma aurikuler disebabkan oleh trauma, terutama terjadi pada anjing yang menggoyang-goyangkan telinganya yang mengalami otitis ekterna. Anjing dengan telinga yang menggantung lebih peka terhadap kelainan ini. Kelainan patologis ini terjadi pada sisi cekung telinga luar, mula-mula lembek kemudian mengeras akibat terjadinya penggumpalan darah. Lama-lama terjadi jaringan granulasi sehingga hematoma menjadi keras dan terjadi kontraksi yang mengakibatkan perubahan bentuk telinga luar.
  5. Otitis Eksterna
  6. Otitis Eksterna adalah peradangan telinga luar yang sering ditemukan pada anjing, kucing dan kambing. Kelainan ini sering terjadi pada anjing yang telinganya mengantung atau anjing yang memiliki bulu banyak dalam saluran telinganya. Pada kucing dan kambing radang ini diawali oleh infeksi tungau ( otodectes, Psoroptes)
  7. Otitis Media
  8. Otitis Media adalah peradangan yang terjadi pada telinga tengah atau rongga timpani, biasanya disebabkan oleh bakteri yang mencapai lokasi ini lewat corong Eustachius atau mengikuti perforasi timpanum. Pada babi dan domba, infeksi terjadi secara ascenden dari faring melalui corong Eustachius. Pada anjing dan kucing , otitis eksterna kronik dapat menjadi faktor predisposisi. Secara klinis hewan nampak memiringkan kepalanya, berputar-putar dan keseimbangannya terganggu.
  9. Otitis Interna
  10. Otitis intena adalah peradangan telinga bagian dalam. Kelainan in i biasanya merupakan perluasan dari radang telinga tengah dan selalu melibatkan bakteri sehingga dengan demikian biasanya mengeluarkan cairan/kotoran/eksudat kuning bernanah.
  11. Tumor
  12. Ada beberapa jenis tumor yang dapat menyerang kulit daun telinga dan kelenjar serumen.
    • Karsinoma Sel Skuamus
    • Tumor ini sering muncul pada kucing didahului stadium prekanker berupa eritema dan dermatitis ulserativa.
    • Tumor Kelenjar Serumen
    • Kelainan ini sering terjadi pada anjing dan kucing tua. Pada anjing biasanya bersifat jinak (adenoma), sedangkan pada kucing bersifat ganas (karsinoma). Adenoma tampak seperti benjolan dengan permukaan licin, bertangkai dengan diameter jarang melebihi 1 cm.
Demikian artikel macam jenis penyakit telinga pada hewan ternak, semoga bermanfaat.

Support : DMCA Protection | Penyakit Hewan
Copyright © 2013. PENYAKIT HEWAN - All Rights Reserved
Kontak Kami
Template Modify by PENYAKIT HEWAN
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger