Cara Mengobati Luka Pada Kucing

Cara Mengobati Luka Pada Kucing | Penyakit Hewan. Pada saat kucing terluka baik itu disebabkan oleh perkelahian, tersayat benda tajam, tersiram air panas, terkena zat kimia korosif seperti air accu dsbnya, maka yang harus dilakukan adalah merawat luka tersebut agar tidak menjadi bernanah atau bahkan bisa sebagai pintu masuk penyakit pada kucing kita. Banyak sekali jenis penyakit yang bisa masuk melalui luka seperti clostidium tetani, antraks, dll.

Merawat dan mengobati luka kucing pada dasarnya sama dengan merawat luka pada manusia dan obat yang digunakannya juga bisa sama. Secara garis besar luka dibedakan menjadi 2 yaitu luka lama dan luka baru. Melihat sejarah luka lama yang telah menjadi nanah berarti luka tersebut telah terjadi infeksi bakteri sehingga proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang agak lama dan telaten, berikut caranya :

Cara Mengobati Luka Yang Bernanah Pada Kucing
  • Langkah pertama adalah mengunting bulu yang ada disekitar lokasi luka, lalu bersihkan luka pada kucing dengan kapas yang telah dicelupkan atau dibasahi dengan air hangat yang bersih plus rivanol. Jika luka tersebut telah menjadi nanah, maka keluarkan materi cairan nanah tersebut dari luka dan bersihkan dengan mengunakan kapas yang dibasahi air hangat.
  • Lalu bersihkan lagi dengan menggunakan alkohol 70 % memakai kapas,
  • Langkah selanjutnya adalah pemberian antibiotik, kita bisa mengunakan penstrep, oksitetraciklin atau antibiotik jenis sulfa, contoh merk obatnya adalah Limoxin-25 Spray. Oleskan, semprot dengan antibiotik tersebut pada daerah luka pada kucing tersebut.
  • Setelah pemberian antibiotik selesai dilakukan maka selanjutnya berilah betadine atau yodium tinktur pada luka dengan maksud untuk mengikat agar antibiotik tetap menempel pada luka, disamping itu betadine berfungsi sebagi antiseptik yang baik untuk luka luar.
  • Balutlah dengan perban pada luka dengan mengunakan kapas dan kain kasa untuk mengindari invansi lalat. Atau jika anda mempunyai obat gusanex, maka semprotkanlah pada daerah sekitar luka.
  • Pemberian antibiotik secara injeksi dan anti radang perlu dilakukan jika luka menjadi sepsis dengan ciri suhu tubuh meningkat dan nafsu makan menurun, jika tidak menunjukkan hal tersebut antibiotik via injeksi tidak perlu dilakukan.
Cara Mengobati Luka Pendarahan dan Baru Pada Kucing
Sedangkan untuk luka yang baru pada prinsipnya hampir sama, hanya jika terjadi pendarahan yang hebat maka yang pelu kita lakukan pertama kali adalah menghentikan pendarahan tersebut dengan menekan pembuluh darah diatasnya, lalu berikan vitamin K untuk mempercepat pembekuan darah. Pengontrolan luka sebaiknya dilakukan setiap hari untuk mengetahui perkembangan luka tersebut. Dan sebaiknya kucing jangan bermain di tempat yang lembab dan basah, akan lebih jika diisolasi di dalam kandang.

CATATAN PENTING:
Pengobatan luka ini berlaku jika anda merasa yakin bahwa kucing terluka karena benda tajam, tetapi jika disebabkan karena berkelahi maka sebaiknya di bawa ke dokter hewan untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyakit rabies dan penyakit-penyakit lain yang bersifat zoonosis.

Demikian cara merawat dan mengobati kucing yang luka, semoga bermanfaat.

Jadwal Pemberian Makanan Anak Kucing

Feeding atau makanan untuk anak kucing yang baru di adopsi dengan baik adalah salah satu hal yang paling penting yang dapat kita lakukan untuk memastikan anak kucing tersebut dapat tumbuh menjadi kucing yang sehat. Memilih dan memberikan makanan yang tepat untuk kucing adalah salah satu hal pertama yang perlu dipertimbangkan. Sekarang ini mari kita bahas tentang apa yang harus memberi makan kucing Anda dan apa yang jadwal makan yang terbaik untuk kucing Anda.


Kittens / anak kucing memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dibandingkan dengan kucing dewasa. Makanan anak kucing memang dibuat khusus untuk anak kucing demikian juga sebaliknya makanan untuk kucing dewasa juga khusus diberikan untuk kucing dewasa. Untuk anak kucing pilihlah makanan yang dimaksudkan untuk pertumbuhan anak kucing kita.

Untuk mencari dan memilih makanan kucing maka yang harus dilakukan adalah dengan uji coba makanan tersebut. Biasanya pembuktian akan dinyatakan pada label yang didalamnya termasuk kadar protein, lemak, kabohidrat, kadar air dsb. Makanan juga dapat dibuktikan secara langsung dengan uji coba makanan pada kucing dan dapat juga secara analisis laboratorium atau melalui perbandingan dengan produk sejenis.

Ketika kita dihadapkan pada pilihan antara makanan kaleng atau makanan kering, mana yang kita pilih...? memilih makanan kaleng atau kering masing-masing memiliki keunggulan. Makanan kaleng memberikan kelembaban yang lebih dari pada makanan kering, ini berguna dalam menjaga agar kucing tidak mengalami terhidrasi. Hal ini dapat menjadi sangat penting untuk kucing di kemudian hari. Sedangkan makanan kering cenderung lebih mudahkan kita dalam memberi makan dan dapat dibiarkan untuk jangka waktu lama dalam mangkuk tanpa harus khawatir makanan tersebut kerusakan.

Makanan kering memang cenderung memiliki kandungan karbohidrat tinggi dari beberapa makanan kaleng, yang berarti bahwa jika diizinkan untuk makan berlebihan, maka kucing kita akan memiliki berat badan lebih atau mudah gemuk bila diberikan  makanan kering daripada makanan yang basah. Namun, Obesitas pada kucing saat ini merupakan penyakit gizi yang paling umum terlihat pada kucing. Sehingga memberikan pola makanan yang cukup dan tidak terlalu banyak agar kucing tetap ramping merupakan bagian penting  untuk menjaga kucing kita tetap sehat.

Jadwal Makanan Kucing
Banyak orang memberi makan kucing baru mereka hanya dengan mengisi mangkuk dengan makanan kering dan meninggalkan makanan tersedia sepanjang hari. Namun, menetapkan jadwal makan untuk anak kucing adalah ide yang baik. Jadwal makan untuk anak kucing memungkinkan kita untuk mengontrol diet anak kucing lebih mudah dan memastikan kucing kita tidak makan berlebihan dan mendapatkan berat badan terlalu banyak.

Hal-hal yang harus dilakukan adalah :
  1. Kucing baru harus diberi makan tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam adalah pilihan yang baik. Kita dapat mengatur jadwal agar sesuai dengan rutinitas kita sendiri, meskipun yang terbaik adalah menjaga rutinitas yang konsisten dari hari ke hari.
  2. Gunakan pedoman makan pada label makanan sebagai titik awal untuk menentukan berapa banyak kita memberi makan kucing kita. Pembagian porsi sehari menjadi tiga bagian yang sama, dengan cara membagi dan memberi makanan 1/3 bagian pada setiap makan. Pedoman makan kucing memberikan titik awal, tetapi kita perlu memantau kondisi tubuh kucing dan menyesuaikan jumlah makanan yang sesuai. Jika kucing mengalami berat badan yang terlalu banyak, maka yang harus dilakukan adalah mengurangi jumlah makanan. Sebaliknya, kita juga perlu meningkatkan jumlah makanan yang disajikan jika kucing kita terlalu kurus atau tidak mengalami kenaikan berat badan seperti yang diharapkan.
  3. Mendorong agar anak kucing kita melakukan olahraga, ini sangat baik untuk menjaga metabolisme dan kesehatan kucing. Namun, karena usia anak kucing baru sehingga mungkin menjadi lebih sulit agar dia mau berolahraga. Beberapa kucing sering bermalas-malasan di sofa dan kucing ini beresiko menjadi kelebihan berat badan atau bahkan obesitas.
  4. Gunakan puzzle makanan ketika makan kucing Anda. Ini merupakan perangkat yang berlubang dan bisa diisi dengan makanan. Puzzle agan mengelinding dan bergulir yang kemudian menyebabkan makanan akan keluar  dengan porsi kecil, untuk mengelindingkan puzzle tersebut kucing perlu mengerakannya untuk mendapatkan makanan yang ada didalam puzzle itu. Dengan demikian, kucing akan mendapatkan latihan, olah raga serta hiburan.
  5. Jangan memberi makan kucing di tempat yang sama, tapi cobalah menaruh makanan di lokasi yang berbeda dan membiarkan mereka menemukan makanannya dan ini berguna untuk mendapatkan latihan, olahraga dan hiburan bagi kucing.
  6. Jika kita memberikan makanan kaleng, maka makanan tersebut harus tidak lebih dari 20-30 menit. Jika lebih maka bisa menyebabkan sakit akibat makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. Perlu diingat bahwa makanan yang terlalu lama bisa menyebabkan basi, untuk itu jika lebih dari 30 menit maka kita harus membuang makanan sisa tersebut. Namun jika kita mengunakan makanan kering untuk kucing kita maka makanan tersebut bisa ditinggalkan untuk waktu yang lama.
  7. Namun, jika kita membuat keputusan untuk meninggalkan makanan kering agar tersedia setiap saat untuk kucing kita, maka yang harus diperhatikan adalah memastikan bahwa kucing kita tidak makan terlalu berlebihan. 
 Demikian jadwal pemberian makanan untuk anak kucing, semoga dapat bermanfaat.

Memilih Makanan Terbaik Untuk Kucing

Bagaimana Memilih Makanan Terbaik Untuk Kucing | Penyakit Hewan. Sebagai pemilik kucing, kita semua ingin menjaga hewan peliharaan kita sehat seperti yang kita inginkan selama mungkin kalau bisa seumur hidupnya. Sebagian besar dari kita menyadari bahwa makanan yang berkualitas tinggi adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan kucing. Namun, menemukan dan memilih makanan terbaik untuk kucing dapat membingungkan. Pilihan tampaknya tak berujung karena adanya perbedaan pendapat tentang bagaimana cara terbaik untuk memberi makan kucing.

Apa yang yang harus dilakukan untuk memilih makanan kucing terbaik?

Mulailah dengan melihat nama makanan kucing berserta komposisinya, jika makanan tersebut mengandung bahan tunggal, maka harus mengandung setidaknya 95% dari bahan murni, bukan termasuk air. Demikian juga, jika mengandung bahan makanan kombinasi, maka kombinasi makanan tersebut harus terdiri dari paling sedikit 95% dari makanan. Misalnya, jika makanan kucing merk A mengaku terbuat dari daging sapi, maka daging sapi harus ada sedikitnya 95% dari makananan kucing tsb. Jika merk yg lain mengklaim terbuat dari daging kalkun dan daging sapi, maka makanan kucing tersebut harus terdiri dari 95% daging kalkun dan daging sapi yang dikombinasikan.

Makanan kucing dengan frasa deskriptif dalam nama mereka harus mengandung setidaknya 25% dari bahan bernama. Produk-produk yang membawa nama yang menyatakan "dengan" bahan tertentu (seperti "dengan keju") hanya perlu mengandung 3% dari bahan bernama. Produk yang menyertakan "rasa" (seperti "rasa ayam" atau "rasa daging sapi") hanya berisi dalam jumlah yg sangat kecil.

Pemeriksaan Protein Makanan Hewan Selanjutnya, lihatlah daftar bahan. Perlu diingat bahwa bahan-bahan yang tercantum menunjukan berat per tiap bahannya. Bahan-bahan yang mengandung banyak air (seperti daging sapi, unggas, ayam, atau ikan) cenderung berada di atas daftar karena adanya kadar air. Bahan yg di bawah daftar biasanya menunjukan nutrisi seperti protein.

Semua makanan kucing harus memiliki beberapa sumber protein hewani dan lemak. Kucing adalah karnivora obligat dan memerlukan nutrisi seperti taurin dan asam arakidonat yang harus ada dalam makanannya. Nutrisi ini (taurin dan asam arakidonat) hanya ada dalam sumber hewani dan tidak ditemukan dalam sumber-sumber makanan nabati. Sumber hewani tersebut dapat berupa daging sapi, unggas, ayam, kalkun, ikan atau daging lainnya.

Pertimbangkan Bahan Biji-bijian Untuk Makanan Kucing

Beberapa ahli nutrisi makanan hewan banyak berdebat tentang makanan kucing yang menggunakan biji-bijian. Biji-bijian yang ada di dalam makanan berguna sebagai sumber karbohidrat. Kucing dapat dengan mudah metabolisme karbohidrat ini dan menggunakannya sebagai sumber energi. Namun, beberapa orang lebih memilih untuk menghindari biji-bijian dalam makanan kucing mereka. Bahkan, beberapa ahli percaya bahwa kucing harus memakan protein yang tinggi dan rendah karbohidrat untuk menjaga kesehatannya, meskipun ini adalah subjek yang kontroversial dan tidak semuanya setuju dan sependapat. Jika memang itu yang menjadi masalah, maka biji-bijian dapat digantikan dengan sumber karbohidrat lain seperti kentang.

Mencoba Makanan Kaleng atau Makanan Kering

Perbedaan lain dari para ahli nutrisi adalah makanan kaleng dan makanan kering. Beberapa ahli percaya bahwa kucing makan makanan kaleng lebih sehat daripada kucing makan makanan kering. Yang lainnya berpendapat bahwa makanan kaleng dengan makanan kering sama bagusnya untuk kucing, sehingga pemilik kucing dapat memilih salah satunya sesuai keinginannya.

Periksalah pernyataan kecukupan gizi dalam makanan kucing. Pernyataan ini menunjukkan bahwa makanan kucing ini lengkap dan seimbang untuk semua umur atau makanan ini lengkap dan seimbang untuk kucing dewasa atau bisa juga makanan ini lengkap dan seimbang untuk pertumbuhan dan reproduksi. Kita tinggal pilih sesuai dengan umur dan kondisi kucing kita.
Memilih makanan yang seimbang agar sesuai dengan tahap kehidupan kucing Anda adalah penting. Kittens memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dari kucing dewasa. Jadi pilihlah makanan kucing yang sesuai untuk kucing kita, baik itu dari segi umur, kondisi maupun keadaan berat badan termasuk perawatan dari sakit pada kucing kita.

Menganalisis Nutrisi Kucing

Sebuah analisis nutrisi pada makanan kucing biasanya yang dilihat adalah daftar jumlah minimal presentase protein dan kadar lemak serta jumlah persentase maksimum serat dan kelembaban. Ketika membandingkan antara dua makanan kucing peliharaan yang berbeda, analisis yang lebih akurat adalah jika dikonversikan ke basis bahan kering. Jika tidak, maka kadar air dapat secara signifikan mempengaruhi perbandingan kadar zat makanan tersebut. 
Akan lebih baik lagi jika anda menanyakan pada saat pemeriksaan kesehatan kucing kepada dokter hewan Anda untuk melakukan analisis kondisi tubuh untuk kucing, tanyakan tentang makanan apa yg sekiranya cocok untuk kondisi kucing anda. 
Menentukan kondisi tubuh kucing adalah cara terbaik untuk menentukan jenis makanan, sehingga makanan kucing yang gemuk atau kelebihan berat badan akan dianjurkan makanan yang berbeda dengan kucing yang memiliki berat badan ideal ataupun makanan dengan berat kucing yg terlalu kurus. Untuk menentukan kucing itu kurus atau tidak, dapat dilihat pada saat perabaan pada tulang rusuk kucing. Jika tulang rusuk itu tidak terasa maka kucing anda termasuk kucing yang gemuk, demikian juga sebaliknya, jika tulang rusuk kucing teraba dan terlihat menonjol maka kucing anda termasuk kucing yang kurus. 
Jika Anda menemukan penyimpang terlalu jauh dari pedoman label makanan kucing, maka periksakanlah ke dokter hewan Anda. Ada kemungkinan bahwa makanan yang Anda pilih tidak sesuai untuk situasi individu kucing Anda. Beberapa kucing mungkin memerlukan makanan khusus untuk membantu mereka menurunkan berat badan.
Demikian cara memilih makanan kucing yang sesuai untuk kucing kita, semoga ini dapat bermanfaat.

Mengatasi Kucing Keracunan Amitraz

Amitraz adalah suatu zat bahan kimia yang digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan kutu, infeksi parasit seperti kudis atau kurap pada hewan kesayangan seperti kucing dan anjing. Amitraz dalam pelaksanaan pengobatan terhadap kutu ataupun kudis dapat dilakukan dengan pencelupan (dips) atau hanya secara topikal di kulit saja. 
Keracunan obat Amitraz sering terjadi pada anjing dibandingkan dengan kucing. Namun begitu keracunan amitraz pada kucing dipandang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kematian pada kucing. Bila dilihat dari kasus per kasus dari keracunan amitraz ini, biasanya kejadian tersebut merupakan penyalahgunaan produk anjing di kucing.

Gejala klinis yang terjadi pada kucing yang keracunan amitraz adalah sebagai berikut :
  • Kucing mengalami depresi berat
  • Kucing mengalami kelemahan
  • Kucing mengalami ketidakseimbangan gerakan/inkoordinasi
  • Kucing sering berbaring di salah satu sisi tubuh,dan tidak bergerak
  • Denyut jantung yang lambat
  • Suhu tubuh kucing rendah
  • Kucing mengalami muntah
  • Kucing mengalami diare
  • Adanya peningkatan buang air kecil
  • Kucing mengalami kematian
Keracunan Amitraz dapat terjadi akibat menelan atau terpapar produk yang mengandung Amitraz. Keracunan Amitraz dapat terjadi pada kucing ketika produk anjing yang mengandung Amitraz digunakan untuk kucing atau ketika kucing kontak dengan anjing yang sedang diobati amitraz dan obat Amitraz masih ada di kulit atau di bulu anjing kemudian menempel pada kucing. 

Cara Pengobatan Keracunan Amitraz
Jika Amitraz berada pada kulit maupun bulu, maka kucing harus dimandikan atau bulu dicuci dengan deterjen mencuci piring atau sampo, ini berguna untuk menghilangkan sisa-sisa amitraz di bulu atau kulit kucing, lalu, kemudian bulu kucing dibilas sampai bersih dengan air hangat.
Terapi suportif seperti infus cairan intravena, pemeliharaan suhu tubuh dan dukungan nutrisi sangat diperlukan untuk pengobatan keracunan amitraz. Untuk itu kucing harus dipantau dengan ketat.
Pengunaan Hidrogen peroksida dapat digunakan untuk menginduksi muntah dan membersihkan Amitraz yang tersisa di dalam perut kucing. Kemudian pengunaan Arang aktif dapat juga digunakan untuk membantu mencegah penyerapan lebih lanjut dari Amitraz di dalam perut atau di saluran pencernaan kucing.
Obat lain yang kadang-kadang digunakan untuk menangani dan mengobati keracunan amitraz adalah yohimbine dan atipamezole.

Penyakit Asma Pada Kucing

Penyakit Asma (sesak nafas) dengan Bronchitis di Kucing

Penyakit Bronkitis pada kucing merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan peradangan pada bronkus dan bronkiolus. Sedangkan Bronkitis kronis adalah peradangan dalam jangka waktu yang lama pada saluran pernapasan bagian bawah.
Kondisi asma pada kucing bisa berjalan atau terjadi secara mendadak (akut) dan bisa juga terjadi dalam waktu jangka panjang (kronis). Peradangan saluran udara pada bronkus dan bronkiolus karena meningkatnya kepekaan terhadap berbagai rangsangan, seperti adanya alergen, penyempitan saluran udara, dan akumulasi sel-sel spesifik dalam saluran udara tersebut. 

Pada kucing, peradangan akut dan kronis dari saluran udara lebih rendah dilambangkan kolektif sebagai bronkitis kucing, atau penyakit bronkopulmonalis kucing (FBD). Peradangan kronis pada saluran udara yang lebih rendah, jika tidak diobati, dapat menyebabkan fibrosis (adanya kelebihan jaringan fibrosa di paru-paru) dan akan terjadi atelektasis paru (penyakit di mana paru-paru tidak dapat mengembang). Penyakit ini dapat terjadi pada kucing dari segala usia, tetapi paling sering terjadi antara usia 2-8 tahun.

Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari bronkus, bronkiolus, dan alveolus. Bronkus dimulai pada akhir trakea, di mana mereka memisahkan diri menjadi dua cabang. Kemudian bronkus memisahkan diri menjadi cabang-cabang yang lebih kecil, yang disebut bronkiolus. Alveoli adalah bagian terminal dari saluran pernapasan bagian bawah, dalam paru-paru, di tempat tersebut terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida.

Gejala Asma pada Kucing

Karena penyakit ini bisa bersifat akut dan kronis, maka gejala klinis yang dapat terjadi pada penyakit asma di kucing dapat bervariasi, seperti:
  • Kucing mengalami Batuk
  • Kucing mengalami Bersin
  • Kucing mengalami Kesulitan bernapas (beberapa kucing akan napas dengan mulut terbuka)
  • Kucing mengalami Nafsu makan yang menurun bahkan makan sedikit
  • Kucing mengalami Kelemahan
  • Kucing mengalami Kelesuan
  • Kucing mengalami Bernapas dengan usaha cepat
  • Kucing mengalami perubahan warna kulit menjadi Biru termasuk selaput lendir kucing
Penyebab Asma pada Kucing

Penyebab pasti adanya peradangan bronkial pada kucing seringkali tidak diketahui, namun ada beberapa penyebab yang menyebabkan munculnya penyakit asama pada kucing yaitu Asap rokok, semprotan rambut, penyegar udara, perabotan baru, dan ruangan berdebu. Disamping itu penyebab asma pada kucing juga bisa disebabkan oleh Infeksi parasit paru-paru (lungworm).

Diagnosa

Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada hewan peliharaan Anda, dengan mempertimbangkan latar belakang sejarah gejala dan insiden yang mungkin terjadi pada kucing anda. Anda akan ditanya tentang diet kucing Anda, ada tidaknya penambahan furniture/perabotan baru ke dalam rumah, dan pertanyaan terkait lainnya. Sebuah penyebab pasti penyakit ini tidak diketahui, dan menemukan faktor penyebab asma pada kucing sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan. Kadang-kadang, sesuatu yang sederhana seperti pengharum ruangan bisa menjadi penyebab penyakit asma.

Sementara itu, dokter hewan akan mengambil sampel darah dan urin untuk pengujian laboratorium. Tes-tes darah akan membantu untuk menegakkan diagnosis, dan juga untuk mengkarakterisasi apakah masalahnya adalah akut atau kronis. Sampel tinja juga akan diambil untuk pemeriksaan laboratorium untuk melihat apakah parasit yang hadir. Dokter hewan Anda juga dapat mengambil sampel untuk kultur bakteri untuk melihat apakah infeksi yang terlibat. Penyinaran X-ray dapat membantu dalam mendiagnosis sifat, lingkup, dan jenis perubahan dalam parenkim paru (bagian fungsional dari paru-paru) akibat peradangan.

Pengobatan penyakit sesak nafas / asma pada kucing 

Dalam kasus asma akut, perawatan darurat mungkin diperlukan, sampai masa krisis berakhir dan berlalu. Pemberian Terapi oksigen akan sangat membantu untuk mengatasi masalah ini termasuk pemberian obat darurat untuk membuka saluran pernafasan kucing. Penyempitan pada organ pernapasan sering disertai adanya pembengkakan saluran tersebut, sehingga dokter hewan akan memberikan obat untuk mengurangi pembengkakan agar kucing dapat bernafas dengan normal. Pemberian Obat steroid, dan obat-obatan anti-inflamasi sangat dianjurkan untuk mengobati asma dan sesak nafas pada kucing.
Setelah masa darurat berakhir, rencana pengobatan di masa depan akan dibuat. Untuk beberapa kucing, menghilangkan faktor penyebab asma adalah sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali dimasa-masa yang akan datang. Penyakit ini dapat bersifat progresif di alam, sehingga jika kucing Anda memiliki masalah bronkial kronis, dokter hewan Anda akan menyarankan terapi medis jangka panjang. 

Pencegahan Penyakit Asma Pada Kucing

Kita mungkin perlu mengubah lingkungan rumah agar kucing tidak terserang asma dan sesak nafas. Penyegar udara harus dihindari, termasuk menghindari merokok didalam ruangan, semprotan kimia, dan kotoran kucing yang terlalu halus. Mungkin juga ada beberapa bahan makanan yang perlu dihindari (misalnya, bahan-bahan yang ditambahkan ke beberapa makanan kucing, atau makanan tabel). 
Dokter hewan Anda akan memberitahu Anda tentang makanan yang tepat untuk kucing Anda dan membantu Anda dalam merencanakan diet jangka panjang. Juga, dalam kasus-kasus kronis, Anda harus siap mental untuk perawatan seumur hidup kucing anda. Bicaralah dengan dokter hewan Anda secara detail dan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak jelas tentang. Kekambuhan pada penyakit asma dapat terjadi secara cepat dan dapat menyebabkan kematian pada kucing kecuali segera diobati. Anda akan harus sangat jeli dengan kucing Anda, sehingga jika Anda melihat kucing anda batuk atau kesulitan bernafas, Anda dapat mengobatinya dengan obat yang telah diresepkan, atau membawa kucing anda ke rumah sakit hewan untuk perawatan darurat. 
Terapi untuk asma atau bronkitis pada kucing tidak boleh berhenti karena tidak adanya gejala.

Jenis Shampo Untuk Kucing Persia, Anggora dan Lokal

Jenis Shampo Untuk Kucing Persia, Anggora dan Lokal
Fungsi sampo untuk kucing adalah membantu menghilangkan kotoran dan debu pada bulu kucing atau anjing. Disamping itu, shampo juga berguna untuk merawat agar bulu kucing atau anjing nampak indah berkilau serta mencegah kerontokan bulu. Ada beberapa jenis shampo yang digunakan untuk kucing Persia maupun Anggora berdasarkan kegunaannya, yaitu :
sampo kucing

Shampo kucing untuk menghilangkan debu atau kotoran :

Contoh dari jenis sampo ini adalah Coco Kat Conditioning, merupakan sampo yang diproduksi oleh thailand dengan aroma apel dan anggur. Shampo ini dapat digunakan untuk semua jenis kucing termasuk kucing anggora, kucing persia ataupun kucing lokal. Shampo ini juga dapat digunakan untuk shampo anak kucing maupun shampo kucing dewasa.

Cara mengunakan shampo ini cukup praktis, yaitu tuangkan shampo pada tubuh kucing yang telah disiram oleha air hangat, lalu gerakkan tangan untuk menyikat bulu sampai seluruh tubuh dengan perlahan-lahan( kecuali daerah mata), setelah bulu kucing disikat secara merata maka langkah selanjutnya adalah membilas busa shampo yang ada di bulu dengan air hanggat. Setelah busa menghilang, keringkan bulu dengan hair drayer dan sisirlah bulu kucing itu dengan lembut dan perlahan.

Shampo kucing untuk Perawatan Kutu :

Jika kucing persia atau anggora anda sering terserang kutu, maka sebaiknya gunakan shampo jenis ini. Kandungan shampo untuk menghilangkan kutu pada kucing biasanya adalah pyrethrin. Pyrethrin merupakan suatu zat yang berguna untuk membunuh dan menghilangkan kutu pada bulu kucing maupun anjing, dan terbukti cukup ampuh. Contoh shampo jenis ini adalah Davis Flea & Tick Pyrethrin Shampoo. Disamping berguna untuk menghilangkan kutu ataupun pinjal, shampo ini beraroma harum, sehingga para pemilik kucing tidak perlu khawatir terhadap bau kucing setelah di mandikan dengan shampo ini.

Pengunaan shampo kucing jenis ini adalah : Tuangkan shampo pada air secukupnya, lalu siramkan pada bulu kucing diseluruh tubuh kecuali daerah mata, hidung dan mulut, lalu gosok-gosokan tangan dengan lembut pada seluruh tubuh kucing, lalu bilas dengan air hangat dan keringkan, lalu sisir dengan rapi. Dalam pemakaian shampo ini hanya boleh dilakukan untuk kucing yang sudah berumur lebih dari 12 minggu atau sekitar umur 3 bulan. Pengunaan shampo ini disarankan hanya seminggu sekali saja, jangan terlalu sering karena bisa menyebabkan kucing keracunan pyrethrin dan kemungkinan adanya resistensi pyrethrin pada kutu tersebut.

Shampo kucing untuk Penyakit Kulit :

Jenis shampo ini berguna untuk membantu mengobati penyakit kulit pada kucing persia, lokal maupun anggora. Dengan mengobati penyakit kulit pada kucing dengan shampo ini maka secara otomatis akan mencegah dan mengobati kerontokan bulu kucing, dengan kata lain bahwa shampo ini sangat cocok untuk mengatasi kerontokan bulu kucing.
Biasanya kandungan shampo jenis ini adalah Ammonium Lauryl Sulfate, Tea Tree Oil, Cocomidopropyl Betaine, Coconut Based Lathering Agent, Propylene Glycol, Cosmetic Grade Preservative, Green Dye, pH Adjuster, Purified Wate.
Ammonium lauryl sulfat adalah senyawa anti bakteri dan menciptakan suasana sejuk pada kulit dan bulu kucing disamping adanya vitamin E yang terkandung dalam shampo dan berguna untuk menjaga kesehatan kulit kucing maka bulu-bulu kucing pun akan nampak indah dan mencegah kerontokan bulu kucing. 

Demikian secara garis besar tentang jenis sampo untuk kucing lokal, kucing persia maupun kucing anggora, semoga dapat bermanfaat.

Ciri-Ciri Kucing Persia Dan Kucing Anggora

Ciri-Ciri Kucing Persia Dan Kucing Anggora| Penyakit Hewan. Banyak yang belum mengetahui Ciri-Ciri Kucing Persia dan Kucing Anggora. Kedua kucing tersebut memang memiliki bulu yang panjang dan ekor yang panjang. Namun jika diperhatikan dengan seksama maka akan nampak perbedaannya. Di Indonesia, kucing ras persia dan anggora memiliki pengemar yang cukup banyak, sehingga ke dua kucing ras tersebut berkembang cukup pesat dinegara ini.
Ciri-ciri Kucing Persia dan Anggora

Kucing persia dapat di golongkan dalam tujuh kelompok berdasarkan corak warna bulunya, yaitu :
  1. Solid color
  2. Silver and Golden Division
  3. Shaded and Smoke Division
  4. Tabby Division
  5. Particolor Division
  6. Bicolor Division
  7. Himalayan Division
Dengan keaneka ragaman warna tersebut, membuat banyak pilihan bagi pecinta kucing persia dalam memilih bulu yang disukainya. 
Ciri-Ciri Bentuk Bagian Tubuh Kucing Persia
  • Kucing persia memiliki kepala yang besar dan bulat, hidung pesek dan lebar dengan celah pembatas yang jelas dengan mata. Kucing persia juga mempuyai rahang yang kuat serta lebar, mempuyai pipi yang penuh dengan tulang pipi yang menonjol. Jika kita lihat dari samping, bagian dahi hidung dan dagu berbentuk garis tegak lurus
  • Kucing persia memiliki telinga yang berujung bulat, bagian dasar melebar, tidak terlalu tinggi dan miring ke depan.
  • Kucing persia memiliki mata yang berbentuk bulat dan lebar, warna mata kucing persia selalu berhubungan dengan warna bulu.
  • Kucing persia memiliki dada yang lebar dan agak bulat dengan bagian punggung sedikit membulat, ukuran dan posisi perut bagian belakang membulat dan lebih rendah (cobby)
  • Kaki kucing persia: pendek, tebal, kuat ditopang tulang yang berukuran besar. Kaki depan lurus dan kaki belakang juga lurus bila dilihat dari belakang.
  • Cakar kucing persia : memiliki cakar yang besar, bulat dan kokoh, lima jari di kaki depan dan empat jari di kaki belakang
  • Bulu kucing persia: panjang dan tebal mengkilap, menutupi seluruh badan
  • Ekor kucing persia: berbulu tebal, lurus, panjang sesuai proporsi badan
  • Sifat kucing persia: mudah beradaptasi dengan berbagai macam tempat, suka bermain dan mudah untuk disayangi. Ekspresi wajah yang manis dengan sifat tenang bisa duduk dan tidur disatu tempat selama berjam-jam, tidak berisik serta bersuara lembut.
Kucing persia menjadi salah satu kucing idola mungkin disebabkan karena memiliki bulu yang panjang dan tebal, memiliki sifat yang tenang, anggun serta manja. Alasan lain adalah jenis kucing persia ini lebih mudah dikandangkan, relatif tidak berisik dan sangat cocok hidup di dalam rumah.
Demikian sekilas tentang Ciri-ciri kucing persia.

sumber: kucing persia ( http://kucing-kucingpersia.blogspot.com)

Cara Memberi Makan Kucing Yang Baik

Cara memberi makan kucing biasanya dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore. Namun ada juga yang memberi makan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari.  Mana yang lebih baik...? Perlu diketahui bahwa volume lambung kucing terbatas artinya jika di paksakan dengan makan yang banyak dalam sekali makan akan menyebabkan muntah, tersedak, batuk, sakit perut dsbnya. Seandainya berat kucing adalah 4 kg maka kebutuhan makan dalam sehari adalah 80 gr atau sekitar 2 % makanan kering. Sehingga jika diberikan 2 kali sehari maka per sekali makan adalah 40 gr (40 gr pagi dan 40 gr sore), ini akan membuat lambung kucing sangat penuh dan menimbulkan efek yang kurang baik bagi kucing, disamping itu kucing pada saat setelah 7 jam setelah makan atau sekitar jam 2 siang si kucing akan merasa sangat kelaparan, sehingga ini tidak baik untuk kesehatan si kucing itu.  
Cara Memberi Makan Kucing
Lain halnya dengan kucing berat 4 kg yang diberikan makan 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Jumlah kebutuhan pakannya sama yaitu 80 gr, hanya pada pagi hari makanan yang diberikan adalah 30 gr, kemudian siang 20 gr dan sore diberikan 30 gr.  Keuntungan dari cara memberikan makan pola ini adalah kucing tidak terlalu kenyang, tidak menimbulkan muntah, tidak menimbulkan sakit perut dan pada siang hari si kucing tidak merasa lapar. Jadi cara mana yang lebih baik baik untuk si kucing...?

Kemudian mengenai kebutuhan protein, protein minimum yang dibutuhkan kucing adalah 26 % makanan kering / dry food, artinya jika kita memberikan makanan dengan kadar protein 20 % maka yang terjadi adalah pertumbuhan kucing menjadi terhambat dan kucing akan nampak tidak mempunyai energi atau loyo, lemas, tidak bersemangat. Tapi jika kucing diberikan protein 35 %, maka kelebihan protein tersebut akan di ubah oleh tubuh kucing menjadi energi untuk keperluan aktifitasnya sehari-hari, sehingga kelebihan protein bagi kucing tidaklah berpengaruh bagi kesehatan kucing tersebut.
Kemudian makanan kucing juga harus memiliki taurin. Taurin merupakan asam amino esensial yang dibutuhkan oleh kucing, minimal 0,1 % dalam makanan kucing tersebut. Kekurangan taurin dalam tubuh kucing akan menyebabkan kucing menjadi sakit jantung dan penyebab buta pada kucing tersebut.
Selanjutnya kebutuhan vitamin, kucing juga membutuhkan multivitamin dalam tubuhnya seperti A, D, E, B-Komplek, K. Namun perlu diketahui bahwa vitamin A yang bisa di absorbsi dan dipergunakan oleh kucing hanya vitamin A yang berasal dari Retinil Palmitat, selain itu tidak bisa diserap oleh kucing.
Berikut adalah komposisi makanan ideal bagi kucing :
  • Protein Kasar atau Crude Protein 32 %
  • Kadar lemak atau Crude Fat 19 %
  • Serat kasar atau Crude Fiber 5 %
  • Kadar air 10 %
  • Linoleid Acid 3,9 %
  • Taurin 0,18 %
  • Magnesium 0,08 %
  • Zink 200 mg/kg
  • Vitamin C 100 mg/kg
  • Vitamin E 250 IU/kg
  • Vitamin A
  • Lactobacillus Acidophilus 100 juta CFU/kg
Demikian cara memberi makan kucing yang baik, semoga dapat bermanfaat.

Sel & Kimia Darah Kucing Yang Normal

Hasil Uji Lab Kucing Sehat
Sel darah dan Kimia darah merupakan suatu keadaan hasil uji laboratorium yang dipergunakan untuk mendeteksi adanya kelainan dan penyakit pada tubuh, hal ini bukan hanya berlaku bagi manusia, namun bisa digunakan untuk hewan juga seperti anjing, kucing, monyet, sapi, kuda, dan hewan-hewan lainnya. Bahkan untuk badak ataupun satwa liar yang lain pun bisa digunakan. Dengan adanya hasil uji laboratorium maka tingkat ke akuratan hasil diagnosa akan semakin tepat. 
Seperti kita ketahui bahwa keakuratan diagnosa sangat berpengaruh pada kesembuhan. Dengan keakuratan dianosa maka penentuan obat, cara pengobatan dan terapi penyakit pada kucing semakin tepat. Dari hasil laboratorium uji darah itu juga bisa di tentukan tingkat keparahan suatu penyakit, dengan demikian bisa ditentukan hasil prognosa penyakit pada kucing tersebut. 
Prognosa penyakit itu ada 3, yaitu dubius, fausta dan infausta. Dubius artinya bahwa penyakit tersebut tingkat kesembuhannya 50 %, untuk fausta artinya penyakit tersebut bisa sembuh 100 %, sedangkan infausta artinya penyakit tersebut tidak dapat sembuh. Prognosis atau prognosa itu dalam bahasa awam adalah vonis dokter.
Begitu pentingnya suatu hasil laboratorium dalam mendiagnosa penyakit, sehingga untuk penyakit-penyakit yang memiliki gejala yang sama dan tidak memiliki gejala pathognomonis (gejala yang menciri) maka di saran kan untuk uji darah. Uji darah ini tergantung dari kebutuhan dalam mendukung diagnosa dokter. Contohnya pada penyakit leptospirosis, panleukopenia, trombositopinia, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya. Dengan adanya hasil uji laboratorium ini maka seorang dokter hewan akan mudah menentukan apakah kucing tersebut terserang penyakit bakteri, virus, parasit atau adanya obnormalitas organ tubuh. Untuk membaca hasil uji laboratorium itu sendiri hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter, karena didalamnya berisi angka-angka dari kondisi atau keadaan darah kucing seperti kimia darah dan sel-sel darah. Yang termasuk sel-sel darah adalah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kimia darah adalah Total Protein, Albumin, Globulin, dan Glukosa.
Berikut adalah hasil uji laboratorium sel darah dan kimia darah kucing yang normal. Jika kondisi sel darah dan kimia darah kucing kita di bawah atau diatas nilai batas normal maka kucing kita bisa dikatakan sedang sakit.
Sel Darah dan Kimia Darah Kucing Yang Normal

Sel Darah Kucing Normal :

  • Sel darah Putih (WBC), kondisi normal kucing sehat 5.5 - 19.5
  • Sel darah merah (RBC), kondisi normal kucing sehat 5.0-10.0
  • HB, kondisi normal kucing sehat 8.0-15.0
  • Hematokrit, kondisi normal kucing sehat 24.5 - 45.0
  • MCV, kondisi normal kucing sehat 39.0 - 55.0
  • MCH, kondisi normal kucing sehat 12.5 - 17.5
  • MCHC, kondisi normal kucing sehat 30.0 - 36.0
  • Trombosit (PLT), 113 kondisi normal kucing sehat 300-800
  • Limfosit,  kondisi normal kucing sehat 20.0 - 55.0
  • Granulosit, kondisi normal kucing sehat 35.0 - 78.0
  • Limfosit, kondisi normal kucing sehat 1,5 - 7.0
  • RDW, kondisi normal kucing sehat 13.0 - 17.0
  • PCT, kondisi normal kucing 0.0 - 2.9
  • MPV, kondisi normal kucing sehat 12.0 - 17.0
  • PDW, kondisi normal kucing 0.0 - 50.0

Kimia Darah Kucing Normal :
  • Total Protein, kondisi normal kucing sehat 5.7 - 8.0
  • Albumin, kondisi normal kucing sehat 2.4 - 3.7
  • Globulin, kondisi normal kucing sehat 2.6 - 5.1
  • Ratio A/G, kondisi normal kucing sehat 0.6-1.1
  • Glukosa, kondisi normal kucing sehat 60-100
Jadi dalam mendiagnosa penyakit pada kucing tidaklah boleh sembarangan, kesalahan dalam mendiagnosa maka akan menyebabkan penyakit pada kucing kita tidak akan sembuh.
Bagaimana jika tidak ada hasil laboratorium terhadap uji darah tersebut ? jika tidak ada maka biasanya seorang dokter hewan akan melihat gejala penyakit dengan pemeriksaan fisik dengan stetoskop, termometer atau alat-alat lain yang diperlukan, selain itu diperlukan juga sejarah perjalanan atau patogenesa penyakit serta akan selalu ada differensial diagnosa penyakit tersebut. 
Demikian tentang sel darah dan kimia darah yang normal pada kucing dari hasil uji laboratorium, semoga dapat bermanfaat.

Cara Mengobati Cacing Askaris Pada Kucing

Ascariasis (Penyakit Cacing Ascaris Pada Kucing)
Penyakit ascariasis ini disebabkan oleh cacing golongan Toxocara. Penyakit ini sering menginfeksi anak kucing dengan umur 1 sampai 5 bulan. Hampir semua anak kucing di dunia ini terkena cacing jenis Ascaris ini.
Tingkat keparahan yang disebabkan cacing askaris ini tergantung pada banyak sedikitnya jumlah cacing yang menginfeksi. Penyakit pada anak kucing ini juga menimbulkan gejala nyata dan berdampak buruk bagi kucing yang terinfeksi. 
Sedangkan pada kucing dewasa agak lebih tahan terhadap cacing ini. Gejala yang muncul pada anak kucing yang terinfeksi cacing askaris ini adalah anak kucing menderita batuk-batuk, kemudian telah diobati oleh obat batuk namun tidak sembuh-sembuh juga, sehingga perlu dicurigai bahwa anak kucing tersebut telah terserang cacingan jenis ini. Batuk-batuk pada anak kucing tersebut disebabkan karena adanya larva pada organ  paru-parunya. 
Pada pemeriksaan mikroskopis pada feses atau kotorannya, kira-kira 80% dari jumlah populasi anak kucing di dunia terinfeksi telur cacing Ascaris. 
Cara Penularan Ascaris pada anak kucing terjadi melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan anak kucing. Telur cacing askaris ini sering mencemari tempat makanan, tempat minuman kucing, kandang dan lain-lain sebagainya. Penularan juga bisa terjadi melalui induk kucing ke anaknya pada saat dalam masa kebuntingan, sehingga pada saat anak kucing lahir sudah terkena cacing askaris ini. 

Perjalanan Penularan Cacing Askaris
Terjadinya proses penularan cacing askaris adalah sebagai berikut :
Kucing menelan telur cacing - telur cacing menetas di perut kucing - larva cacing ascaris ini akan masuk melalui dinding usus kucing - cacing masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai ke hati anak kucing - cacing ini akan ke paru-paru ( melalui aliran darah yang ada di paru-paru, cacing akan memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru). Cacing ini kemudian akan menuju ke saluran pernafasan atas sehingga cacing akan sampai di kerongkongan. Setelah sampai dikerongkongan maka cacing akan tertelan kembali ke usus anak kucing dan menjadi cacing dewasa dan berkembangbiak yang akan merusak usus anak kucing. 
Gejala Klinis yang mucul akibat cacing ascaris pada anak kucing adalah :
  • Perut anak kucing membesar meskipun tidak banyak makan, 
  • Anak kucing kelihatan sakit perut dengan ciri-ciri seperti  mengeong-ngeong, pada waktu berdiri posisi kaki belakang agak melebar untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya. 
  • Kucing juga akan mengalami anemia, tubuh terasa lemah, gelisah, bulu kusam, mata berair, nafas kucing terengah-engah, anak kucing mengalami sesak nafas,
  • Anak kucing juga tidak mau menyusui induknya,  
  • Kadang-kadang anak kucing juga akan menderita mencret dan muntah-muntah. 
Kematian anak kucing biasanya dipercepat dengan adanya infeksi sekunder sehingga terjadi radang paru-paru (pneumonia).
Apabila anak-anak kucing masih mau menyusu pada induknya, biasanya terjadi kematian satu per satu tanpa menunjukkan gejala klinis, hanya menunjukkan gejala perut agak besar dan lemas, sehingga kita harus mencurigai bahwa kematiannya disebabkan oleh cacing Ascaris ini.
Jika menyerang pada kucing dewasa, hanya menimbulkan gejala ringan yaitu pertumbuhan terhambat, bulu kusam dan berdiri, mata berair, lesu, nafsu makan turun, kemudian bila makan hanya memilih dagingnya saja, bahkan pada yang berat makanan hanya dijilat kemudian ditinggal pergi.

Bagaimana Pencegahan dan Pengobatan Cacing Askaris Pada Kucing

Pencegahan penyakit cacingan askaris  yang paling efektif adalah 
  • Melakukan sanitasi kandang anak kucing yang baik, kandang seharusnya didesinfeksi seminggu sekali. Cara ini dapat sangat membantu mengurangi cacingan pada anak kucing.
  • Kotoran anak kucing tidak boleh ditumpuk dan dibiarkan saja, tapi harus segera dibuang, 
  • Pada anak kucing sebaiknya alas kandang dilapisi dengan koran sehingga apabila anak kucing buang hajat besar atau kotoran, maka kotoran anak kucing tersebut dapat segera dibuang dan alas dapat diganti dengan koran yang baru. 
  • Pemberian obat cacing kepada anak kucing secara rutin, terutama pada anak kucing lepas sapih. 
  • Kucing dewasa yang akan dikawinkan sebaiknya diberi obat cacing 
  • Induk kucing yang habis melahirkan sebaiknya diberikan obat cacing. 
  • Untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak kucing agar tidak mudah terserang cacingan maka dapat diberikan vitamin dan makanan yang bergizi.
  • Untuk jenis obat cacing dapat diberikan jenis albendazol mulai umur 1 bulan, kemudian diulang sebulan sekali. 
  • Kucing dewasa sebaiknya diberikan obat cacing tiap 2-3 bulan sekali. 

Demikian cara mengobati cacing askaris pada kucing, semoga dapat bermanfaat.

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing | Penyakit Hewan. Panas demam pada tubuh kucing terjadi apabila suhu tubuh kucing diatas 39,4 o C , keadaan ini merupakan keadaan abnormal dimana suhu tubuh kucing meningkat melebihi suhu tubuh normal. Panas demam biasa juga disebut dengan istilah pireksia, febris atau tubuh kucing mengalami hypertermia.
Penyebab panas demam pada kucing bisa disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh kucing atau adanya reaksi pembentukan interleukin I untuk mengaktifkan Sel T dalam menghasilkan zat kebal. 
Demam juga berhubungan dengan pirogen, yang merupakan suatu zat yang merangsang pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam. Zat pirogen ini biasanya berupa semacam protein, pecahan protein, atau zat lain seperti toksin polisakarida.
Kucing dalam kondisi sakit karena bakteri, akan memicu munculnya toksin polisakarida, ini karena adanya degenerasi jaringan tubuh akibat infeksi bakteri patogen yang toksik. 
Mekanisme panas demam pada kucing dimulai dari munculnya reaksi tubuh kucing terhadap zat pirogen. Kemudian bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar( inilah jawaban mengapa pada hasil laboratorium terhadap leukosit meningkat pada saat demam akibat bakteri). Seluruh sel ini (leukosit cs) kemudian memakan hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai otak kucing atau tepatnya di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu beberapa menit kemudian. Interleukin-1 ini juga menyebabkan pembentukan prostaglandin E2 yang bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi panas demam. 

Pada saat terjadi panas demam, gejala klinis yang nampak adalah peningkatan denyut jantung, peningkatan laju dan kedalaman pernafasan, tubuh menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot, bulu kucing berdiri , kucing mengalami rasa haus dan sering minum, dehidrasi ringan hingga berat, mengantuk ditandai munculnya selaput putih pada mata kucing, delirium, atau kejang akibat iritasi sel saraf , hilangnya nafsu makan pada kucing ( jika panas demam berlanjut berkepanjangan ), kucing mengalami kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein 

Cara Mengatasi Panas Demam Pada Kucing

Untuk mengatasi panas demam yang terjadi pada kucing, secara umum dapat dilakukan pengobatan sebagai berikut :
  • Beri kucing banyak minum untuk meminimalisir adanya dehidrasi pada waktu menderita panas demam. 
  • Berilah susu untuk meningkatkan nilai gizi, jika perlu pemberian madu sangat disarankan. Madu dan susu berguna untuk meningkatkan stamina kucing.
  • Beri kompres di beberapa bagian tubuh, dengan cara meletakan kain basah disekitar tubuh kucing.
  • Untuk kasus panas demam karena adanya infeksi bakteri, maka pemberian suport terapi dan antibiotik yang sesuai sangat dianjurkan.Tetapi untuk kasus demam karena trombositopenia, pengunaan antibiotik harus dibawah pengawasan yang ketat, ada beberapa jenis antibiotik yang tidak boleh digunakan pada saat terjadi kondisi trombositopenia.  Karena kesalahan dalam mengunakan antibiotik akan memperparah keadaan.
Demikian cara mengatasi dan mengobati panas demam pada kucing, semoga bermanfaat.

Penyakit Pada Kucing Yang Gemuk

 jenis penyakit pada kucing yang gemukAda beberapa jenis penyakit pada kucing yang mengalami kegemukan dan ini terkadang tidak disadari oleh pemilik kucing. Memang kucing yang gemuk akan membuat kita senang karena penampilannya yang lucu dan menarik, namun dibalik itu bahwa kucing yang gemuk memiliki resiko penyakit yang lebih besar dibanding dengan kucing yang memiliki berat badan sedang atau normal.
Kegemukan atau obesitas pada kucing berhubungan dengan adanya penimbunan lemak dalam tubuh kucing sebgai akibat dari makan yang terlalu berlebih. Ini akan mempengaruhi organ-organ tubuh yang lain termasuk hati, jantung, sendi dan kulit kucing.Organ-organ akan terpangaruh dari fungsi kerja, sehingga bisa menimbulkan masalah dikemudian hari.
Berikut adalah jenis penyakit pada kucing akibat kegemukan atau obesitas :

  1. Penyakit Kulit
  2. Pada kucing yang gemuk memiliki resiko penyakit kulit yang lebih besar dari kucing yang normal, penyakit kulit yang dimaksud adalah kulit kering bersisik dan masalah adanya acne atau semacam jerawat pada kulit.Hal ini merupakan pengaruh dari lemak yang berlebih yang berada dibawah kulit kucing yang gemuk tersebut, sehingga menyebabkan minyak lemak bisa muncul berupa jerawat.
  3. Penyakit Jantung
  4. Fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh, jika banyaknya lemak di sekitar jantung tentu akan mengganggu kerja jantung, ditambah banyaknya lemak yang ada disekitar pembuluh darah sehingga elastisitas pembuluh menjadi terganggu. Akibatnya jantung akan bekerja keras secara terus menerus, pada akhirnya jantung akan mengalami dilatasi pada ventrikelnya. Lama-kelamaan jantung akan mengalami kelemahan.
  5. Penyakit Diabetes Melitus
  6. Kucing yang gemuk memiliki resiko 2-4 kali lebih banyak terserang diabetes melitus, ini bisa dipahami sebagai berikut ; Obesitas atau kelebihan berat badan / kegemukan pada kucing menyebabkan peningkatan sekresi insulin dalam menanggapi peningkatan glukosa darah di tubuh kucing itu. Pemacuan pengeluaran Insulin oleh pankreas yang melebihi ambang batas normal dan kemampuan dalam jangka waktu yang lama, maka akan menjadi pemicu terjadinya diabetes melitus pada kucing.
  7. Penyakit Arthritis
  8. Pada kucing yang gemuk, kejadian arthritis juga lebih besar dari pada kucing yang normal. Dengan berat badan yang berat keadaan sendi pada kaki kucing juga akan bekerja berlebih, terutama saat melompat dan berjalan. Hal ini bisa meningkatkan resiko terjadinya arthritis pada kucing.

Disamping penyakit tersebut diatas, kucing yang genuk juga akan memerlukan dosis anastesi atau obat bius yang lebih banyak dibanding dengan kucing yang kurus ataupun kucing yang normal. Ini disebabkan karena obat bius tersebut akan terserap pada lemak dan biasanya kucing yang gemuk lebih tahanlama tidak pingsan dibanding kucing yang memiliki berat badan normal.
Demikian jenis penyakit pada kucing akibat kegemukan dan resiko jika kucing yang obesitas. Semoga bermanfaat.

Perbedaan Makanan Kucing dan Anjing

Mungkin ada beberapa teman cat lover yang belum mengetahui bahwa makanan anjing tidak boleh diberikan pada kucing atau mungkin ada juga yang bertanya apakah / mengapa makanan anjing tidak boleh diberikan pada kucing ? Ada perbedaan mendasar antara makanan untuk kucing dan makanan untuk anjing. Perbedaan ini digunakan pabrik pembuat makanan pet animal sebagai acuan memformulasikan pakan untuk kucing. Ada perbedaan yang signifikan antara kebutuhan gizi kucing dengan anjing. Sebagai contoh adalah :
    makanan anjing untuk kucing
  • Kucing memerlukan protein yang lebih tinggi dari anjing. Protein yang dibutuhkan kucing dalam makanannya (dry food) minimal 26 % sedangkan untuk anjing 22 %. Kucing mampu mengubah kelebihan protein menjadi energi untuk tubuhnya. Tapi anjing jika kelebihan protein bisa menyebabkan gatal-gatal dan alergi bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal sebagai filter darah.
  • Makanan kucing harus memiliki asam amino yang bernama taurin, sedangkan bagi anjing tidak perlu asam amino taurin dalam pakannya karena tubuh anjing mampu memproduksi taurin sendiri. Fungsi asam amino taurin adalah untuk membantu mencerna lemak dan bersama-sama dengan mineral Zink berguna untuk menjaga kesehatan mata dan retina. Jika makanan kucing tidak mengandung asam amino taurin maka akan menyebabkan penyakit jantung yang sangat parah dan bisa menyebabkan kerusakan retina mata pada kucing tersebut. Ini merupakan salah satu faktor penyebab kucing menjadi buta sehingga tidak bisa melihat. Kebutuhan taurin untuk kucing sebenarnya tidaklah terlalu banyak, hanya 0,1 %, namun ini merupakan asam amino yang sangat esensial atau asam amino yang paling dibutuhkan oleh kucing. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa makanan kucing harus mengandung taurin.
  • Kucing tidak bisa mengunakan beta karoten sebagai sumber vitamin A, sedangkan anjing bisa mengunakan beta karoten tersebut. Sumber Vitamin A untuk kucing sangat berbeda dengan sumber vitamin A untuk anjing. Untuk kucing vitamin A nya bersumber dari retinil palmitat, yang biasa terdapat pada daging sapi, daging ayam, hati ayam, susu, ikan dll. 
  • Kucing tidak bisa memproduksi asam lemak arachidonic acid, sehingga dalam pakan kucing harus menggandung asam lemak tersebut. Sedangkan untuk anjing, asam lemak arachidonic acid tidak dibutuhkan dalam makanan anjing.
Dengan dasar tersebut diatas, jika kita memberikan makanan anjing kepada kucing maka yang terjadi adalah banyak kebutuhan nilai gizi dan nutrisi yang kurang dan tidak terpenuhi untuk kebutuhan tubuh kucing. Ini akan menyebabkan masalah kesehatan bagi kucing kita. Kita tahu bahwa ketidakseimbangan pemberian nutrisi termasuk kekurangan salah satu asupan nilai gizi akan menyebabkan sakit pada kucing kita. Untuk itu berilah makanan yang berkwalitas kepada kucing kita, sehingga unsur gizi yang dibutuhkan tubuh kucing terpenuhi dengan baik, lengkap dan cukup.
Demikian dasar perbedaan makanan kucing dengan makanan anjing. Semoga dapat bermanfaat.

Cara Membaca Label Makanan Kucing

Ada beberapa pertimbangan jika kita memilih makanan kucing yang baik, namun sebelum itu kita harus mengetahui bagaimana cara membaca dan meilhat label makanan kucing tersebut. Pertama adalah harga, biasanya kita akan memilih makanan kucing yang murah. Tahukah anda bahwa harga berkorelasi dengan kandungan gizi dalam makanan kucing itu, semakin murah harga pakan kucing maka kandungan gizi baik itu protein, karbohidrat, asam amino, dan mineral akan semakin sedikit. Namun jika harga pakan mahal maka kwalitasnyapun cukup terjamin. Biasanya harga pakan selalu dihubungkan dengan kadar protein, karena protein inilah yang paling mahal diantara yang lain.
Biasanya pakan pabrikan dalam tahap promosi akan membuat pakan yang berkwalitas dan dengan harga yang murah, sehingga para peternak akan tertarik untuk mencoba dan memakainya.
Kemudian yang kedua adalah kwalitas pakan kucing, kualitas pakan kucing bisa kita lihat pada label pakan tersebut. Didalam label makanan kucing tersebut ada persentase bahan kering,  analisis pakan ( terdiri dari kadar potein, lemak, serat, kelembaban), serta komposisi isi bahan makanan kucing.

Bahan Kering Dalam Makanan Kucing
Namanya bahan kering, tentu yang diukur adalah kadar air dalam pakan kucing tersebut. Pada makanan kaleng untuk kucing dengan kadar kelembaban 80 % dan kadar keringnya adalah 20 %, ini berarti bahwa 20 % adalah makanan murni sedangkan 80 % air. Sehingga jika kita mau hitung-hitungan, uang yang kita keluarkan hanya mendapatkan 20 % saja. Coba bandingkan dengan makanan kering untuk kucing dengan kelembaban makanannya 10 % dan kadar keringnya adalah 90 %, ini berarti kita mendapatkan makanan murninya 90 %. Tapi coba kita analisis lebih lanjut dengan melihat label kandungan protein pakan kucing tersebut. Didalam label makanan kering kucing tertulis kadar protein 20 % didalam 100 % makanan tersebut. Berarti jika kadar bahan kering 90 % maka kita mendapatkan protein makanan sekitar 22 %. 
Sekarang mari kita bandingkan dengan makanan kaleng yang memiliki kelembaban 80%. Kita tahu bahwa dengan kelembaban 80%, kita memiliki bahan kering 20%. Label makanan kucing menunjukkan bahwa kandungan protein sebesar 5%. Jadi kita mengambil 5% dan membaginya dengan 20% dan kita mendapatkan protein 25% atas dasar bahan kering. Jadi makanan kaleng memiliki lebih banyak protein per kg atas dasar bahan kering setelah semua air diambil keluar. Kita bisa melakukan hal yang sama untuk lemak, serat, dll

Analisis Pakan Pabrikan Kucing
Di dalam label makanan kucing tertera berapa kandungan protein, lemak, serat dan kelembaban. Yang paling umum kandungan protein pada makanan pabrikan untuk kucing adalah sekitar 10 %, kemudian lemak 6,5 %, serat kasar 2,4 % dan kelembaban 68 %. Perlu diketahui bahwa protein dan lemak yang tinggi di dalam makanan belum tentu tercerna semua, itu tergantung dari mana sumber protein tersebut. Semakin banyak jenis sumber sumber makanan untuk menyusun ransum maka ransum makanan tersebut akan komplit dan lengkap.

Komposisi Daftar Makanan Pabrikan Untuk Kucing
Perusahaan pembuat pakan harus mencantumkan daftar komposisi bahan asal pakan tersebut beserta beratnya. Biasanya makanan tersebut terdiri dari daging (sapi, ayam, kambing, domba, kalkun dll) termasuk jeroan ( jantung, limpa, ginjal, paru-paru dll), produk unggas (termasuk kaki ayam, tulang ayam, usus, jantung dll), tepung ikan, jagung, beras putih, beras merah, soybean meal, BHA ( Butylated Hidroksianisol) pengawet lemak, enthoxyquin (pengawet kimia), tocopherol ( bisa mengunakan vitamin E). Tocopherol merupakan pengawet alami yang sering digunakan untuk mencegah pembusukan.
Demikian cara membaca dan melihat label makanan kucing yang baik, semoga ini dapat bermanfaat.

Ciri-ciri Kucing yang Sakit

Ciri-ciri Kucing yang Sakit | Penyakit Hewan. Bagaimana menentukan dan melihat ciri-ciri kucing yang sakit...? Setiap mahluk hidup, baik itu manusia, tumbuhan, maupun hewan dalam hal ini termasuk kucing pasti pernah mengalami sakit. Keadaan sakit pada kucing tentu tidak akan kita ketahui jika kita tidak mengetahui ciri-ciri atau tanda-tanda kucing yang sedang sakit. Lain halnya dengan manusia yang dibekali kemampuan berbicara, kucing tidak bisa mengatakan bahwa dia sedang sakit. Si kucing hanya menunjukkan gejala-gejala sakit, dia juga tidak bisa mengatakan bahwa lehernya gatal, kulitnya gatal, badannya lemas, makan tidak enak dan sebagainya.
Kita sebagai pemilik kucing harus mengetahui tentang tingkat kesehatan kucing kita sendiri dengan cara mengetahui ciri-ciri kucing yang sedang sakit. Ada beberapa ciri dan tanda kucing yang sedang sakit, diataranya adalah :
  1. Suhu tubuh kucing demam, biasanya jika kucing mengalami demam maka kemungkinan besar bahwa si kucing telah terinfeksi bakteri. Demam sendiri diartikan sebagai reaksi atau respon kekebalan tubuh terhadap masuknya benda asing terutama bakteri. Bakteri ini bisa saja menyerang saluran pencernaan, saluran pernafasan, sistem peredaran darah dan lain-lain tergantung jenis bakterinya. Suhu tubuh kucing yang normal adalah sekitar 37-39 derajat C, artinya jika suhu tubuh kucing mencapai 40o maka kucing dinyatakan demam.Untuk pemeriksaan suhu tubuh, biasanya kita mengunakan thermometer yang biasa digunakan oleh manusia, hanya caranya saja yang berbeda, jika pada manusia thermometer dipasang di ketiak atau di leher, pada kucing dipasang di anus. Cara mengukur suhu tubuh kucing adalah masukan thermometer kedalam anus kucing, tunggu beberapa saat dan lalu setelah dirasa stabil dan tidak ada pergerakan air raksa dalam thermometer tersebut maka kita cabut thermometer tersebut dan dilihat angkanya.
  2. Selaput lendir di mata, hidung, mulut memerah atau tepatnya rose, kondisi ini menunjukkan adanya suhu yang meningkat akibat peradangan.
  3. Adanya pembengkakkan kelenjar pertahanan lokal, bisa di kaki depan-belakang, di leher, di daerah mandibula. Ini menunjukkan adanya infeksi di daerah yang dinaungi atau daerah yang berhubungan dengan kelenjar pertahanan lokal tersebut. Biasanya pembesaran limphoglandula akibat adanya luka pada sekitar daerah limphoglandula tersebut. 
  4. Nafsu makan turun atau tidak mau makan sama sekali. Jika nafsu makan kucing turun, ada kemungkinan adanya gangguan di saluran pencernaan atau di daerah mulut kucing terutama gigi. Namun itu tidaklah menjadi patokan, karena pengaruh perubahan pola makan dan jenis pakan juga bisa menjadi penyebab kucing tidak mau makan. Kucing di nyatakan sakit bila pola/jenis makanannya tetap namun kucing tidak mau makan. Kondisi ini jika dibiarkan akan mennyebabkan penurunan berat badan dan penurunan tingkat kekebalan tubuh kucing.
  5. Kucing mengalami lesu, lemah, tidak bergairah, tidak mau bermain, hanya tiduran atau kesemuanya itu disebut kelemahan umum. Kelemahan umum ini sebenarnya lebih berkaitan dengan nafsu makan yang menurun, kucing yang seharusnya mendapat energi yang berasal dari makanan karena tidak mau makan maka kucing menjadai tidak bertenaga.
  6. Anemia pada kucing, ini juga lebih berkaitan dengan makanan, namun ada juga anemia disebabkan karena parasit terutama cacing usus yang menyerap vitamin B kompleks. Kekurangan zat besi (fe) dalam darah dan kekurangan vitamin B komplek akan menyebabkan kucing kekurangan Hb yang berdampak pada keajadian anemia.
  7. Bulu kucing kusam atau sampai mengalami kerontokan. Ini juga merupakan salah satu ciri adanya penyakit pada kucing kita, bisa karena kekurangan vitamin ADE, adanya parasit ( tungau, demodeks, kutu) yang bisa menyebabkan penyakit kulit pada kucing atau bisa juga karena adanya infeksi cacing di dalam usus sehingga bulu kucing menjadi kusam, adanya tumor, atau bisa juga kerontokan bulu kucing disebabkan ketidak keseimbangan hormonal.
  8. Kucing mengalami diare atau mencret, kondisi penyakit ini bisa disebabkan oleh parasit, bakteri, jamur, virus maupun adanya pengunaan obat-obat tertentu yang menyebabkan gerakan periltastik usus meningkat.Disamping kucing mencret, kucingpun bisa mengalami sembelit atau susah buang air besar, biasanya lebih mengarah pada kondisi kurang serat dan kejadian hairball / bola bulu dalam usus kucing.
  9. Kucing mengalami kesusahan membuang urine atau air seni, biasanya ini berhubungan dengan adanya infeksi pada daerah ureter dan uretra kucing di sekitar vesica urinaria atau di daerah ginjal kucing. Urine ini bisa juga dalam bentuk materi yang mengandung darah atau bisa juga urine mengandung protein dan gula yang tinggi.
  10. Kucing mengalami muntah, keadaan ini bisa disebabkan oleh radang lambung, menelan racun atau benda asing, hairball yang menyebabkan obstruksi di usus atau bisa juga faktor alergi makanan.
  11. Kucing mengalami gangguan pada mata, ini bisa disebabkan berbagai sebab yaitu bisa karena konjungtivitis, keratitis, glaukoma dsb. Penyebabnya pun bisa bermacam-macam gangguan fisiologis pada mata kucing, bakteri, virus, ataupun parasit juga bisa mempengaruhinya.
  12. Kucing mempunyai benjolan-benjolan abnormal yang bisa mengarah pada tumor ataupun kanker.
Pada prinsipnya ciri-ciri kucing yang sedang sakit adalah adanya gangguan fungsi organ kucing akibat masuknya zat / materi /organisme pengganggu yang menyebabkan abnormalitas organ. Contoh diatas merupakan bagian kecil dari ciri-ciri dan tanda-tanda kucing yang sedang sakit jika dilihat dari gejala klinis, masih banyak ciri-ciri yang lain seperti kaki kucing pincang, gangguan kulit, gangguan telinga, gangguan sakit mulut dan kerongkongan, denyut jantung yang lambat/cepat, laju pernafasan kucing yang dangkal dsbnya. Namun walau begitu diharapakan bahwa pemilik hewan kesayangan kucing sudah mengetahui secara garis besar bahwa kucing yang sakit jika menunjukkan gejala seperti diatas harus segera di bawa ke dokter hewan terdekat untuk mendapakan pengobatan yang sesuai. 
Demikian mengenai ciri-ciri kucing yang sedang sakit, semoga dapat bermanfaat.

Pengobatan Hairball Pada Kucing

Hairball_Bola Bulu Kucing
Hairball / Bola Bulu Kucing
Hairball pada kucing merupakan suatu keadaan dimana adanya bulu-bulu kucing berbentuk bola di dalam lambung atau di usus perut kucing. Seperti kita ketahui bahwa bulu kucing tidak dapat tercerna oleh usus, sehingga jika kucing menelan bulu karena seringnya menjilati bulunya sendiri maka lambat laun akan menumpuk di dalam perut. Kondisi ini adalah wajar dan tidak masalah jika dalam jumlah yang kecil, namun akan menimbulkan masalah jika dalam jumlah yang banyak dan bola bulu dalam perut kucing membesar akibat adanya akumulasi masuknya bulu ke dalam usus/lambung kucing.
Biasanya, sebagian besar rambut yang tertelan oleh kucing akan dikeluarkan melalui sistem pencernaan kucing dalam tinja nya. Masalah akan terjadi ketika bulu-bulu tersebut tidak bisa diekskresikan/dikeluarkan dan mengumpul/menumpuk di perut atau usus kucing kemudian bulu-bulu tersebut membentuk bola padat dan menyebabkan obstruksi di perut. Yang terjadi kemudian kucing akan mencoba memuntahkan Bola Bulu tersebut keluar dari perut.
Tanda-tanda klinis hairballs pada kucing lebih sering dikaitkan dengan sistem pencernaan seperti kucing mengalami muntah-muntah, kehilangan nafsu makan, dan terjadinya sembelit. Kejadian Hairballs sendiri tidak menyebabkan gejala-gejala pernapasan pada kucing, sehingga tidak muncul gejala sesak nafas ataupun batuk pada kucing penderita hairball. Sebagian besar kejadian impaksi pada kucing adalah akibat adanya benda asing yang terjebak di dalam usus kucing disebabkan oleh bulu kucing yang berbentuk bola padat.
Tanda-tanda lain pada kasus hairball yang parah adalah perut kucing membesar, tidak bisa buang air besar atau bisa juga terjadi diare, muntah-muntah, nafsu makan kucing menurun.
Pengobatan yang sering dilakukan adalah memberikan produk-produk yang bekerja untuk membersihkan dan mengeluarkan bulu-bulu tersebut dari perut kucing. Obat tersebut berfungsi sebagai pelumas sehingga bulu dalam perut kucing mudah keluar melalui tinja. Contoh obat untuk hairball pada kucing adalah Laxaton ataupun catlax. Namun jika bola bulu di dalam perut kucing sangat besar maka tindakan operasi merupakan salah satu pilihan dalam mengatasi hairball tersebut.
Sebelum terjadi hairball pada kucing ada baiknya kita mencegah kajadian tersebut. Ada beberapa langkah pencegahan agar tidak terjadi hairball pada kucing diantaranya adalah :
  • Sering-seringlah menyisir bulu kucing, sehingga bulu yang longgar dan rontok dapat dihilangkan dari tubuh kucing.
  • Ada baiknya mengelap bulu kucing dengan lap basah
  • Mengunakan produk yang dapat mengeluarkan bulu dari dalam perut kucing, contohnya laxative, laxaton, catlax dll. 
Gunakan produk-produk yang dijual  di pasaran yang dapat membantu kucing untuk mengatasi hairball biasanya terdiri minyak yang tidak tercerna oleh usus kucing namun produk tersebut aman untuk digunakan dan tidak menimbulkan masalah di perut kucing. Produk tersebut bekerja sebagai pelumas di saluran pencernaan kucing untuk membantu agar bulu mudah keluar dari perut kucing. Jika hal ini dilakukan secara rutin, maka bola bulu tidak pernah terbentuk.
Kami tidak menyarankan Anda menggunakan produk buatan sendiri yang mengandung mentega atau minyak, karena hal tersebut bisa membawa masalah pencernaan lain atau diserap oleh sistem pencernaan kucing. 
Diet tinggi serat atau suplemen serat juga dapat membantu dengan masalah hairball kronis. Serat dapat membantu mengeluarkan bulu berlebih melalui sistem pencernaan kucing dan akan dikeluarkan melalui tinja. Apapun produk yang Anda pilih, menggunakannya secara teratur, sesuai dengan rekomendasi pabrikan, untuk mencegah terulangnya hairball.
Demikian semoga dapat bermanfaat.

Makanan Kucing Yang Menyebabkan Alergi

Alergi pada kucing dapat disebabkan oleh faktor makanan, tidak terkecuali terhadap kucing jantan atau betina, dikebiri atau tidak di kebiri, kucing dewasa atau kucing masih kecil (anak kucing). Alergi makanan pada kucing akan menunjukkan gejala yaitu adanya rasa gatal pada kulit kucing. Reaksi dari makanan yang menyebabkan alergi adalah adanya pemicu menaikan histamin dalam tubuh kucing, nutrisi makanan tersebut ditolak oleh tubuh kucing dan dianggap benda asing. 
Contoh makanan yang dapat menyebabkan alergi pada kucing adalah daging sapi, daging domba, ikan laut atau hewan laut lainya (seefood), jagung, kedelai dan produk susu. Seperti halnya manusia, alergi lebih bersifat individual artinya tidak semua kucing akan mengalami alergi jika makan makanan tersebut, hanya kucing yang sensitif yang bisa menimbulkan gejala alergi.
Gejala alergi pada kucing akibat makanan hampir mirip dengan gejala alergi yang ditimbulkan akibat parasit, bakteri, hypersensitif parasit usus, jamur, kudis atau zat lain yaitu adanya rasa gatal pada tubuh kucing. Gejala ini bisa menimbulkan bulu-bulu yang rontok akibat kucing mengaruk berlebihan. Untuk membedakannya sangat sulit, yang bisa dilakukan adalah uji coba makanan yang bisa menyebabkan rasa gatal tersebut.
Pengobatan yang paling manjur untuk alergi pada kucing karena makanan adalah tidak memberikan makanan yang berpotensi menyebabkan alergi. Tanpa pemberhentian makanan yang menyebabkan alergi tersebut maka pengobatan seperti dexametason akan sia-sia belaka.

Penyebab Kerontokan Pada Bulu Kucing

Kondisi kerontokan pada bulu kucing sering disebut dengan alopecia atau kebotakan. Keadaan ini adalah masalah umum yang biasa terjadi pada kucing. Bulu kucing dapat rontok secara parsial / sebagian atau total, dapat terjadi dengan pola yang bervariasi ataupun simetris.
Tanda-tanda ataupun ciri-ciri adanya kerontokan pada kucing  ditunjukkan adanya kemerahan pada area kulit yang mengalami kerontokan, adanya benjolan, namun kadang-kadang juga tidak menunjukkan adanya perubahan pada bulu dan kulit di sekitar daerah yang mengalami kerontokan tersebut.
Penyebab kerontokan bulu kucing beraneka ragam, bisa karena adanya gangguan hormonal, tingginya kadar tiroid dalam tubuh kucing, peningkatan steroid juga bisa memicu kerontokan bulu kucing, kekurangan vitamin ADE juga dapat menyebabkan kerontokan bulu kucing atau bisa juga disebabkan adanya parasit pada kulit seperti penyakit scabies, kurap, kudis, gudik dan jamur pada kucing. Penyakit kulit pada kucing secara umum dan pasti menyebabkan kerontokan bulu pada kucing yang terinfeksi. Disamping itu ada juga kerontokan bulu akibat kanker yang menyerang kucing, biasanya obat-obat kanker juga merupakan penyebab kerontokan bulu kucing.
Pengobatan untuk mengatasi kerontokan harus disesuaikan penyebabnya, walaupun kadang-kadang sangat sulit untuk diobati, terutama kerontokan bulu karena kanker dan gangguan hormonal. Sedangkan pengobatan kerontokan bulu akibat penyakit kulit karena parasit lebih mudah untuk di obati.  
Kemudian untuk pencegahan kerontokan bulu kucing sampai saat ini belum ditemukan metode yang pasti untuk hal itu. Kita hanya bisa menjaga kwalitas pakan tetap baik untuk menjamin kecukupan protein, asam amino, vitamin dan mineral serta menjaga agar kucing tidak terkena penyakit kulit. Ini dilakukan karena ketidakseimbangan hormonal berkorelasi positif terhadap kwalitas dan kwantitas pakan kucing.
Demikian semoga bermanfaat.

Cara Merawat Bulu Kucing Agar Indah

merawat bulu kucing
Pengetahuan cara merawat bulu kucing baik itu kucing persia ataupun anggora harus diketahui para pemiliknya. Dengan merawat bulu kucing tersebut diharapkan agar bulu kucing persia/anggora nampak lebih bagus dan indah, sehingga enak untuk dibelai dan dilihat oleh siapapun.
Bulu Kucing yang bagus dan indah sudah seharusnya dirawat oleh pemiliknya terlebih pada kucing jenis anggora dan persia. Secara umum bagi pemilik kucing, adanya bulu di sofa atau dikursi adalah suatu hal yang biasa, namun jika sudah terlalu berlebihan adanya bulu-bulu tersebut maka kita patut curiga bahwa telah terjadi kerontokan bulu pada kucing kita. Untuk itu diperlukan pengetahuan cara merawat bulu kucing tersebut.
Berikut ini adalah cara merawat dan memelihara agar bulu kucing tetap indah ;
  1. Berilah asupan gizi yang seimbang, termasuk kwalitas dan jumlah makanannya. Adanya kekurangan vitamin maupun asam amino pada kucing bisa menyebabkan bulu kucing menjadi kusam dan dapat menyebabkan kerontokan.
  2. Sisirlah bulu kucing sesering mungkin. Dengan menyisir bulu kucing, maka kita telah melakukan terapi pada kulit kucing agar peredaran darah dibawah kulit menjadi lancar, disamping itu dengan menyisir bulu kucing maka bulu kucing yang longgar akan hilang terbawa sisir tersebut. Cara menyisir bulu kucing yang baik adalah pertama, sisirlah dengan arah berlawanan dari alur bulu, lakukan perlahan-lahan agar kucing tidak kesakitan pada bulu-bulu yang kusut. Kemudian sisirlah sesuai dengan alur bulu untuk merapikan bulu kucing tersebut.
  3. Jika bulu kucing kotor maka lebih baik segera untuk dimandikan, minimal seminggu sekali. Sebagian besar kucing akan sulit untuk dimandikan, karena kebanyakan kucing takut dengan air ini merupakan sifat alamiah dari kucing itu sendiri. Secara alamiah tanpa bantuan manusia, kucing membersihkan bulunya dengan menjilat-jilat tubuhnya sendiri, namun hal ini bisa membawa dampak buruk, seperti ikut tertelannya bulu ke dalam perut kucing dan lama kelamaan bisa menyebabkan penumpukan di usus kucing dan menyebabkan sakit perut pada kucing tersebut. Untuk itu kita perlu membantu membersihkan bulu kucing dengan cara memandikannya. Untuk memandikan kucing pilihlah shampo yang cocok untuk kucing, karena ada beberapa kucing yang tidak cocok pada jenis shampo tertentu. Ini mungkin disebabkan kulit kucing tersebut sensitif terhadap shampo tertentu, sehingga mencoba-coba sampo yang cocok untuk kucing yang sensitif sangat dianjurkan untuk mencari sampho yang sesuai.
  4. Perlunya pengendalian kutu dan pinjal di lingkungan rumah. Pinjal dan kutu merupakan penyebab rasa gatal pada kulit kucing dan bisa menyebabkan kerontokan bulu pada kucing. Untuk membasmi kutu dan pinjal dilingkungan maka lakukan pembersihan secara rutin di area-area sempit di ruangan atau rumah kita. 
  5. Untuk pencegahan pada tubuh kucing agar tidak terkena kutu maka berilah obat anti kutu secara berkala paling tidak 2 bulan sekali, contohnya fronline spot on for cat.
Demikian beberapa cara merawat bulu kucing agar nampak indah dan bagus. Semoga bermanfaat.

Cara Membasmi & Mengobati Cacing Pada Kucing

Mengobati cacingan pada kucing tidak hanya terlepas dari hewan peliharaan tersebut menunjukkan tanda-tanda / gejala cacingan, tetapi merupakan suatu cara yang terprogram secara rutin. Perlu diingat bahwa makanan kucing tidak sepenuhnya terbebas dari telur cacing, termasuk juga lingkungan dan kandangnya. Kebiasaan kucing yang selalu menjilat-jilat juga bisa menjadi faktor terjadinya kasus cacingan. 
illustrasi pakan kucing mengandung cacing
Parasit dalam hal ini cacing jika dibiarkan saja, akan menimbulkan kerugian ekonomis dan kesehatan bagi kucing itu sendiri. Kerugian ekonomis adalah nilai pakan yang diberikan tidak sesuai dengan kadar nutrisi yang diserap oleh usus kucing.
Kemudian kerugian kesehatan bagi kucing karena cacing akan menimbulkan tanda-tanda cacingan pada kucing itu sendiri, seperti ; kurus, diare encer sampai berdarah, bulu kusam, kucing mudah terserang penyakit, tubuh kucing tidak tumbuh secara normal dan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, kucing dapat mengalami anemia atau kekurangan darah, kucing bisa mengalami kekurangan protein-mineral-asam amino, produktifitas dari organ reproduksi kucing terganggu dan gangguan hormonal pada kucing. Melihat kerugian yang ditimbulkan oleh parasit cacing tersebut maka langkah yang harus ditempuh untuk membasmi cacing adalah memberikan obat cacing pada kucing secara teratur.
Pemberian obat cacing pada kucing secara terprogram dan rutin akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan dan pertumbuhan kucing itu sendiri. Fungsi-fungsi organ terutama usus kucing yang berguna sebagai penyerap makanan akan bekerja dengan baik tanpa hambatan. Dengan adanya penyerapan makanan yang baik maka nutrisi akan terserap secara sempurna ke dalam tubuh.
Untuk melaksanakan program pengobatan cacing haruslah disesuaikan dengan siklus hidup cacing, mulai dari telur sampai cacing itu dewasa. Beberapa obat cacing mampu membunuh telur cacing, namun tidak sedikit juga obat cacing yang tidak bereaksi dalam membasmi telur cacing. Pengobatan pada stadium telur cacing merupakan hal yang sulit, untuk itu setiap pengobatan cacing yang paling efektif adalah pada saat stadium larva sampai cacing dewasa. Setiap jenis cacing mempunyai siklus hidup yang berbeda-beda, sehingga untuk program pencegahan cacingan pada kucing lebih baik mengunakan obat cacing yang mempunyai spektrum luas contohnya albendazole, fenbendazole, flubendazole, mebendazole, oxfendazole, febantel dan  obat cacing lainya. 
Pemberian obat cacing dengan periode 2-3 bulan sekali akan membantu dalam hal pencegahan cacingan pada kucing ataupun hewan lainnya. Untuk itu saya mengajak para pecinta kucing dan hewan kesayangan untuk melakukan pemberian obat cacing secara rutin demi kesehatan kucing kita sendiri.
Kemudian untuk kucing yang mengalami kasus cacingan yang hebat maka disarankan untuk melakukan pengobatan secara kontinyu yaitu selama 3 sampai 5 hari dengan dosis sesuai jenis zat kandungan obat cacingnya. Contohnya untuk obat cacing albendazole memiliki dosis 2-3 mg/kg BB, fenbendazole 3-5 mg/kg BB, oxbendazole 2-3 mg/kg BB dsb.
Demikianlah cara membasmi dan mengobati cacing pada kucing, semoga bermanfaat.

Support : DMCA Protection | Penyakit Hewan
Copyright © 2013. PENYAKIT HEWAN - All Rights Reserved
Kontak Kami
Template Modify by PENYAKIT HEWAN
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger