Cara Mengobati Luka Pada Kucing

Cara Mengobati Luka Pada Kucing | Penyakit Hewan. Pada saat kucing terluka baik itu disebabkan oleh perkelahian, tersayat benda tajam, tersiram air panas, terkena zat kimia korosif seperti air accu dsbnya, maka yang harus dilakukan adalah merawat luka tersebut agar tidak menjadi bernanah atau bahkan bisa sebagai pintu masuk penyakit pada kucing kita. Banyak sekali jenis penyakit yang bisa masuk melalui luka seperti clostidium tetani, antraks, dll.

Merawat dan mengobati luka kucing pada dasarnya sama dengan merawat luka pada manusia dan obat yang digunakannya juga bisa sama. Secara garis besar luka dibedakan menjadi 2 yaitu luka lama dan luka baru. Melihat sejarah luka lama yang telah menjadi nanah berarti luka tersebut telah terjadi infeksi bakteri sehingga proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang agak lama dan telaten, berikut caranya :

Cara Mengobati Luka Yang Bernanah Pada Kucing
  • Langkah pertama adalah mengunting bulu yang ada disekitar lokasi luka, lalu bersihkan luka pada kucing dengan kapas yang telah dicelupkan atau dibasahi dengan air hangat yang bersih plus rivanol. Jika luka tersebut telah menjadi nanah, maka keluarkan materi cairan nanah tersebut dari luka dan bersihkan dengan mengunakan kapas yang dibasahi air hangat.
  • Lalu bersihkan lagi dengan menggunakan alkohol 70 % memakai kapas,
  • Langkah selanjutnya adalah pemberian antibiotik, kita bisa mengunakan penstrep, oksitetraciklin atau antibiotik jenis sulfa, contoh merk obatnya adalah Limoxin-25 Spray. Oleskan, semprot dengan antibiotik tersebut pada daerah luka pada kucing tersebut.
  • Setelah pemberian antibiotik selesai dilakukan maka selanjutnya berilah betadine atau yodium tinktur pada luka dengan maksud untuk mengikat agar antibiotik tetap menempel pada luka, disamping itu betadine berfungsi sebagi antiseptik yang baik untuk luka luar.
  • Balutlah dengan perban pada luka dengan mengunakan kapas dan kain kasa untuk mengindari invansi lalat. Atau jika anda mempunyai obat gusanex, maka semprotkanlah pada daerah sekitar luka.
  • Pemberian antibiotik secara injeksi dan anti radang perlu dilakukan jika luka menjadi sepsis dengan ciri suhu tubuh meningkat dan nafsu makan menurun, jika tidak menunjukkan hal tersebut antibiotik via injeksi tidak perlu dilakukan.
Cara Mengobati Luka Pendarahan dan Baru Pada Kucing
Sedangkan untuk luka yang baru pada prinsipnya hampir sama, hanya jika terjadi pendarahan yang hebat maka yang pelu kita lakukan pertama kali adalah menghentikan pendarahan tersebut dengan menekan pembuluh darah diatasnya, lalu berikan vitamin K untuk mempercepat pembekuan darah. Pengontrolan luka sebaiknya dilakukan setiap hari untuk mengetahui perkembangan luka tersebut. Dan sebaiknya kucing jangan bermain di tempat yang lembab dan basah, akan lebih jika diisolasi di dalam kandang.

CATATAN PENTING:
Pengobatan luka ini berlaku jika anda merasa yakin bahwa kucing terluka karena benda tajam, tetapi jika disebabkan karena berkelahi maka sebaiknya di bawa ke dokter hewan untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyakit rabies dan penyakit-penyakit lain yang bersifat zoonosis.

Demikian cara merawat dan mengobati kucing yang luka, semoga bermanfaat.

Infeksi Pyoderma di Kulit Kucing

Infeksi Pyoderma di Kulit Kucing | Penyakit Hewan. Pada saat kulit kucing terluka baik itu karena berkelahi atau terkena benda tajam seperti kuku ataupun pisau, maka ada peningkatan risiko terjadinya infeksi oleh bakteri. Pyoderma merupakan infeksi bakteri pada kulit yang umumnya jarang terjadi pada kucing. Pyoderma ditandai dengan adanya lesi dan pustula (meradang atau pembengkakan berisi nanah) pada kulit, dan dalam beberapa kasus bulu kucing akan mengalami kerontokan secara parsial.

Gejala Klinis

Gejala yang sering menyertai infeksi pyoderma adalah dicirikan dengan :
  • Munculnya Alopecia atau kebotakan secara parsial di daerah luka kulit kucing.
  • Adanya rasa gatal pada luka, sehingga kucing sering mengaruk dengan kukunya
  • Adanya Pustule atau adanya nanah pada bagian kulit yang terluka

Infeksi dapat terjadi pada lapisan permukaan kulit kucing, atau jika ada laserasi yang mendalam maka infeksi pyoderma pada kulit dapat terjadi di lipatan dalam kulit. Infeksi yang terakhir disebut sebagai pyoderma mendalam.

Faktor Resiko Terjadinya Pyoderma

Infeksi bakteri dapat terjadi pada setiap jenis kucing, baik itu persia, anggora, lokal atau jenis kucing yang lain. Ada beberapa jenis faktor resiko terjadinya pyoderma yaitu :
  • Banyaknya lipatan kulit.
  • Besarnya tekanan pada daerah yang kapalan, seperti dikaki.
  • Adanya infeksi Pasturella multocida.

Kucing memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi ketika mereka memiliki infeksi jamur atau penyakit endokrin seperti hipertiroidisme, atau memiliki alergi terhadap kutu, bahan makanan, atau parasit seperti Demodex.

Pengobatan Pyoderma

Infeksi bakteri biasanya merespon baik terhadap pengobatan medis. Pengobatan umumnya dilakukan dengan pengobatan eksternal atau yang biasa disebut pengobatan topikal, serta antibiotik untuk infeksi.
Pengobatan antibiotik umumnya diresepkan untuk lebih dari satu bulan, hal ini berguna untuk memastikan bahwa infeksi dapat dihilangkan seluruhnya dari tubuh kucing dan berguna agar tidak muncul kekambuhan.

Ada kemungkinan terjadinya komplikasi bakteri dan menyebar ke dalam darah, sehingga sangat penting untuk mengamati waktu pemulihan kucing dan memberitahukan kepada dokter hewan tentang hal tersebut sehingga keadaan yang lebih buruk dapat dicegah.

Bagaimana Pencegahannya

Mencuci secara rutin pada luka kucing dengan benzoil peroksida atau obat lain seperti alkohol dan rivanol dapat mengurangi kejadian infeksi oleh bakteri sehingga luka pada kucing tidak berkembang menjadi pyoderma.

Demikian artikel  Infeksi Pyoderma di Kulit Kucing, semoga dapat bermanfaat.

Jerawat Pada Kucing

Jerawat Pada Kucing | Penyakit Hewan. Ada beberapa kucing yang mengalami atau mempunyai jerawat, baik itu sedikit maupun dalam jumlah yang banyak, serta sering berulang selama hidupnya. Dengan tingkat keparahan setiap individu bervariasi. Sedangkan faktor predisposisi selama ini belum diketahui sehingga jerawat ini bisa muncul pada kucing jantan atau betina termasuk juga bisa terjadi pada umur muda maupun umur tua. 

Gejala Klinis Jerawat Pada Kucing

Hampir sama dengan jerawat di manusia, jerawat di kucing didefinisikan sebagai berikut :
  • Komedo, jerawat berwarna merah, berkerak, berair, berkembang pada dagu, dan kurang umum pada bibir
  • Dagu kucing kadang-kadang akan membengkak
  • Dalam kasus yang lebih parah, jerawat pada kucing tersebut akan berkembang menjadi nodul, kerak berdarah, pustula (bernanah), bulu rontok, kulit mengalami kemerahan yang parah, dan kucing merasakan sakit pada kulitnya
  • Nyeri menunjukkan kucing memiliki bisul

Penyebab Timbulnya Jerawat Pada Kucing

  • Kucing jarang atau tidak pernah di grooming
  • Kelainan pada permukaan kulit, produksi minyak yang berlebih, atau adanya gangguan fungsi kekebalan tubuh

Bagaimana cara mendiagnosanya 

Dokter hewan akan memeriksa adanya kemungkinan infeksi seperti berikut:
  • Penyakit kudis pada kucing
  • Infeksi jamur
  • Penyakit kusta kucing
  • Tumor pada kulit (sebaceous) atau tumor kelenjar sekresi (apokrin) , tumor folikel lainnya (sel rambut) dan neoplasia epidermal (tumor dari lapisan luar kulit).
  • alergi pada kucing

Kemudian dokter hewan akan melakukan prosedur dibawah ini untuk mengkonfirmasi untuk menegakan diagnosis tersebut, seperti :
  • Kulit di lakukan scraping yang berguna untuk mencari tungau atau melihat bulu yang terinfeksi jamur
  • Dapat juga dilakukan kultur jamur
  • Pemeriksaan mikroskopis pada sel kulit kucing
  • Biopsi, tehnik ini jarang dilakukan, walaupun kadang-kadang diperlukan
Bagaimana Cara Mengobati Jerawat Pada Kucing

Mula-mulanya, pengobatan jerwat dilakukan dengan mengunakan antibiotik secara topikal termasuk pengunaan shampoo. Jika jerawat pada kucing berkurang, menghentikan pengobatan antibiotik topikal tersebut dan diganti dengan obat tapering selama dua sampai tiga minggu. Jika Jerawat pada kucing sering berulang kembali, maka jadwal pemeliharaan yang tepat akan dirancang oleh dokter hewan, dan seumur hidup pengobatan akan dilakukan stiap dua kali seminggu selama hal tersebut diperlukan.

Demodex Penyebab Gatal Pada Kucing

Demodex Penyebab Gatal Pada Kucing | Penyakit Hewan. Demodecosis bisa terjadi pada Kucing, dan menyebabkan gatal, kucing tidak nyaman, bulu rontok serta menyebabkan kerusakan pada kulit. Demodicosis, atau kudis demodectic, adalah penyakit kulit pada kucing yang disebabkan oleh berbagai jenis tungau. Tungau Demodex ini tidak terlihat dengan mata telanjang hanya bisa dilihat di bawah mikroskop. 

Tungau Demodex biasanya ditemukan pada kulit mamalia, dan dalam kebanyakan kasus tidak menyebabkan gangguan pada kulit, namun ketika sistem kekebalan tubuh terganggu, baik itu karena stres atau penyakit lain, atau tubuh kucing memproduksi minyak berlebih atau ketidak seimbangan hormon, maka Tungau Demodex akan berkembangbiak menjadi banyak, hal inilah yang menyebabkan gangguan pada kulit dan bulu kucing.

Tingkat keparahan gejala tergantung pada jenis tungau yang menyerang kucing Anda. Meskipun kudis pada kucing langka, namun untuk kucing jenis Siam dan Burma beserta keturunan memiliki risiko tinggi terserang demodecosis.

Gejala Klinis

Gejala klinis yang sering terjadi apabila terserang demodecosis adalah kucing gatal-gatal, bulu rontok disekitar kelopak mata, kepala, leher, dan bahu. Selain itu muncul juga adanya lesi dan kulit bersisik.

Penyebab Demodecosis Pada Kucing

Penyebab demodecosis adalah adanya gangguan tungau, ada dua demodex yang bisa menyerang kucing yaitu:
  • Demodex gatoi, berpotensi menular dan dapat ditularkan antara kucing di rumah yang sama.
  • Demodex cati, tungau ini lebih terkait dengan penyakit dari sistem kekebalan tubuh dan metabolisme, seperti diabetes. 
Telah ditemukan dalam beberapa kasus bahwa dalam sistem kekebalan yang terganggu atau ketidakseimbangan hormon akan memungkinkan tungau Demodex menyerang kucing yang mengalami gangguan tersebut.

Diagnosa Demodecosis

Untuk mendiagnosa kucing terserang demodecosis, bisa melalui kerokan kulit termasuk sampel bulu juga dapat membantu mengidentifikasi tungau tertentu yang bertanggung jawab pada kondisi tersebut. Tungau tersebut akan terlihat di hasil kerokan kulit dengan melihat dibawah mikroskop.

Pengobatan Demodecosis

Pada sekitar 90 persen kasus, kudis demodectic pada kucing cenderung bisa sembuh secara sendiri dengan catatan kembalinya kondisi tubuh secara normal seperti sedia kala. Untuk kasus umum yang parah, pengobatan jangka panjang mungkin diperlukan untuk mengendalikan kondisi tersebut. Perendaman dengan mengunakan sulfur dapat membantu meringankan gejala demodekosis. Dalam penanganan kasus demodecosis, maka status kesehatan umum kucing Anda harus dievaluasi. Disamping itu pengobatan dengan menggunakan obat intermectine juga sangat disarankan.
Demikian penyebab gatal pada kucing akibat demodex, semoga dapat bermanfaat.


Kucing Keracunan Obat Aspirin

Kucing Keracunan Obat Aspirin | Penyakit Hewan, Aspirin merupakan obat anti-inflamasi non-steroid, dan telah banyak digunakan untuk mengobati peradangan pada hewan, selain itu berguna juga sebagai analgesik (penahan rasa sakit). Namun dibalik itu, aspirin juga dapat menyebabkan keracunan pada kucing. Hal ini disebabkan karena setelah aspirin ditelan dan masuk kedalam lambung, aspirin akan membentuk asam salisilat, yang kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Toksisitas Aspirin pada kucing di karena mereka tidak memiliki enzim penting untuk metabolisme asam salisilat sehingga jika pemberian aspirin terlalu banyak atau over dosis maka kucing akan keracunan. Pemilik kucing harus mengikuti anjuran dokter hewan jika aspirin harus diberikan untuk kucing mereka.

Aspirin memiliki beberapa kegunaan klinis. Hal ini dapat diresepkan sebagai pereda nyeri, anti-inflamasi, agen menipis darah anti-platelet, dan menurunkan suhu tubuh agar menjadi normal. Jika aspirin digunakan untuk kondisi kronis, seperti untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah (tromboemboli arteri), maka sangat penting agar anda mengikuti petunjuk dokter hewan Anda. Mengurangi atau menghentikan dosis aspirin mungkin diperlukan jika hewan peliharaan Anda menunjukkan kerentanan terhadap toksisitas aspirin tersebut.

Gejala Klinis Kucing Keracunan Aspirin
Gejala klinis dapat muncul secara cepat. Salah satu tanda-tanda awal keracunan aspirin adalah hilangnya nafsu makan kucing. Kemudian Tanda-tanda lain akan mengikuti seperti muntah, diare, dan perdarahan di usus akibat adanya ulserasi dalam perut dan usus kecil. Sistem saraf pusat juga akan terganggu sehingga menyebabkan kucing telihat kesulitan berjalan dan pincang, kemudian kucing tampak lemah dan tidak terkoordinasi, lalu kucing juga dapa mengalami kehilangan kesadaran serta dapat terjadi kematian mendadak.

Jika kita mengetahui bahwa kucing kita telah menelan obat aspirin, dan ternyata kucing tersebut menunjukkan gejala keracunan maka, uji diagnostik harus fokus pada keparahan toksisitas. Pemeriksaan darah secara lengkap sangat perlu dilakukan, seperti kimia darah, hitungan darah lengkap, dan urinalisis. Biasanya kucing yang mengalami anemia, dengan kelainan elektrolit, akan menunjukkan penurunan kemampuan bembekuan darah pada saat kucing luka.

Pengobatan

Kucing harus segera diobati dalam waktu 12 jam setelah menelan obat aspirin, Semakin cepat pengobatan dan perawatan dilakukan maka tingkat kesembuhan semakin besar demikian pula sebaliknya. Hal yang perlu dilakukan adalah menginduksi agar kucing muntah sehingga kandungan obat aspirin didalam lambung kucing sebagian besar keluar dari perut, setelah itu pemberian zat arang aktif sangat dianjurkan untuk menyerap beberapa obat aspirin yang masih tersisa.

Kemudian agar penyembuhan dapat berjalan cepat maka pemberian obat pendukung untuk melindungi lapisan pencernaan dapat dilakukan, hal ini tergantung kondisi kucing. Pemberian infus dan ATP sangat dianjurkan untuk kasus ini. Demikian pengobatan kucing keracunan obat aspirin, semoga dapat bermanfaat.

Kucing Keracunan Obat Asetaminophen

Kucing Keracunan Acetaminophen
Acetaminophen merupakan obat yang berguna untuk menghilangkan rasa sakit yang biasa atau sering digunakan oleh manusia. Jika kita flu atau pilek sering kita mengunakan obat flu semisal untraflu, dan ini sangat manjur untuk manusia, namun bagaimana jika obat tersebut diberikan untuk kucing...??,
Kucing dapat keracunan obat yang mengandung asetaminofen tersebut, baik secara tidak sengaja ataupun karena ketidaktahuan si pemilik kucing. Si pemilik merasa bahwa apabila kucingnya terserang flu atau pilek maka obat manusia seperti ultraflu akan menyembuhkan kucingnya... dan bukannya sembuh malah akan menimbulkan masalah yang baru yaitu keracunan.


Gejala Klinis Kucing Keracunan Asetaminophen
Kucing sangat sensitif terhadap toksisitas asetaminofen, dengan kadar asetaminopen serendah 10 mg per kg berat badan dalam tubuh kucing, maka kucing tersebut akan mengalami gejala keracunan seperti:
  • Gusi Kucing berwarna kecoklatan-abu
  • Kucing akan mengalami Sesak napas
  • Wajah, leher atau anggota badan kucing akan mengalami bengkak
  • Kucing juga akan mengalami Hipotermia (suhu tubuh rendah)
  • Tidak jarang juga kucing mengalami Muntah-muntah
  • Kucing mengalami Penyakit kuning (warna kekuningan pada kulit, putih mata), karena kerusakan hati
  • Yang terakhir kucing akan mengalami Koma dan mati
Pengobatan
Jika kucing Anda mengalami keracunan asetaminophen maka kucing tersebut membutuhkan perawatan yang intensif, biasanya akan diberikan oksigen, cairan infus intravena, vitamin C, cimetidine, dan N-acetylcysteine. Asam amino cystiene juga dapat digunakan untuk pengobatan, karena asam amino tersebut berguna untuk memperbaiki kerusakan hati kucing akibat keracunan asetaminophen. Cystiene juga dapat mengurangi tingkat racun asetaminophen yang ada didalam tubuh kucing.

Mengatasi Kucing Keracunan Amitraz

Amitraz adalah suatu zat bahan kimia yang digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan kutu, infeksi parasit seperti kudis atau kurap pada hewan kesayangan seperti kucing dan anjing. Amitraz dalam pelaksanaan pengobatan terhadap kutu ataupun kudis dapat dilakukan dengan pencelupan (dips) atau hanya secara topikal di kulit saja. 
Keracunan obat Amitraz sering terjadi pada anjing dibandingkan dengan kucing. Namun begitu keracunan amitraz pada kucing dipandang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kematian pada kucing. Bila dilihat dari kasus per kasus dari keracunan amitraz ini, biasanya kejadian tersebut merupakan penyalahgunaan produk anjing di kucing.

Gejala klinis yang terjadi pada kucing yang keracunan amitraz adalah sebagai berikut :
  • Kucing mengalami depresi berat
  • Kucing mengalami kelemahan
  • Kucing mengalami ketidakseimbangan gerakan/inkoordinasi
  • Kucing sering berbaring di salah satu sisi tubuh,dan tidak bergerak
  • Denyut jantung yang lambat
  • Suhu tubuh kucing rendah
  • Kucing mengalami muntah
  • Kucing mengalami diare
  • Adanya peningkatan buang air kecil
  • Kucing mengalami kematian
Keracunan Amitraz dapat terjadi akibat menelan atau terpapar produk yang mengandung Amitraz. Keracunan Amitraz dapat terjadi pada kucing ketika produk anjing yang mengandung Amitraz digunakan untuk kucing atau ketika kucing kontak dengan anjing yang sedang diobati amitraz dan obat Amitraz masih ada di kulit atau di bulu anjing kemudian menempel pada kucing. 

Cara Pengobatan Keracunan Amitraz
Jika Amitraz berada pada kulit maupun bulu, maka kucing harus dimandikan atau bulu dicuci dengan deterjen mencuci piring atau sampo, ini berguna untuk menghilangkan sisa-sisa amitraz di bulu atau kulit kucing, lalu, kemudian bulu kucing dibilas sampai bersih dengan air hangat.
Terapi suportif seperti infus cairan intravena, pemeliharaan suhu tubuh dan dukungan nutrisi sangat diperlukan untuk pengobatan keracunan amitraz. Untuk itu kucing harus dipantau dengan ketat.
Pengunaan Hidrogen peroksida dapat digunakan untuk menginduksi muntah dan membersihkan Amitraz yang tersisa di dalam perut kucing. Kemudian pengunaan Arang aktif dapat juga digunakan untuk membantu mencegah penyerapan lebih lanjut dari Amitraz di dalam perut atau di saluran pencernaan kucing.
Obat lain yang kadang-kadang digunakan untuk menangani dan mengobati keracunan amitraz adalah yohimbine dan atipamezole.

Penyakit Asma Pada Kucing

Penyakit Asma (sesak nafas) dengan Bronchitis di Kucing

Penyakit Bronkitis pada kucing merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan peradangan pada bronkus dan bronkiolus. Sedangkan Bronkitis kronis adalah peradangan dalam jangka waktu yang lama pada saluran pernapasan bagian bawah.
Kondisi asma pada kucing bisa berjalan atau terjadi secara mendadak (akut) dan bisa juga terjadi dalam waktu jangka panjang (kronis). Peradangan saluran udara pada bronkus dan bronkiolus karena meningkatnya kepekaan terhadap berbagai rangsangan, seperti adanya alergen, penyempitan saluran udara, dan akumulasi sel-sel spesifik dalam saluran udara tersebut. 

Pada kucing, peradangan akut dan kronis dari saluran udara lebih rendah dilambangkan kolektif sebagai bronkitis kucing, atau penyakit bronkopulmonalis kucing (FBD). Peradangan kronis pada saluran udara yang lebih rendah, jika tidak diobati, dapat menyebabkan fibrosis (adanya kelebihan jaringan fibrosa di paru-paru) dan akan terjadi atelektasis paru (penyakit di mana paru-paru tidak dapat mengembang). Penyakit ini dapat terjadi pada kucing dari segala usia, tetapi paling sering terjadi antara usia 2-8 tahun.

Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari bronkus, bronkiolus, dan alveolus. Bronkus dimulai pada akhir trakea, di mana mereka memisahkan diri menjadi dua cabang. Kemudian bronkus memisahkan diri menjadi cabang-cabang yang lebih kecil, yang disebut bronkiolus. Alveoli adalah bagian terminal dari saluran pernapasan bagian bawah, dalam paru-paru, di tempat tersebut terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida.

Gejala Asma pada Kucing

Karena penyakit ini bisa bersifat akut dan kronis, maka gejala klinis yang dapat terjadi pada penyakit asma di kucing dapat bervariasi, seperti:
  • Kucing mengalami Batuk
  • Kucing mengalami Bersin
  • Kucing mengalami Kesulitan bernapas (beberapa kucing akan napas dengan mulut terbuka)
  • Kucing mengalami Nafsu makan yang menurun bahkan makan sedikit
  • Kucing mengalami Kelemahan
  • Kucing mengalami Kelesuan
  • Kucing mengalami Bernapas dengan usaha cepat
  • Kucing mengalami perubahan warna kulit menjadi Biru termasuk selaput lendir kucing
Penyebab Asma pada Kucing

Penyebab pasti adanya peradangan bronkial pada kucing seringkali tidak diketahui, namun ada beberapa penyebab yang menyebabkan munculnya penyakit asama pada kucing yaitu Asap rokok, semprotan rambut, penyegar udara, perabotan baru, dan ruangan berdebu. Disamping itu penyebab asma pada kucing juga bisa disebabkan oleh Infeksi parasit paru-paru (lungworm).

Diagnosa

Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada hewan peliharaan Anda, dengan mempertimbangkan latar belakang sejarah gejala dan insiden yang mungkin terjadi pada kucing anda. Anda akan ditanya tentang diet kucing Anda, ada tidaknya penambahan furniture/perabotan baru ke dalam rumah, dan pertanyaan terkait lainnya. Sebuah penyebab pasti penyakit ini tidak diketahui, dan menemukan faktor penyebab asma pada kucing sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan. Kadang-kadang, sesuatu yang sederhana seperti pengharum ruangan bisa menjadi penyebab penyakit asma.

Sementara itu, dokter hewan akan mengambil sampel darah dan urin untuk pengujian laboratorium. Tes-tes darah akan membantu untuk menegakkan diagnosis, dan juga untuk mengkarakterisasi apakah masalahnya adalah akut atau kronis. Sampel tinja juga akan diambil untuk pemeriksaan laboratorium untuk melihat apakah parasit yang hadir. Dokter hewan Anda juga dapat mengambil sampel untuk kultur bakteri untuk melihat apakah infeksi yang terlibat. Penyinaran X-ray dapat membantu dalam mendiagnosis sifat, lingkup, dan jenis perubahan dalam parenkim paru (bagian fungsional dari paru-paru) akibat peradangan.

Pengobatan penyakit sesak nafas / asma pada kucing 

Dalam kasus asma akut, perawatan darurat mungkin diperlukan, sampai masa krisis berakhir dan berlalu. Pemberian Terapi oksigen akan sangat membantu untuk mengatasi masalah ini termasuk pemberian obat darurat untuk membuka saluran pernafasan kucing. Penyempitan pada organ pernapasan sering disertai adanya pembengkakan saluran tersebut, sehingga dokter hewan akan memberikan obat untuk mengurangi pembengkakan agar kucing dapat bernafas dengan normal. Pemberian Obat steroid, dan obat-obatan anti-inflamasi sangat dianjurkan untuk mengobati asma dan sesak nafas pada kucing.
Setelah masa darurat berakhir, rencana pengobatan di masa depan akan dibuat. Untuk beberapa kucing, menghilangkan faktor penyebab asma adalah sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali dimasa-masa yang akan datang. Penyakit ini dapat bersifat progresif di alam, sehingga jika kucing Anda memiliki masalah bronkial kronis, dokter hewan Anda akan menyarankan terapi medis jangka panjang. 

Pencegahan Penyakit Asma Pada Kucing

Kita mungkin perlu mengubah lingkungan rumah agar kucing tidak terserang asma dan sesak nafas. Penyegar udara harus dihindari, termasuk menghindari merokok didalam ruangan, semprotan kimia, dan kotoran kucing yang terlalu halus. Mungkin juga ada beberapa bahan makanan yang perlu dihindari (misalnya, bahan-bahan yang ditambahkan ke beberapa makanan kucing, atau makanan tabel). 
Dokter hewan Anda akan memberitahu Anda tentang makanan yang tepat untuk kucing Anda dan membantu Anda dalam merencanakan diet jangka panjang. Juga, dalam kasus-kasus kronis, Anda harus siap mental untuk perawatan seumur hidup kucing anda. Bicaralah dengan dokter hewan Anda secara detail dan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak jelas tentang. Kekambuhan pada penyakit asma dapat terjadi secara cepat dan dapat menyebabkan kematian pada kucing kecuali segera diobati. Anda akan harus sangat jeli dengan kucing Anda, sehingga jika Anda melihat kucing anda batuk atau kesulitan bernafas, Anda dapat mengobatinya dengan obat yang telah diresepkan, atau membawa kucing anda ke rumah sakit hewan untuk perawatan darurat. 
Terapi untuk asma atau bronkitis pada kucing tidak boleh berhenti karena tidak adanya gejala.

Kerontokan Bulu Kucing atau Alopecia

Gambar Bulu Kucing
Bulu kucing yang rontok  atau yang biasa juga disebut dengan alopecia, adalah masalah yang umum dan biasa terjadi pada kucing. Bulu yang rontok ini tidak hanya pada jenis kucing berbulu panjang seperti bulu kucing persia ataupun kucing anggora, namun bulu yang rontok bisa juga terjadi pada bulu kucing lokal yang pendek, sehingga panjang pendeknya bulu tidak mempengaruhi alopecia.
Kejadian Bulu kucing yang rontok dapat terjadi hanya sebagian atau bisa juga terjadi secara menyeluruh, dengan pola yang bervariasi atau bisa juga simetris.

Gejala dan Jenis Kerontokan Bulu Kucing

Tanda-tanda atau ciri-ciri bulu kucing yang rontok bisa terjadi sebagian atau total. Dengan kulit disekitar area bulu kucing yang rontok bisa normal atau bisa juga berwarna kemerahan, adanya benjolan pada kulit, atau bahkan bisa juga terjadi kehilangan kulit kucing. Alopecia ini bisa dalam bentuk simetris, atau dapat terjadi secara acak pada kulit kucing.

Penyebab Kerontokan Bulu Kucing

Ada beberapa penyebab bulu kucing rontok  yaitu :
  • Pada kucing yang lebih tua yang menderita penyakit kanker, maka kejadian kerontokan bulu pada kucing tersebut adalah biasa atau umum terjadi.
  • Penyebab lain bisa juga karena adanya Gangguan pada saraf kucing (misalnya, karena kucing terlalu sering grooming) juga dapat menyebabkan kucing mengalami kerontokan bulu.
  • Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh kucing sehingga menyebabkan bulu kucing rontok, khususnya terlalu banyak tiroid atau peningkatan kadar steroid dalam tubuh kucing.
  • Kerontokan bulu kucing juga bisa karena adanya alergi di kulit kucing, yang juga dapat menyebabkan kerontokan rambut terjadi.
  • Disamping hal tersebut diatas ada satu lagi penyebab bulu kucing rontok yaitu adanya penyakit parasit seperti kudis dan kurap pada kucing. Kudis dan kurap juga merupakan penyebab umum dari alopecia.
  • Faktor lain yang kurang umum adalah faktor keturunan.

Diagnosa

Hitung darah lengkap (CBC) sering dilakukan untuk menentukan apakah ada ketidakseimbangan hormon tiroid atau penyebab terjadinya kerontokan bulu kucing / alopecia. Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk mendiagnosa bulu yang rontok seperti sinar-X, yang digunakan untuk membunuh sel kanker atau mengobati kelainan pada kelenjar adrenal. Namun, jika penyebab bulu kucing yang rontok adalah penyakit kulit maka dagnosa dapat dilakukan dengan biopsi pada kulit tersebut.

Pengobatan dan Pencegahan Bulu Kucing Rontok

Jika terjadinya kerontokan bulu kucing adalah karena kelainan kulit (misalnya, erosi kulit), ketidakseimbangan tiroid, atau ketidakseimbangan hormon lainnya, maka ada beberapa obat-obatan dan perawatan topikal yang tersedia. Jika rambut rontok adalah karena masalah perilaku, pengobatan modifikasi dapat diajarkan untuk mengurangi masalah. Untuk itu segeralah anda konsultasikan ke dokter hewan anda terdekat.
Selain pemberian obat yang sesuai, maka anda juga harus memperhatikan kondisi kucing untuk memastikan bahwa kucing tidak menjadi bertambah parah.
Demikian mengenai kerontokan bulu pada kucing, semoga dapat bermanfaat.

Penyakit Bartonella Menular Ke Manusia

Bartonella merupakan bakteri yang dapat menginfeksi manusia, mamalia, dan berbagai hewan liar termasuk kucing. Tidak semua spesies hewan penderita Bartonella menyebabkan penyakit pada manusia. Bartonella henselae merupakan bakteri yang menyebabkan infeksi yang muncul pertama kali pada manusia dan dilaporkan pada tahun 1990 kemudian digambarkan sebagai spesies baru pada tahun 1992. Penyebab utama kejadian bartonellosis pada manusia terutama disebabkan oleh kucing dan menyebabkan penyakit seperti; endokarditis, dan beberapa penyakit serius lainnya pada manusia.
Penyakit Pada Kucing

Bakteri Bartonella diketahui berasal dari kutu tubuh, baik itu kutu pada kucing atau kutu hewan lainnya. Para ilmuwan menduga bahwa kutu merupakan sumber infeksi dalam beberapa kasus bartonellosis pada manusia. Orang yang digigit oleh kutu dari kucing yang tidak diketahui status kesehatannya kemudian terpapar kucing (secara kebetulan kucing tersebut berpenyakit bartonella) maka manusia tersebut akan menderita bartonellosis. Namun perlu penelitian lebih lanjut untuk menetapkan peran kutu dalam penyebaran penyakit bartonellosis.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi beberapa spesies pembawa bakteri Bartonella, yaitu lalat pasir di Pegunungan Andes di Peru dan Ekuador. Vektor Bartonella lain adalah pada kutu dan ditemukan di seluruh dunia. Bakteri Bartonella telah ditemukan juga di domba di benua Eropa.

Gejala Penyakit Bartonellosis

Gejala Bartonellosis sering dijumpai dalam bentuk ringan, tetapi dalam kasus-kasus serius dapat mempengaruhi seluruh tubuh. Tanda-tanda awal penyakit bartonellosis adalah demam, kelelahan, sakit kepala, nafsu makan menurun/tidak nafsu makan, adanya ruam-ruam pada tubuh manusia. Gejala lain adalah kelenjar mengalami bengkak yang khas terutama di sekitar kepala, leher dan lengan. Ada juga penderita bartonellosis pada manusia yang mengalami gejala neurologis dan berjalan secara sistemik, penderita juga mengalami gastritis, nyeri perut bagian bawah, telapak tangan mengalami sakit, dan adanya nodul-nodul kecil di subkutan sepanjang ekstremitas. Kelenjar getah bening juga dapat membesar dan tenggorokan juga dapat terasa sakit.

Diagnosa

Diagnosa bartonella dapat dilakukan dengan uji Polymerase chain reaction (PCR) dan biopsi jaringan.

Pengobatan Bartonellosis

Pengobatan bartonellosi dapat dilakukan dengan mengunakan antibiotik jenis eritromisin dan doksisiklin. Eritromisin dan doksisiklin telah berhasil digunakan untuk penderita Bartonella, kemudian obat antibitik lain yang direkomendasikan adalah levofloxacin, dan untuk anak di bawah 18 tahun maka dianjurkan mengunakan antibiotik jenis azitromisin.

Demikian sekilas penyakit bartonellosis yang menular dari kucing ke manusia, semoga dapat bermanfaat.

Sel & Kimia Darah Kucing Yang Normal

Hasil Uji Lab Kucing Sehat
Sel darah dan Kimia darah merupakan suatu keadaan hasil uji laboratorium yang dipergunakan untuk mendeteksi adanya kelainan dan penyakit pada tubuh, hal ini bukan hanya berlaku bagi manusia, namun bisa digunakan untuk hewan juga seperti anjing, kucing, monyet, sapi, kuda, dan hewan-hewan lainnya. Bahkan untuk badak ataupun satwa liar yang lain pun bisa digunakan. Dengan adanya hasil uji laboratorium maka tingkat ke akuratan hasil diagnosa akan semakin tepat. 
Seperti kita ketahui bahwa keakuratan diagnosa sangat berpengaruh pada kesembuhan. Dengan keakuratan dianosa maka penentuan obat, cara pengobatan dan terapi penyakit pada kucing semakin tepat. Dari hasil laboratorium uji darah itu juga bisa di tentukan tingkat keparahan suatu penyakit, dengan demikian bisa ditentukan hasil prognosa penyakit pada kucing tersebut. 
Prognosa penyakit itu ada 3, yaitu dubius, fausta dan infausta. Dubius artinya bahwa penyakit tersebut tingkat kesembuhannya 50 %, untuk fausta artinya penyakit tersebut bisa sembuh 100 %, sedangkan infausta artinya penyakit tersebut tidak dapat sembuh. Prognosis atau prognosa itu dalam bahasa awam adalah vonis dokter.
Begitu pentingnya suatu hasil laboratorium dalam mendiagnosa penyakit, sehingga untuk penyakit-penyakit yang memiliki gejala yang sama dan tidak memiliki gejala pathognomonis (gejala yang menciri) maka di saran kan untuk uji darah. Uji darah ini tergantung dari kebutuhan dalam mendukung diagnosa dokter. Contohnya pada penyakit leptospirosis, panleukopenia, trombositopinia, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya. Dengan adanya hasil uji laboratorium ini maka seorang dokter hewan akan mudah menentukan apakah kucing tersebut terserang penyakit bakteri, virus, parasit atau adanya obnormalitas organ tubuh. Untuk membaca hasil uji laboratorium itu sendiri hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter, karena didalamnya berisi angka-angka dari kondisi atau keadaan darah kucing seperti kimia darah dan sel-sel darah. Yang termasuk sel-sel darah adalah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kimia darah adalah Total Protein, Albumin, Globulin, dan Glukosa.
Berikut adalah hasil uji laboratorium sel darah dan kimia darah kucing yang normal. Jika kondisi sel darah dan kimia darah kucing kita di bawah atau diatas nilai batas normal maka kucing kita bisa dikatakan sedang sakit.
Sel Darah dan Kimia Darah Kucing Yang Normal

Sel Darah Kucing Normal :

  • Sel darah Putih (WBC), kondisi normal kucing sehat 5.5 - 19.5
  • Sel darah merah (RBC), kondisi normal kucing sehat 5.0-10.0
  • HB, kondisi normal kucing sehat 8.0-15.0
  • Hematokrit, kondisi normal kucing sehat 24.5 - 45.0
  • MCV, kondisi normal kucing sehat 39.0 - 55.0
  • MCH, kondisi normal kucing sehat 12.5 - 17.5
  • MCHC, kondisi normal kucing sehat 30.0 - 36.0
  • Trombosit (PLT), 113 kondisi normal kucing sehat 300-800
  • Limfosit,  kondisi normal kucing sehat 20.0 - 55.0
  • Granulosit, kondisi normal kucing sehat 35.0 - 78.0
  • Limfosit, kondisi normal kucing sehat 1,5 - 7.0
  • RDW, kondisi normal kucing sehat 13.0 - 17.0
  • PCT, kondisi normal kucing 0.0 - 2.9
  • MPV, kondisi normal kucing sehat 12.0 - 17.0
  • PDW, kondisi normal kucing 0.0 - 50.0

Kimia Darah Kucing Normal :
  • Total Protein, kondisi normal kucing sehat 5.7 - 8.0
  • Albumin, kondisi normal kucing sehat 2.4 - 3.7
  • Globulin, kondisi normal kucing sehat 2.6 - 5.1
  • Ratio A/G, kondisi normal kucing sehat 0.6-1.1
  • Glukosa, kondisi normal kucing sehat 60-100
Jadi dalam mendiagnosa penyakit pada kucing tidaklah boleh sembarangan, kesalahan dalam mendiagnosa maka akan menyebabkan penyakit pada kucing kita tidak akan sembuh.
Bagaimana jika tidak ada hasil laboratorium terhadap uji darah tersebut ? jika tidak ada maka biasanya seorang dokter hewan akan melihat gejala penyakit dengan pemeriksaan fisik dengan stetoskop, termometer atau alat-alat lain yang diperlukan, selain itu diperlukan juga sejarah perjalanan atau patogenesa penyakit serta akan selalu ada differensial diagnosa penyakit tersebut. 
Demikian tentang sel darah dan kimia darah yang normal pada kucing dari hasil uji laboratorium, semoga dapat bermanfaat.

Cara Mengobati Cacing Askaris Pada Kucing

Ascariasis (Penyakit Cacing Ascaris Pada Kucing)
Penyakit ascariasis ini disebabkan oleh cacing golongan Toxocara. Penyakit ini sering menginfeksi anak kucing dengan umur 1 sampai 5 bulan. Hampir semua anak kucing di dunia ini terkena cacing jenis Ascaris ini.
Tingkat keparahan yang disebabkan cacing askaris ini tergantung pada banyak sedikitnya jumlah cacing yang menginfeksi. Penyakit pada anak kucing ini juga menimbulkan gejala nyata dan berdampak buruk bagi kucing yang terinfeksi. 
Sedangkan pada kucing dewasa agak lebih tahan terhadap cacing ini. Gejala yang muncul pada anak kucing yang terinfeksi cacing askaris ini adalah anak kucing menderita batuk-batuk, kemudian telah diobati oleh obat batuk namun tidak sembuh-sembuh juga, sehingga perlu dicurigai bahwa anak kucing tersebut telah terserang cacingan jenis ini. Batuk-batuk pada anak kucing tersebut disebabkan karena adanya larva pada organ  paru-parunya. 
Pada pemeriksaan mikroskopis pada feses atau kotorannya, kira-kira 80% dari jumlah populasi anak kucing di dunia terinfeksi telur cacing Ascaris. 
Cara Penularan Ascaris pada anak kucing terjadi melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan anak kucing. Telur cacing askaris ini sering mencemari tempat makanan, tempat minuman kucing, kandang dan lain-lain sebagainya. Penularan juga bisa terjadi melalui induk kucing ke anaknya pada saat dalam masa kebuntingan, sehingga pada saat anak kucing lahir sudah terkena cacing askaris ini. 

Perjalanan Penularan Cacing Askaris
Terjadinya proses penularan cacing askaris adalah sebagai berikut :
Kucing menelan telur cacing - telur cacing menetas di perut kucing - larva cacing ascaris ini akan masuk melalui dinding usus kucing - cacing masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai ke hati anak kucing - cacing ini akan ke paru-paru ( melalui aliran darah yang ada di paru-paru, cacing akan memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru). Cacing ini kemudian akan menuju ke saluran pernafasan atas sehingga cacing akan sampai di kerongkongan. Setelah sampai dikerongkongan maka cacing akan tertelan kembali ke usus anak kucing dan menjadi cacing dewasa dan berkembangbiak yang akan merusak usus anak kucing. 
Gejala Klinis yang mucul akibat cacing ascaris pada anak kucing adalah :
  • Perut anak kucing membesar meskipun tidak banyak makan, 
  • Anak kucing kelihatan sakit perut dengan ciri-ciri seperti  mengeong-ngeong, pada waktu berdiri posisi kaki belakang agak melebar untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya. 
  • Kucing juga akan mengalami anemia, tubuh terasa lemah, gelisah, bulu kusam, mata berair, nafas kucing terengah-engah, anak kucing mengalami sesak nafas,
  • Anak kucing juga tidak mau menyusui induknya,  
  • Kadang-kadang anak kucing juga akan menderita mencret dan muntah-muntah. 
Kematian anak kucing biasanya dipercepat dengan adanya infeksi sekunder sehingga terjadi radang paru-paru (pneumonia).
Apabila anak-anak kucing masih mau menyusu pada induknya, biasanya terjadi kematian satu per satu tanpa menunjukkan gejala klinis, hanya menunjukkan gejala perut agak besar dan lemas, sehingga kita harus mencurigai bahwa kematiannya disebabkan oleh cacing Ascaris ini.
Jika menyerang pada kucing dewasa, hanya menimbulkan gejala ringan yaitu pertumbuhan terhambat, bulu kusam dan berdiri, mata berair, lesu, nafsu makan turun, kemudian bila makan hanya memilih dagingnya saja, bahkan pada yang berat makanan hanya dijilat kemudian ditinggal pergi.

Bagaimana Pencegahan dan Pengobatan Cacing Askaris Pada Kucing

Pencegahan penyakit cacingan askaris  yang paling efektif adalah 
  • Melakukan sanitasi kandang anak kucing yang baik, kandang seharusnya didesinfeksi seminggu sekali. Cara ini dapat sangat membantu mengurangi cacingan pada anak kucing.
  • Kotoran anak kucing tidak boleh ditumpuk dan dibiarkan saja, tapi harus segera dibuang, 
  • Pada anak kucing sebaiknya alas kandang dilapisi dengan koran sehingga apabila anak kucing buang hajat besar atau kotoran, maka kotoran anak kucing tersebut dapat segera dibuang dan alas dapat diganti dengan koran yang baru. 
  • Pemberian obat cacing kepada anak kucing secara rutin, terutama pada anak kucing lepas sapih. 
  • Kucing dewasa yang akan dikawinkan sebaiknya diberi obat cacing 
  • Induk kucing yang habis melahirkan sebaiknya diberikan obat cacing. 
  • Untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak kucing agar tidak mudah terserang cacingan maka dapat diberikan vitamin dan makanan yang bergizi.
  • Untuk jenis obat cacing dapat diberikan jenis albendazol mulai umur 1 bulan, kemudian diulang sebulan sekali. 
  • Kucing dewasa sebaiknya diberikan obat cacing tiap 2-3 bulan sekali. 

Demikian cara mengobati cacing askaris pada kucing, semoga dapat bermanfaat.

Bahayakah Penyakit Flu Burung ?

Penyakit Flu burung merupakan penyakit unggas yang disebabkan oleh virus influenza. Virus flu burung ini menular secara secara alami di antara unggas-ungas tersebut. Burung liar yang ada di dunia ini yang terinfeksi flu burung akan membawa virus tersebut didalam usus mereka, tetapi biasanya para burung tersebut tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, flu burung ini sangat menular di antara burung dan dapat membuat beberapa unggas peliharaan menjadi sakit dan mati, termasuk ayam, bebek, dan kalkun.
gambar vaksinasi flu burung
Gambar Vaksinasi Flu Burung
Dahulu kala virus flu burung ini tidak menginfeksi manusia, namun saat ini seiring dengan adanya mutasi virus H5N1, manusia dapat terserang dan terinfeksi flu burung. Di Indonesia sendiri berdasarkan hasil laporan rumah sakit sudah beberapa yang terinfeksi dan meninggal.
Flu Burung ada 15 subtipe yang berbeda dan beberapa subtipe telah diisolasi dari burung peliharaan seperti burung parkit, burung nuri, burung kakatua, dan burung kutilang.
Apakah yang dimaksud dengan virus flu burung tipe A (H5N1)?
Merupakan virus influenza A atau yang biasa disebut juga virus H5N1. Virus ini pertama kali diisolasi dari burung (dara) di Afrika Selatan pada tahun 1961. Seperti semua virus flu burung, virus H5N1 menyebar di antara burung-burung di seluruh dunia dan sangat menular di antara burung-burung tersebut serta menimbulkan kematian pada burung tersebut.
Bagaimana penyebaran flu burung ?
Unggas yang terinfeksi virus flu burung memiliki virus di dalam air liur unggas tersebut, di sekresi hidung juga terdapat virus flu burung, dan di kotoran unggas tersebut. Unggas jenis ayam, burung, bebek, entok sangat rentan terinfeksi flu burng ketika mereka melakukan kontak dengan ekskresi yang terkontaminasi atau permukaan yang terkontaminasi dengan virus flu burng. Sedangkan pada manusia, hal ini diyakini bahwa sebagian besar kasus infeksi flu burung pada manusia disebabkan oleh kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang terkontaminasi virus H5N1.
Apa risiko flu burung terhadap manusia?
Resiko dari flu burung umumnya rendah bagi kebanyakan orang karena virus terjadi terutama di antara unggas seperti burung dara, ayam broiler, ayam petelur, ayam kampung, bebek, entok dan jenis burung lainnya. Virus Flu Burung ini biasanya tidak menginfeksi manusia. Namun, selama wabah flu burung yang terjadi pada unggas (ayam peliharaan, itik, kalkun, burung dara), ada peningkatan risiko terjadi penularan terhadap manusia, kemungkinan penularan itu terjadi pada orang-orang yang memiliki kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang telah terkontaminasi dengan ekskresi dari burung yang terinfeksi.
Wabah flu burung saat A (H5N1) pada unggas di Asia termasuk Indonesia adalah contoh kasus dari wabah flu burung yang telah menyebabkan infeksi pada manusia dan mampu menyebabkan kematian pada manusia. Dalam situasi seperti itu, orang harus menghindari kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang terkontaminasi, dan harus berhati-hati ketika menangani dan memasak unggas.
Apa saja gejala flu burung pada manusia?
Gejala flu burung pada manusia hampir mirip dengan gejala flu biasa yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, infeksi pada mata, pneumonia atau radang paru-paru, penyakit pernafasan yang parah (seperti gangguan pernapasan akut), dan komplikasi penyakit yang parah dan mengancam jiwa manusia . Gejala flu burung mungkin tergantung pada virus mana yang menyebabkan infeksi.
Bagaimana flu burung pada manusia diobati?
Studi menunjukkan bahwa obat-obatan resep seperti tamiflu dll telah disetujui untuk pengobatan virus flu manusia, obat flu tersebut akan bekerja dalam mencegah infeksi flu burung pada manusia. Namun, virus flu dapat menjadi resisten terhadap obat-obatan, sehingga obat-obat ini mungkin suatu saat tidak akan efektif lagi, seiring dengan cepatnya mutasi virus H5N1 ini.
Sejarah munculnya flu burung didunia dan bagaimana penyakit itu bisa menyebar?
Dimulai pada akhir Juni 2004, wabah baru yang mematikan yang terjadi di hewan jenis unggas telah muncul yaitu Infeksi influenza (H5N1) telah dilaporkan oleh beberapa negara di Asia, seperti negara: Kamboja, Cina, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sejak saat itu telah diidentifikasi di bagian lain di Asia, Eropa, dan Afrika.
Ada 271 kasus flu burung pada manusia tipe A (H5N1), yang mengakibatkan 57 kematian telah dilaporkan pada Januari 2004 sampai 3 Februari 2007. Virus flu burung tipe A (H5N1) ini bersifa epizootic di Asia dan diperkirakan tidak akan berkurang secara signifikan dalam jangka waktu yang pendek. Kemungkinan bahwa infeksi H5N1 di antara burung-burung telah menjadi endemik ke wilayah tersebut dan bahwa infeksi pada manusia akan terus terjadi.
Sejauh ini, tidak ada laporan tentang penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan dari virus H5N1 yang ada hanya dalam satu keluarga atau klan, namun, wabah di Asia merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang penting. Jika virus H5N1 memperoleh kemampuan untuk melakukan transmisi yang efisien dan berkelanjutan pada manusia, ada sedikit kekebalan alami yang didapat pada paparan virus sebelumnya di sedikit populasi manusia, dan yang terjadi selanjutnya adalah terjadinya pandemi influenza yang menyebabkan tingginya tingkat penyakit flu burung dan kematian pada manusia secepat dan setinggi pada kematian unggas pada saat ini. Selain itu, urutan genetik dari sampel virus influenza A (H5N1) dari kasus manusia di Vietnam dan Thailand menunjukkan adanya resistensi obat antivirus seperti amantadine dan rimantadine, dua obat antivirus tersebut merupakan obat yang biasa digunakan untuk pengobatan influenza. Sehingga saat ini hanya ada dua jenis obat antivirus yang tersisa dan masih efektif untuk melawan virus flu burung yaitu oseltamivir dan zanamivir.
Hal tersebut memberikan alasan lebih lanjut tentang mengapa kita sangat khawatir terhadap flu burung ini. Perkembangan virus H5N1, baru-baru ini menunjukkan bahwa saat ini telah beredar strain virus H5 menjadi lebih mampu menyebabkan penyakit (patogen) untuk mamalia dari virus H5 sebelumnya dan menjadi lebih luas, bukan hanya terjadi pada burung dan ayam di wilayah tersebut melainkan telah terjadi pada bebek seperti yang terjadi di daerah Brebes dan daerah Indonesia lainnya. Laporan terakhir bahwa bebek-bebek tersebut mati karena terinfeksi virus flu burung atau H5N1. Padahal sebelumnya bebek-bebek tersebut lebih tahan dalam menghadapi flu burung dan bebek dahulunya bertindak sebagai hewan carrier atau hewan penular ke unggas jenis ayam. Hal ini memiliki implikasi bahwa peran bebek memiliki potensi menularkan penyakit flu burung ke unggas lainnya dan mungkin bagi manusia juga. Selain itu, temuan lainnya telah didokumentasikan bahwa infeksi H5 telah terjadi di hewan babi yaitu di negara Cina dan infeksi H5 pada kucing (uji eksperimental pada kucing peliharaan di Belanda dan isolasi virus H5N1 dari harimau dan macan tutul yang terinfeksi di Thailand), hal tersebut menunjukkan bahwa kucing bisa menjadi tuan rumah / carrier atau bisa menularkan penyakit pada hewan lain atau manusia.

Jenis Cacing Gelang / Tambang Pada Kucing

Ada beberapa jenis cacing yang sering menyerang dan menginfeksi usus kucing. Gejala klinis kucing cacingan adalah dengan menunjukkan ciri-ciri tertentu seperti kucing menjadi kurus, perut membesar, bulu kucing kusam, tingkah laku kucing menjadi tidak energik, terkadang muntah sampai mengeluarkan cacing dari dalam perut atau lambungnya, kucing dapat mengalami diare berair bahkan sampai diare berdarah, nafsu makan kucing menurun dan kucing mengalami anemia atau kekurangan darah.
Penyakit cacingan pada kucing ini bisa menyebabkan kegagalan vaksinasi sehingga kekebalan tubuh tidak bisa optimal. Inilah yang menjadi alasan mengapa dokter hewan selalu memberitahukan dan mengingatkan agar pemberian dan pengobatan cacing harus dilakukan secara rutin dan berkala.
Cacing-cacing yang banyak menyerang usus kucing diantaranya adalah Cacing Ancylostoma (Cacing Tambang atau Cacing Gelang), Cacing Ascaris, dan Cacing Cambuk (Trichuris).

Cacing Ancylostomiasis Pada Kucing
Cacing Ancylostoma atau Cacing Tambang atau Cacing Gelang, merupakan cacing yang hidup di usus kucing dewasa. Kerugian akibat infeksi cacing ini adalah Berat kucing turun, bulu kucing kusam, rontok, dan cacing ini juga merupakan penyebab mengapa kucing kita sering sakit-sakitan. Hampir semua kucing dewasa mengidap penyakit ini dengan jumlah infeksi yang bervariasi serta derajat kerusakan organ tubuh yang bervariasi juga. Ada yang parah ada yang ringan.
Penyakit cacing tambang umumnya bersifat kronis dan kucing dapat mati apabila disertai dengan adanya infeksi sekunder. Infeksi sekunder itu bisa oleh bakteri ataupun oleh virus.
Ciri-ciri kucing yang terinfeksi cacing jenis ancylostoma adalah nafsu makan kucing turun, mata kucing berair, kucing sering nampak lesu, pucat, bulu kucing kusam, dan kucing mengalami kekurangan darah atau anemia. Kemudian jika diikuti infeksi sekunder, kucing akan menderita mencret berlendir bahkan ada yang sampai diare berdarah, berwarna kemerahan. Cacing ancylostoma ini juga dapat menimbulkan radang paru-paru pada kucing akibat larvanya tersebut.
Cacing tambang ini sering menyerang usus halus, cacing tersebut menghisap darah dan meninggalkan jejas atau luka, kemudian menimbulkan radang pada usus halus dan menyebabkan pendarahan sehingga mengakibatkan mencret berdarah pada kucing.
Patogenesis Cara Penularan cacing tambang ini adalah setelah telur cacing menetas, larva cacing yang infektif akan menembus kulit kucing, lalu larva tersebut masuk ke aliran darah kucing hingga sampai ke hati dan paru-paru kucing. Dari paru-paru, larva akan ke usus, jika kucing batuk maka cacing itu akan tertelan masuk ke perut kemudian berdiam di usus halus, dan selanjutnya di usus kucing tersebut cacing akan tumbuh menjadi dewasa.

Penularan cacing jenis ini bisa melalui makanan yang berceceran diatas kandang dan tertelan oleh kucing, atau bisa juga kucing makan di tempat yang tercemar cacing ancylostoma tersebut.
Tanda-tanda atau ciri-ciri kucing yang terinfeksi cacing ancylostomiasis adalah kucing tampak lesu diikuti dengan nafsu makan yang berkurang, mata tampak pucat dan selalu berair, selaput putih terkadang menutup mata kucing, kucing mengalami anemia dan menjadi kurus seperti kekurangan gizi. Yang paling menonjol adalah perut kucing agak membesar dan lama kelamaan kucing mengalami diare atau mencret berlendir sampai berdarah.

Apabila infeksi cacing tersebut diikuti oleh infeksi sekunder oleh bakteri maka gejala yang terlihat di saluran pencernaan adalah subtansi mencret/ diare berwarna coklat sampai kemerahan seperti darah serta berbau amis. Kadang-kadang kucing akan mengalami muntah-muntah bahkan tidak jarang cacing ikut keluar melalui mulut kucing terbawa muntahannya tersebut.
Jika larva berada di saluran pernafasan maka kucing akan menderita radang saluran pernafasan, yang dicirikan hidung menjadi kering dan adanya leleran yang encer sampai kental berwarna hijau kekuningan di hidung kucing, kucing juga akan menderita nafas sesak, mata menjadi merah, terjadi batuk-batuk berkepanjangan, kucing menjadi sangat lemah tidak lincah lagi, lalu terbaring dan koma serta akhirnya kucing akan mati.

Pencegahan dan Pengobatan Kucing Cacingan
Pencegahan yang dianjurkan adalah menjaga kebersihan kandang, makanan, minuman, serta program pemberian obat cacing secara rutin 3 bulan sekali.
Sedangkan untuk pengobatan cacingan pada kucing adalah pemberian obat cacing albendazol 3 hari berturut-turut dan dilanjutkan 2 minggu kemudian, dan diulang lagi 3 bulan sekali. Obat albendazole sudah sangat terbukti ampuh membasmi cacing dengan cara menghancurkan cacing hingga tuntas.

Demikian seputar jenis infeksi cacing gelang/ tambang / Ancylostoma yang menyerang usus kucing termasuk pencegahan, pengobatan dan cara penularannya, semoga dapat bermanfaat.

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing | Penyakit Hewan. Panas demam pada tubuh kucing terjadi apabila suhu tubuh kucing diatas 39,4 o C , keadaan ini merupakan keadaan abnormal dimana suhu tubuh kucing meningkat melebihi suhu tubuh normal. Panas demam biasa juga disebut dengan istilah pireksia, febris atau tubuh kucing mengalami hypertermia.
Penyebab panas demam pada kucing bisa disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh kucing atau adanya reaksi pembentukan interleukin I untuk mengaktifkan Sel T dalam menghasilkan zat kebal. 
Demam juga berhubungan dengan pirogen, yang merupakan suatu zat yang merangsang pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam. Zat pirogen ini biasanya berupa semacam protein, pecahan protein, atau zat lain seperti toksin polisakarida.
Kucing dalam kondisi sakit karena bakteri, akan memicu munculnya toksin polisakarida, ini karena adanya degenerasi jaringan tubuh akibat infeksi bakteri patogen yang toksik. 
Mekanisme panas demam pada kucing dimulai dari munculnya reaksi tubuh kucing terhadap zat pirogen. Kemudian bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar( inilah jawaban mengapa pada hasil laboratorium terhadap leukosit meningkat pada saat demam akibat bakteri). Seluruh sel ini (leukosit cs) kemudian memakan hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai otak kucing atau tepatnya di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu beberapa menit kemudian. Interleukin-1 ini juga menyebabkan pembentukan prostaglandin E2 yang bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi panas demam. 

Pada saat terjadi panas demam, gejala klinis yang nampak adalah peningkatan denyut jantung, peningkatan laju dan kedalaman pernafasan, tubuh menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot, bulu kucing berdiri , kucing mengalami rasa haus dan sering minum, dehidrasi ringan hingga berat, mengantuk ditandai munculnya selaput putih pada mata kucing, delirium, atau kejang akibat iritasi sel saraf , hilangnya nafsu makan pada kucing ( jika panas demam berlanjut berkepanjangan ), kucing mengalami kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein 

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing

Untuk mengatasi panas demam yang terjadi pada kucing, secara umum dapat dilakukan pengobatan sebagai berikut :
  • Beri kucing banyak minum untuk meminimalisir adanya dehidrasi pada waktu menderita panas demam. 
  • Berilah susu untuk meningkatkan nilai gizi, jika perlu pemberian madu sangat disarankan. Madu dan susu berguna untuk meningkatkan stamina kucing.
  • Beri kompres di beberapa bagian tubuh, dengan cara meletakan kain basah disekitar tubuh kucing.
  • Untuk kasus panas demam karena adanya infeksi bakteri, maka pemberian suport terapi dan antibiotik yang sesuai sangat dianjurkan.Tetapi untuk kasus demam karena trombositopenia, pengunaan antibiotik harus dibawah pengawasan yang ketat, ada beberapa jenis antibiotik yang tidak boleh digunakan pada saat terjadi kondisi trombositopenia.  Karena kesalahan dalam mengunakan antibiotik akan memperparah keadaan.
Demikian cara mengatasi dan mengobati panas demam pada kucing, semoga bermanfaat.

Penyakit FeLV & FIV Pada Kucing

Penyakit FeLV dan FIV pada kucing merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat berdampak buruk pada kucing. Kedua virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh kucing, sehingga mudah terserang penyakit lain, keadaan ini mirip dengan HIV pada manusia. 
penyakit pada kucing
Penyakit Pada Kucing

PENYAKIT FeVL PADA KUCING
Penyakit FeLV (Feline Leukemia Virus) merupakan penyakit pada kucing yang disebabkan oleh virus dan virus ini dapat menyebar dan menular melalui air liur dari kucing yang terinfeksi ke kucing yang lain. Penularan ini biasanya terjadi ketika kucing saling menjilati antara satu dengan yang lain, induk kucing yang sering menjilati anaknya, termasuk juga menjilati pada mangkuk makanan dan minuman. Virus ini juga dapat menyebar melalui urine dan feses pada saat kucing membuang air kecil atau besar pada tempat yang sama. Sekitar 30% dari kucing yang terinfeksi dapat sembuh sepenuhnya dan tidak lagi membawa virus. Sekitar 30% dari kucing yang terinfeksi menjadi pembawa virus. 30% sisanya dari kucing mati akibat penyakit FeVL.
Virus FeLV menyebabkan beberapa kondisi yang terjadi pada kucing. Ini termasuk limfoma, anemia, defisiensi imun dan menurunnya kekebalan tubuh kucing. Penyakit FeLV dapat didiagnosis dengan menggunakan tes darah secara sederhana, yang berguna untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya FeLV-antigen.
Tidak ada pengobatan efektif yang terbukti ampuh untuk mengobati penyakit FeLV pada kucing ini, dan saat ini para peneliti masih berusaha untuk menemukan obat atau cara mengobati penyakit ini. Hal ini terpenting yang harus dilakukan untuk menangani penyakit FeLV adalah hanya mengobati infeksi sekundernya saja seperti infeksi bakteri dan jamur serta memberikan terapi suportif bila itu diperlukan.
Pencegahan penyakit FeLV dapat dilakukan dengan cara meminimalkan kontak dengan kucing yang terinfeksi FeLV dan dengan vaksinasi FeLV.
Sebelum vaksinasi FeVL, disarankan untuk menguji apakah ada atau tidak kucing yang akan divaksin mengidap penyakit FeLV. Ini dilakukan untuk menghindari kegagalan vaksinasi FeVL dan agar tidak memperburuk kondisi kucing yang bersangkutan.

PENYAKIT FIV PADA KUCING
Kemudian penyakit FIV (Feline Immunodeficiency Virus) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini juga dapat menyebar dan menular ke kucing lain yang sehat melalui air liur kucing yang terinfeksi, virus ini juga bisa menular melalui luka gigitan ketika terjadi perkelahian antar kucing sehat dengan kucing yang terifeksi FIV.
FIV Infeksi menyebabkan kerusakan sel limfosit T (sel darah putih yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh). Hal ini menyebabkan infeksi bersifat kronis dan dapat berulang-ulang. Infeksi FIV ini dapat bersifat seumur hidup dan akhirnya berakibat fatal pada kucing. FIV infeksi juga dapat didiagnosis dengan menggunakan tes darah secara sederhana, yang mendeteksi antibodi terhadap virus FIV.
Infeksi Penyakit FIV dapat disembuhkan, tetapi kucing asimtomatik dapat hidup selama bertahun-tahun sebelum kucing tersebut menunjukan gejala atau tanda-tanda klinis. Gejala yang muncul, Kucing sering sakit-sakitan seumur hidupnya selama berbulan-bulan sehingga membutuhkan antibiotik dan perawatan suportif untuk mempertahankan hidup kucing tersebut.
Yang menjadi masalah adalah bahwa penyakit FIV ini belum ada vaksinnya. Satu-satunya cara untuk mencegah infeksi penyakit FIV adalah menghindari kucing kontak dengan kucing liar atau bisa juga dengan cara mengebiri kucing jantan sehingga kucing tersebut menjadi lebih tenang dan tidak berkelahi/bertarung dengan kucing liar.
Jika kucing kita terinfeksi, baik itu oleh FeLV atau FIV maka kita harus mencegah agar dan menghindari kontak langsung antara kucing yang sehat dengan kucing yang terinfeksi.


Penyakit Pada Kucing Yang Gemuk

 jenis penyakit pada kucing yang gemukAda beberapa jenis penyakit pada kucing yang mengalami kegemukan dan ini terkadang tidak disadari oleh pemilik kucing. Memang kucing yang gemuk akan membuat kita senang karena penampilannya yang lucu dan menarik, namun dibalik itu bahwa kucing yang gemuk memiliki resiko penyakit yang lebih besar dibanding dengan kucing yang memiliki berat badan sedang atau normal.
Kegemukan atau obesitas pada kucing berhubungan dengan adanya penimbunan lemak dalam tubuh kucing sebgai akibat dari makan yang terlalu berlebih. Ini akan mempengaruhi organ-organ tubuh yang lain termasuk hati, jantung, sendi dan kulit kucing.Organ-organ akan terpangaruh dari fungsi kerja, sehingga bisa menimbulkan masalah dikemudian hari.
Berikut adalah jenis penyakit pada kucing akibat kegemukan atau obesitas :

  1. Penyakit Kulit
  2. Pada kucing yang gemuk memiliki resiko penyakit kulit yang lebih besar dari kucing yang normal, penyakit kulit yang dimaksud adalah kulit kering bersisik dan masalah adanya acne atau semacam jerawat pada kulit.Hal ini merupakan pengaruh dari lemak yang berlebih yang berada dibawah kulit kucing yang gemuk tersebut, sehingga menyebabkan minyak lemak bisa muncul berupa jerawat.
  3. Penyakit Jantung
  4. Fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh, jika banyaknya lemak di sekitar jantung tentu akan mengganggu kerja jantung, ditambah banyaknya lemak yang ada disekitar pembuluh darah sehingga elastisitas pembuluh menjadi terganggu. Akibatnya jantung akan bekerja keras secara terus menerus, pada akhirnya jantung akan mengalami dilatasi pada ventrikelnya. Lama-kelamaan jantung akan mengalami kelemahan.
  5. Penyakit Diabetes Melitus
  6. Kucing yang gemuk memiliki resiko 2-4 kali lebih banyak terserang diabetes melitus, ini bisa dipahami sebagai berikut ; Obesitas atau kelebihan berat badan / kegemukan pada kucing menyebabkan peningkatan sekresi insulin dalam menanggapi peningkatan glukosa darah di tubuh kucing itu. Pemacuan pengeluaran Insulin oleh pankreas yang melebihi ambang batas normal dan kemampuan dalam jangka waktu yang lama, maka akan menjadi pemicu terjadinya diabetes melitus pada kucing.
  7. Penyakit Arthritis
  8. Pada kucing yang gemuk, kejadian arthritis juga lebih besar dari pada kucing yang normal. Dengan berat badan yang berat keadaan sendi pada kaki kucing juga akan bekerja berlebih, terutama saat melompat dan berjalan. Hal ini bisa meningkatkan resiko terjadinya arthritis pada kucing.

Disamping penyakit tersebut diatas, kucing yang genuk juga akan memerlukan dosis anastesi atau obat bius yang lebih banyak dibanding dengan kucing yang kurus ataupun kucing yang normal. Ini disebabkan karena obat bius tersebut akan terserap pada lemak dan biasanya kucing yang gemuk lebih tahanlama tidak pingsan dibanding kucing yang memiliki berat badan normal.
Demikian jenis penyakit pada kucing akibat kegemukan dan resiko jika kucing yang obesitas. Semoga bermanfaat.

Konsultasi Penyakit Hewan Online


Selamat datang di Konsultasi Penyakit Hewan Online, Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang penyakit hewan anda di sini. Untuk itu kami berharap agar Anda mengisi form isian dibawah dengan benar, lalu klik submit.
Konsultasi ini bersifat gratis, artinya tidak dipungut biaya apapun dan kami tidak mengambil keuntungan apapun dari konsultasi penyakit hewan ini.
Jawaban yang akan kami kirim ke E-Mail Anda berupa Diagnosa, Analisa Penyakit, Solusi dan Saran Pengobatan. Sehingga jika alamat e-mail anda tidak benar (salah ketik, kurang hurup, email tidak terdaftar dsb) maka jawaban tidak terkirim (failure notice), maka pastikan alamat email anda di ketik dengan benar.

Syarat dan Ketentuan :
  • Ketepatan diagnosa kami tidak 100 % benar, karena kami tidak memeriksa sendiri kondisi fisik hewan dan gejala kliniknya, serta tidak ada hasil uji laboratorium baik itu uji feses/tinja maupun uji darah, sehingga tingkat ketepatan diagnosa dibawah 100 %. 
  • Diagnosa yang kami berikan berdasarkan pendekatan gejala klinik yang terjadi pada hewan anda sesuai informasi yang Anda berikan kepada kami. Sehingga jika anda memberikan informasi yang salah maka diagnosa-nya-pun akan salah juga dan menyebabkan obatnya juga akan salah.
  • Diagnosa yang kami berikan bukan untuk di adu dengan diagnosa dokter hewan lain. 
  • Diagnosa dan Saran Pengobatan ini bersifat GRATIS, maka tidak ada kewajiban dari kami untuk langsung menjawab pertanyaan Anda. Mungkin bisa 1 atau beberapa hari kemudian jawaban kami kirim ke Anda, tergantung dari kesibukan kami di dunia nyata (mohon maaf dan harap maklum)
  • Saran pengobatan yang kami berikan tidaklah mengikat artinya boleh dilakukan, boleh juga tidak dilakukan. 
  • Kesalahan pemberian obat baik cara, aplikasi, jenis obat sehingga menyebabkan hewan mengalami cidera, luka atau bahkan bisa meninggal baik karena penyakit itu sendiri atau karena obat, bukan menjadi tanggungjawab kami. Semua itu menjadi tanggungjawab Anda sendiri. Jika anda setuju silahkan isi form dibawah, namun jika Anda tidak setuju harap jangan isi form di tersebut. 
  • Dengan mengisi form dibawah berarti anda telah menyetujui syarat dan ketentuan dari konsultasi penyakit hewan online.
Catatan Penting : 
Diagnosa dan Pengobatan akan lebih tepat jika Hewan Anda langsung diperiksa oleh Dokter Hewan di Klinik Hewan atau di tempat praktek yang mempunyai peralatan medis yang lengkap beserta hasil uji lab.


Ciri-ciri Kucing yang Sakit

Ciri-ciri Kucing yang Sakit | Penyakit Hewan. Bagaimana menentukan dan melihat ciri-ciri kucing yang sakit...? Setiap mahluk hidup, baik itu manusia, tumbuhan, maupun hewan dalam hal ini termasuk kucing pasti pernah mengalami sakit. Keadaan sakit pada kucing tentu tidak akan kita ketahui jika kita tidak mengetahui ciri-ciri atau tanda-tanda kucing yang sedang sakit. Lain halnya dengan manusia yang dibekali kemampuan berbicara, kucing tidak bisa mengatakan bahwa dia sedang sakit. Si kucing hanya menunjukkan gejala-gejala sakit, dia juga tidak bisa mengatakan bahwa lehernya gatal, kulitnya gatal, badannya lemas, makan tidak enak dan sebagainya.
Kita sebagai pemilik kucing harus mengetahui tentang tingkat kesehatan kucing kita sendiri dengan cara mengetahui ciri-ciri kucing yang sedang sakit. Ada beberapa ciri dan tanda kucing yang sedang sakit, diataranya adalah :
  1. Suhu tubuh kucing demam, biasanya jika kucing mengalami demam maka kemungkinan besar bahwa si kucing telah terinfeksi bakteri. Demam sendiri diartikan sebagai reaksi atau respon kekebalan tubuh terhadap masuknya benda asing terutama bakteri. Bakteri ini bisa saja menyerang saluran pencernaan, saluran pernafasan, sistem peredaran darah dan lain-lain tergantung jenis bakterinya. Suhu tubuh kucing yang normal adalah sekitar 37-39 derajat C, artinya jika suhu tubuh kucing mencapai 40o maka kucing dinyatakan demam.Untuk pemeriksaan suhu tubuh, biasanya kita mengunakan thermometer yang biasa digunakan oleh manusia, hanya caranya saja yang berbeda, jika pada manusia thermometer dipasang di ketiak atau di leher, pada kucing dipasang di anus. Cara mengukur suhu tubuh kucing adalah masukan thermometer kedalam anus kucing, tunggu beberapa saat dan lalu setelah dirasa stabil dan tidak ada pergerakan air raksa dalam thermometer tersebut maka kita cabut thermometer tersebut dan dilihat angkanya.
  2. Selaput lendir di mata, hidung, mulut memerah atau tepatnya rose, kondisi ini menunjukkan adanya suhu yang meningkat akibat peradangan.
  3. Adanya pembengkakkan kelenjar pertahanan lokal, bisa di kaki depan-belakang, di leher, di daerah mandibula. Ini menunjukkan adanya infeksi di daerah yang dinaungi atau daerah yang berhubungan dengan kelenjar pertahanan lokal tersebut. Biasanya pembesaran limphoglandula akibat adanya luka pada sekitar daerah limphoglandula tersebut. 
  4. Nafsu makan turun atau tidak mau makan sama sekali. Jika nafsu makan kucing turun, ada kemungkinan adanya gangguan di saluran pencernaan atau di daerah mulut kucing terutama gigi. Namun itu tidaklah menjadi patokan, karena pengaruh perubahan pola makan dan jenis pakan juga bisa menjadi penyebab kucing tidak mau makan. Kucing di nyatakan sakit bila pola/jenis makanannya tetap namun kucing tidak mau makan. Kondisi ini jika dibiarkan akan mennyebabkan penurunan berat badan dan penurunan tingkat kekebalan tubuh kucing.
  5. Kucing mengalami lesu, lemah, tidak bergairah, tidak mau bermain, hanya tiduran atau kesemuanya itu disebut kelemahan umum. Kelemahan umum ini sebenarnya lebih berkaitan dengan nafsu makan yang menurun, kucing yang seharusnya mendapat energi yang berasal dari makanan karena tidak mau makan maka kucing menjadai tidak bertenaga.
  6. Anemia pada kucing, ini juga lebih berkaitan dengan makanan, namun ada juga anemia disebabkan karena parasit terutama cacing usus yang menyerap vitamin B kompleks. Kekurangan zat besi (fe) dalam darah dan kekurangan vitamin B komplek akan menyebabkan kucing kekurangan Hb yang berdampak pada keajadian anemia.
  7. Bulu kucing kusam atau sampai mengalami kerontokan. Ini juga merupakan salah satu ciri adanya penyakit pada kucing kita, bisa karena kekurangan vitamin ADE, adanya parasit ( tungau, demodeks, kutu) yang bisa menyebabkan penyakit kulit pada kucing atau bisa juga karena adanya infeksi cacing di dalam usus sehingga bulu kucing menjadi kusam, adanya tumor, atau bisa juga kerontokan bulu kucing disebabkan ketidak keseimbangan hormonal.
  8. Kucing mengalami diare atau mencret, kondisi penyakit ini bisa disebabkan oleh parasit, bakteri, jamur, virus maupun adanya pengunaan obat-obat tertentu yang menyebabkan gerakan periltastik usus meningkat.Disamping kucing mencret, kucingpun bisa mengalami sembelit atau susah buang air besar, biasanya lebih mengarah pada kondisi kurang serat dan kejadian hairball / bola bulu dalam usus kucing.
  9. Kucing mengalami kesusahan membuang urine atau air seni, biasanya ini berhubungan dengan adanya infeksi pada daerah ureter dan uretra kucing di sekitar vesica urinaria atau di daerah ginjal kucing. Urine ini bisa juga dalam bentuk materi yang mengandung darah atau bisa juga urine mengandung protein dan gula yang tinggi.
  10. Kucing mengalami muntah, keadaan ini bisa disebabkan oleh radang lambung, menelan racun atau benda asing, hairball yang menyebabkan obstruksi di usus atau bisa juga faktor alergi makanan.
  11. Kucing mengalami gangguan pada mata, ini bisa disebabkan berbagai sebab yaitu bisa karena konjungtivitis, keratitis, glaukoma dsb. Penyebabnya pun bisa bermacam-macam gangguan fisiologis pada mata kucing, bakteri, virus, ataupun parasit juga bisa mempengaruhinya.
  12. Kucing mempunyai benjolan-benjolan abnormal yang bisa mengarah pada tumor ataupun kanker.
Pada prinsipnya ciri-ciri kucing yang sedang sakit adalah adanya gangguan fungsi organ kucing akibat masuknya zat / materi /organisme pengganggu yang menyebabkan abnormalitas organ. Contoh diatas merupakan bagian kecil dari ciri-ciri dan tanda-tanda kucing yang sedang sakit jika dilihat dari gejala klinis, masih banyak ciri-ciri yang lain seperti kaki kucing pincang, gangguan kulit, gangguan telinga, gangguan sakit mulut dan kerongkongan, denyut jantung yang lambat/cepat, laju pernafasan kucing yang dangkal dsbnya. Namun walau begitu diharapakan bahwa pemilik hewan kesayangan kucing sudah mengetahui secara garis besar bahwa kucing yang sakit jika menunjukkan gejala seperti diatas harus segera di bawa ke dokter hewan terdekat untuk mendapakan pengobatan yang sesuai. 
Demikian mengenai ciri-ciri kucing yang sedang sakit, semoga dapat bermanfaat.

Pengobatan Hairball Pada Kucing

Hairball_Bola Bulu Kucing
Hairball / Bola Bulu Kucing
Hairball pada kucing merupakan suatu keadaan dimana adanya bulu-bulu kucing berbentuk bola di dalam lambung atau di usus perut kucing. Seperti kita ketahui bahwa bulu kucing tidak dapat tercerna oleh usus, sehingga jika kucing menelan bulu karena seringnya menjilati bulunya sendiri maka lambat laun akan menumpuk di dalam perut. Kondisi ini adalah wajar dan tidak masalah jika dalam jumlah yang kecil, namun akan menimbulkan masalah jika dalam jumlah yang banyak dan bola bulu dalam perut kucing membesar akibat adanya akumulasi masuknya bulu ke dalam usus/lambung kucing.
Biasanya, sebagian besar rambut yang tertelan oleh kucing akan dikeluarkan melalui sistem pencernaan kucing dalam tinja nya. Masalah akan terjadi ketika bulu-bulu tersebut tidak bisa diekskresikan/dikeluarkan dan mengumpul/menumpuk di perut atau usus kucing kemudian bulu-bulu tersebut membentuk bola padat dan menyebabkan obstruksi di perut. Yang terjadi kemudian kucing akan mencoba memuntahkan Bola Bulu tersebut keluar dari perut.
Tanda-tanda klinis hairballs pada kucing lebih sering dikaitkan dengan sistem pencernaan seperti kucing mengalami muntah-muntah, kehilangan nafsu makan, dan terjadinya sembelit. Kejadian Hairballs sendiri tidak menyebabkan gejala-gejala pernapasan pada kucing, sehingga tidak muncul gejala sesak nafas ataupun batuk pada kucing penderita hairball. Sebagian besar kejadian impaksi pada kucing adalah akibat adanya benda asing yang terjebak di dalam usus kucing disebabkan oleh bulu kucing yang berbentuk bola padat.
Tanda-tanda lain pada kasus hairball yang parah adalah perut kucing membesar, tidak bisa buang air besar atau bisa juga terjadi diare, muntah-muntah, nafsu makan kucing menurun.
Pengobatan yang sering dilakukan adalah memberikan produk-produk yang bekerja untuk membersihkan dan mengeluarkan bulu-bulu tersebut dari perut kucing. Obat tersebut berfungsi sebagai pelumas sehingga bulu dalam perut kucing mudah keluar melalui tinja. Contoh obat untuk hairball pada kucing adalah Laxaton ataupun catlax. Namun jika bola bulu di dalam perut kucing sangat besar maka tindakan operasi merupakan salah satu pilihan dalam mengatasi hairball tersebut.
Sebelum terjadi hairball pada kucing ada baiknya kita mencegah kajadian tersebut. Ada beberapa langkah pencegahan agar tidak terjadi hairball pada kucing diantaranya adalah :
  • Sering-seringlah menyisir bulu kucing, sehingga bulu yang longgar dan rontok dapat dihilangkan dari tubuh kucing.
  • Ada baiknya mengelap bulu kucing dengan lap basah
  • Mengunakan produk yang dapat mengeluarkan bulu dari dalam perut kucing, contohnya laxative, laxaton, catlax dll. 
Gunakan produk-produk yang dijual  di pasaran yang dapat membantu kucing untuk mengatasi hairball biasanya terdiri minyak yang tidak tercerna oleh usus kucing namun produk tersebut aman untuk digunakan dan tidak menimbulkan masalah di perut kucing. Produk tersebut bekerja sebagai pelumas di saluran pencernaan kucing untuk membantu agar bulu mudah keluar dari perut kucing. Jika hal ini dilakukan secara rutin, maka bola bulu tidak pernah terbentuk.
Kami tidak menyarankan Anda menggunakan produk buatan sendiri yang mengandung mentega atau minyak, karena hal tersebut bisa membawa masalah pencernaan lain atau diserap oleh sistem pencernaan kucing. 
Diet tinggi serat atau suplemen serat juga dapat membantu dengan masalah hairball kronis. Serat dapat membantu mengeluarkan bulu berlebih melalui sistem pencernaan kucing dan akan dikeluarkan melalui tinja. Apapun produk yang Anda pilih, menggunakannya secara teratur, sesuai dengan rekomendasi pabrikan, untuk mencegah terulangnya hairball.
Demikian semoga dapat bermanfaat.
Support : DMCA Protection | Penyakit Hewan
Copyright © 2013. PENYAKIT HEWAN - All Rights Reserved
Kontak Kami
Template Modify by PENYAKIT HEWAN
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger